09 Juli 2012

Bertaqwa Setiap Saat di Segala Tempat


Oleh Muhammad Salim At-Tohiry

Alhamdulillah, sekarang sudah memasuki tanggal 20 Sya’ban, yang artinya kita sudah semakin dekat dengan Ramadhan yang penuh berkah. Ya, tersisa 10 hari lagi. Semoga Allah memanjangkan umur kita dan diberi kesempatan untuk meraup keuntungan akhirat di bulan turunnya Al-Qur’an ini.
 
Tak bisa dipungkiri ketika bicara bulan Ramadhan, maka kita akan begitu sering mendengar ayat puasa. Ayat yang sudah tidak asing, sering dibacakan, diperdengarkan, bahkan mungkin kita pun sudah menghafalnya. Adalah surah Al Baqarah ayat 185 yang penulis maksud. Berikut penulis kutipkan teks dan terjemahnya;

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Tak ayal, setiap orang beriman begitu semangat dalam menjalankan kewajiban puasa di bulan ini. Tak peduli disaat puasa perut terasa perih karena kosong tak berisi. Kita juga terlalu ambil pusing meski tak sahur, dan kita tetap berani ambil resiko menjalan kefardhuan puasa di bulan Ramadhan. Apalagi kalau cuma ejekan temen, itu tak menjadi pertimbangan sama sekali.

Saat ditanya, kenapa mau melakukan itu padahal puasa itu kadang tak jarang membuat kepala pusing? Sering jua membuat badan kita lemas tak bertenaga? Kenapa? Maka akan banyak jawaban, dan dari semua jawaban akan ditemui satu jawaban besar, kita meyakini bahwa itu adalah perintah Allah, dan perintah Allah tak boleh ditentang dan wajib ditaati. Termasuk puasa Ramadhan.

Kita bahagia mendengar jawaban itu, dan sangat senang ketika orang beramai-ramai membaca ayat Al Qur’an dan mengamalkannya. Dan kita juga tahu bahwa tujuan puasa di bulan Ramadhan –seperti tertera di dalam firman Allah— adalah agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Karena manusia bertaqwa adalah manusia yang paling mulia disisi Allah SWT diantara semua manusia dari suku dan bangsa yang telah diciptakan oleh Allah SWT.


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuurat: 13)

Taqwa yang Sebenarnya

Penggunaan kata taqwa sudah sering kita dengar di dalam khutbah jum’at. Para khatib akan mengajak dan menyeru para jemaah agar menjadi orang yang bertawqa, yakni menjadi orang yang menjalan setiap perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Dari pengertian sederhana ini, ada dua sisi penting di dalam kata taqwa. Pertama, menjalankan perintah Allah SWT, dan yang kedua adalah menjauhi setiap apa yang dilarang oleh Allah SWT. Maka, tak bisa dikatakan bertaqwa orang yang tak mau melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan. Dan juga tak dikatakan bertaqwa mereka yang menentang dan mengabaikan larangan Allah SWT. Karena taqwa itu sendiri adalah konsekuensi dari keislaman kita, dimana islam menuntut kita untuk pasrah dan tunduk kepada ketentuan Allah, dan karena kita adalah hamba yang diciptakan dan hidup untuk beribadah kepada-Nya.

Penulis rasa, tak ada seorang muslimpun yang menentang hal ini, dikarenakan ini sudah menjadi ma’lum min al-diini bi dharurah, sesuatu yang diketahu secara umum oleh kaum muslimin. Lebih dari itu, Allah sendiri yang menerangkan kepada Rasulullah SAW bahwa tidak dikatakan sebagai orang yang beriman jika tak mau bertahkim, menjadikan perintah dan larangan Allah dan Rasulnya sebagai standar dalam memutuskan suatu perkara.
Ÿ  
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa’: 65)

Di dalam ayat ini, begitu terang bagaimana keimanan tak bisa hanya sekedar pengakuan mulut semata, namun ia menuntut kepada ketundukan dan kepatuhan kepada Allah beserta Rasul-Nya. Penerimaan ini harus dengan kepasrahan dalam jiwa dengan sebenar-benar pasrah.

Yang menjadi problem saat ini adalah, pemahaman sebagian kaum muslimin terhadap perkara ini sudah sedemikian rendah. Bahkan hampir-hampir tak mengenalnya lagi sebagai bagian dari keimanan. Mereka mengambil sebagian dari syari’at Islam, menjalankan perintah yang mereka mau jelankan, dan meninggalkan yang juga mereka ingin tinggalkan. Jika mereka ingin melanggar perintah dan larangan Allah mudah saja bagi mereka.

Tiga Tipe Muslim Tidak Taat

Tentu bagi kita tak serta merta langsung menyalahkan mereka salah –meski itu memang salah—, namun harus kita pahami keadaan mereka terlebih dahulu apa sebabnya, baru kemudian kita tentukan sikap kita kepada mereka. Menurut penulis, ada beberapa tiga tipe dengan masing-masing alasan kaum muslimin menjadi melanggar perintah dan larangan Allah.

  • Mereka tidak tahu
Menurut penulis, kelompok kaum muslimin yang tidak mengamalkan syari’at islam karena tidak tahu hanyalah korban. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang begitu besar cintanya kepada Allah, Rasul, dan Islam, hanya saja pengetahuan mereka terhadap syari’at yang membuat mereka terhalang dari mengamalkan islam dengan sempurna. Biasanya mereka adalah orang-orang yang nurut kepada tokoh dan pembesar serta dianggap berkompeten dibidang agama. 

Untuk kasus ini, yang salah tentu saja mereka yang tahu tapi tak memberi tahu. Memahami keadaan seharusnya, namun diam saja tak mengusahakan realisasinya. Yang salah adalah kita, jika kita hanya diam tak melakukan apa-apa, dan penanggung dosa adalah orang yang bisu tak bicara disaat ada sebagain saudaranya berada dalam ketidak tahuan akan agama.

  • Mereka tahu, hanya saja merasa tak mampu menjalankan.

Dengan berkelit lidah mereka berhujjah bahwa Islam itu mudah, dan Allah tak membebani hukum diluar batas kemampuan manusia. Golongan ini menganggap mereka tak salah karena punya jaminan berupa ayat ke-286 dari surah Al-Baqarah. Di dalam ayat ini Allah berfirman:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Apakah ayat ini salah? Tentu saja tidak. Yang rusak itu cara memahaminya. Kesalahan paling mendasar dari kelompok ini, mereka mengira batas kemampuan yang dimaksud adalah dalam pandangan masing-masing manusia, sehingga ketika seseorang “merasa” tak mampu menurut mereka maka tak mengapa untuk tak menjalankan apa yang seharusnya dilaksanakan.

Sebagai contoh, mereka tidak mau meninggalkan riba’ karena itu adalah sumber pendapatan utama mereka, kemudian beralasan, “kalau kami tinggalkan riba’, lalu kami makan apa? Bagaimana dengan anak dan istri kami? Apa mau mereka kelaparan? Padahal islam itu mudah, dan riba’ tidak mengapa jika hanya sedikit, lebih-lebih dalam keadaan terpaksa. Bukankah Allah tidak membebani sesuatu di luar batas kemampuan hamba?”

Atau contoh lain, seorang wanita yang tidak mengenakan jilbab memberi bantahan ketika dinasihati untuk menutup auratnya, “saya sebenarnya ingin menutup aurat, hanya saja saya belum siap. Saya tidak mampu untuk menanggung ejekan dari teman-teman, apalagi kalau berjilbab akan membuat aktivitas saya terganggu. Dan ini menyulitkan. Tidak berjilbabnya saya tidak bisa dikatakan salah, karena islam itu memberikan kemudahan bagi penganutnya!”

Bisa pula, dengan dalil Al Baqarah 286 itu kelompok ini menganggap tidak masalah melanggar sebagian nash syara’ jika itu mendatangkan maslahat menurut akal mereka. Pemahaman yang terakhir ini diwakili oleh kelompok pragmatis, menuhankan tujuan –meski baik— dan menghalalkan segala cara demi mencapainya. Na’dzubillah min dzalik

Semua ini adalah pemahaman yang keliru dan jauh dari kebenaran. Menjadikan akal manusia untuk menentukan mampu atau tidaknya manusia dalam mengamalkan syara’ adalah sebuah kekeliruan terbesar. Seharusnya mereka memahami bahwa setiap perintah dan larangan yang telah Allah turunkan itu pasti bisa dilaksanakan. Tentu saja Allah sudah mengukur dan mengetahu kemampuan manusia, sehingga Allah menetapkan syari’at yang bisa ditunaikan oleh manusia.

Allah menyuruh kita berpuasa, itu artinya kita mampu untuk berpuasa. Allah menyuruh kita shalat, hal ini menunjukan manusia itu kuasa untuk menegakan shalat. Atau, Allah mewajibkan manusia untuk tidak memakan yang haram juga karena itu berada dalam kemampuan manusia. Begitu seharusnya memahami perintah dan larangan Allah. Adapun kondisi manusia yang dianggap tidak mampu dan berhak memperoleh rukshah (keringan) pun juga harus merujuk kepada ketentuannya Allah SWT. Bukan akal manusia.

  • Mereka tahu, mereka juga merasa mampu, hanya saja menurut mereka sebagian syari’at Islam sudah tak relevan dengan zaman. 

Mereka menganggap Islam hanya sebagai ajaran yang lebih mengedepankan spritualitas, hanya mengajarkan cinta, kasih, berbudi pekerti. Adapun ayat dan hadits yang berbicara dalam ranah praktis dan dianggap bertentangan dengan semangat keberagaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan kesetaraan,  harus ditafsir ulang agar sesuai dengan yang diinginkan. 

Inilah kelompok sekuler dan liberal dari kalangan kaum muslimin. Pada hakikatnya kelompok yang berpaham seperti ini adalah kaum munafikin yang berusaha merusak islam, mulai pondasi hingga cabangnya. Ketika islam mengharamkan orang kafir sebagai pemimpin kaum muslimin, maka mereka ada di garda terdepan untuk menentang dan mereduksi pamahaman kaum muslimin. Begitu pula dalam kasus adanya aliran sesat, maka golongan ini akan membela dan mendukung eksistensi kesesatan dengan alasan kebebasan beragama dan hak asasi manusia. Akhirnya kemudian, setiap yang menyeru manusia untuk taat kepada Allah disetiap tempat dan waktu, tak pilih-pilih terhadap nash, dianggap sebagai aliran keras, fundamentalis, radikal, dan istilah-istilah lain.

Sebenarnya ada satu lagi golongan yang mereka tahu, mereka merasa mampu, namun karena nafsu saja mereka melanggar perintah Allah, dan mereka sadar bahwa mereka berdosa. Untuk golongan ini, hanya hidayah Allah lah yang akan menyelamatkan mereka.

Menggapai Ridha Allah dengan Bertaqwa

Seperti yang telah penulis uraikan, bahwa Allah lah penentu segala sesuatu. Allah yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan ini, dan Allah Maha Mengetahui apa yang baik dan buruk bagi manusia. Begitu pula, Allah –dengan kebijaksanaan-NYa— menetapkan suatu perintah dan larang bagi manusia karena hanya Dia yang mengerti tentang manusia. Keyakinan ini harus ditanamkan dalam keimanan kita, jangan sampai tidak.

Keimanan kita kepada Allah, Al-Qur’an dan Rasul, mengharuskan kita untuk menerima begitu saja setiap yang bersumber dari ketiganya. Karena memang iman menuntut yang demikian. Keimanan kepada syari’at Islam tidak cukup dilandaskan kepada akal semata, namun juga harus disertai sikap penyerahan total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala yang datang dari sisi-Nya. (lihat kembali Surah An-Nisa’ ayat 65)

Ketika seorang muslim telah memahami seperti ini, maka ia akan memecahkan segala problem yang dihadapinya dengan syari’at Islam sehingga ia memahami bahwa islam tak sekedar “agama masjid”, namun juga islam sebagai sebuah idelogi. Dimana ia menjadikan syara’ sebagai panduan dalam setiap aktivitas manusia. Karena ia tahu, islam bukan sekedar informasi tanpa implementasi.. Pandangan semacam inilah yang menjadi dasar berdirinya hadharah islam, suatu peradaban yang berasaskan kepada mabda’ islam, sebuah kehidupan yang unik.

Tolok ukur perbuatan seorang mukmin adalah ketentuan Allah. Ia sami’na wa atha’na terhadap yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Dan ketaatan ini akan diwujudkan dalam setiap keadaannya, dimana saja dan kapan saja. Karena ia tahu, Allah Maha Melihat sehingga ia tak berani melanggar syara’ yang Allah berikan.

Orang beriman akan memandang hidup adalah dalam rangka menabung pahala yang akan dicairkan kelak di hari kiamat. Karena ia tahu Allah menciptakan manusia hanya untuk beribadah. Ia mengerti benar makna ibadah dan bagaimana wujud ibadah itu tampak dalam hidupnya. Kaum Mukminin tak pilah pilih terhadap nash syara’, semua diambil dan dilaksanakan, karena ia juga tahu bahwa kufur kepada sebagian ayat di dalam kitab suci, sama saja dengan kufur kepada sebagian ayat yang lain.

Dia akan menjalankan puasa Ramadhan dengan penuh semangat, karena telah jelas di dalam Al-Qur’an kewajibannya, serta telah banyak hadits yang menggambarkan keutamaannya. Begitu pula, tidak akan berani orang beriman untuk tarkus shalah karena ia yakin bahwa shalat perintah dari Allah SWT. Bagitu pula seharusnya, seorang mukmin akan menjauhi riba’, tak akan mendekati –apalagi melakukan— zina, dan bersama-sama kaum muslimin yang lain melakukan amar ma’ruf dan nahi ‘anil mungkar, serta bersama penguasanya ia berjihad memerangi orang kafir, menjalankan hukuman potong tangan bagi pencuri, qishash bagi pembunuh, rajam bagi pezina, dan bersatu di bawah satu bendera dan negara “laa ilaha illallah”.

Penutup

Semua hukum-hukum Islam akan ditegakan oleh orang beriman, baik itu menyangkut urusan dirinya dengan Allah, dengan dirinya sendiri, ataupun menyangkut urusan dirinya dengan orang lain. Ia akan memperjuangkan tegaknya hukum Allah di muka bumi, meski harus mempertaruhkan nyawa, apalagi jika hanya sekedar uang dan pikiran. Karena ia sangat sadar, apa yang ada dan dimiliki di dunia ini adalah fana. Ssedangkan semua yang dilakukan pernah di lakukan manusia dunia akan diminta pertanggung jawaban.

Dan orang bertaqwa sangat takut jika Allah murka kepadanya, tidak ridha kepadanya, karena keberanian dirinya melalaikan dan mengabaikan syari’at Islam saat hidup di dunia. Tak mau menuntut ilmu, tak mau mengamalkan, tak mau mendakwahkan,. Padahal keridhaan Allah adalah puncak kebahagian bagi orang beriman lagi bertaqwa.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (TQS. Al-Bayyinah: 5-8)

Dan dengan keimanan dan amal shalih yang menjadi habbits, kita semua berharap termasuk menjadi bagian orang-orang terbaik yang diridhoi di sisi Allah SWT dan diberi balasan surge ‘Adn, bukan sebaliknya, menjadi seburuk-buruk makhluk yang kekal di dalam neraka karena kufur dan tak patuh kepada Allah. Semoga! []

Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 09.30
Kategori:

0 komentar :

Posting Komentar

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus