04 Juli 2012

Benarkah Islam itu Ideologi?


Oleh Muhammad Salim At-Tohiry

Beberapa kali penulis ketemu dengan pertanyaan yang meragukan kebenaran bahwa islam adalah ideologi. Tidak jarang, yang penulis temui juga adalah mereka yang menolak islam sebagai ideologi. Adapun alasannya hampir sama –meski bisa jadi berbeda—, baik yang mempertanyakan maupun yang menyanggah, membangun logikanya diatas premis “ideology adalah hasil pemikiran manusia”.  Ada yang bertanya, “bukan kah ideologi itu hasi pemikiran manusia? Sehingga kalo islam dianggap sebagai ideologi, ini artinya kita menganggap islam sebagai buah pikiran manusia?” Atau, ungkapan yang menyatakan, “islam itu buka ideologi, tapi ia adalah agama wahyu, dia adalah diin yang dibawa oleh nabi Muhammad”, dan kemudian menyimpulkan, “Oleh karena itu, kesalahan besar jika menganggap islam sebagai ideology karena ideology itu adalah kumpulan ide, sedangkan ide sendiri merupakan hasil pemikiran manusia.”

Sekali lagi, pertanyaan dan pernyataan diatas dibangun diatas premis bahwa ideologi itu hasil pemikiran manusia. Pada kesempatan ini penulis mencoba berusaha memaparkan pemahaman penulis dalam polemik ini. Untuk itu, harus kita susun rumusan masalah yang akan dibicarakan. Dalam tulisan ini, penulis akan menggunakan metode induktif dalam memberikan penjelasan. Kita akan merunutnya dari permasalah paling dasar hingga bisa menarik kesimpulan serta jawaban, “benarkah islam itu ideology”?!

Hal-hal yang mesti dipahami sebelum melakukan penarikan kesimpulan, diantaranya adalah, apa ideology itu? Benarkah ideology itu hasil pemikiran manusia? Barulah kita temukan jawaban, apakah islam itu ideology? Insya Allah kita akan membedahnya satu per satu, semoga Allah memberikan kemudahan dan meridhoi. Aamiin!

Ideologi? Apa itu?

Ketika penulis mengatakan kata “kursi”, penulis yakin bahwa pembaca seketika akan membayangkah sebuah benda yang digunakan untuk duduk, dan tidak mungkin membayangkan alat transportasi udara. Begitu juga ketika pembaca menemukan kata “lampu”, maka dalam benar pembaca akan terbayang sebuah benda yang bisa memancarkan cahaya dan digunakan sebagai penerangan. Dua contoh ini menunjukan bahwa, kita bisa memahami setiap kata yang kita dengar karena kita telah mempunyai informasi tentang kata itu dengan baik. Jika tidak, maka akan menyebabkan kesalahan dalam membuat sebuah gambaran tentang kata itu sendiri.

Anggapan bahwa ideologi adalah hasil pemikiran manusia, atau yang semacam dengan ungkapan ini, pernah penulis miliki ketika dulu baru masuk kuliah. Saat itu dalam sebuah rapat acara, dibicarakan tema acara dimana ada prosa “islam ideologis” yang artinya islam yang bersifat sebagai ideologi. Karena saat itu ada ghirah untuk memuliakan islam, Alhamdulillah, –dengan pengetahuan seadanya— maka penulis menentang penggunaan istilah ideologis terhadap islam. Argument penulis waktu itu, ideologi itu tersusun dari kata idea dan logos (seperti bios dan logos dalam bangunan kata biologi), yang masing-masing berarti ide/pemikiran dan ilmu/pengetahuan. Karena ide itu adalah hasil akal manusia, maka ideologi merupakan sebuah pengetahuan yang dibuat oleh manusia. Sedangkan islam adalah agama wahyu. Begitulah kira-kira waktu itu argument penulis!

Agar tidak terjadi kekaburan, alangkah baiknya kita menyepakati apa definisi ideologi. Dalam hal ini, para pakar memberikan definisi yang berbeda, namun jika ditarik sebuah garis lurus semuanya memiliki makna yang sama. berikut definisi ideologi yang penulis kutip dari Wikipedia, silahkan melakukan re-ceck untuk setiap sumber yang diberikan.

Kata ideologi diciptakan oleh Destutt de Tracy,  pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan "sains tentang ide". Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu secara umum dan beberapa arah filosofis, atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Adapun definisi lain menurut para ahli:
  • Gunawan Setiardjo :
Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan atau aqidah 'aqliyyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan.
  • Destutt de Tracy:
Ideologi adalah studi terhadap ide – ide/pemikiran tertentu.
  • Descartes:
Ideologi adalah inti dari semua pemikiran manusia.
  • Machiavelli:
Ideologi adalah sistem perlindungan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa.
  • Thomas H:
Ideologi adalah suatu cara untuk melindungi kekuasaan pemerintah agar dapat bertahan dan mengatur rakyatnya.
  • Francis Bacon:
Ideologi adalah sintesa pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup.
  • Karl Marx:
Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.
  • Napoleon:
Ideologi keseluruhan pemikiran politik dari rival–rivalnya.
  • Muhammad Ismail:
Ideologi (Mabda’) adalah Al-Fikru al-asasi al-ladzi hubna Qablahu Fikrun Akhar, pemikiran mendasar yang sama sekali tidak dibangun (disandarkan) di atas pemikiran pemikiran yang lain. Pemikiran mendasar ini merupakan akumulasi jawaban atas pertanyaan dari mana, untuk apa dan mau kemana alam, manusia dan kehidupan ini yang dihubungkan dengan asal muasal penciptaannya dan kehidupan setelahnya!
  • Dr. Hafidh Shaleh:
Ideologi adalah sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi rasional (aqidah aqliyah), yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Pemikiran tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode untuk mengaktualisasikan ide dan solusi tersebut, metode mempertahankannya, serta metode menyebarkannya ke seluruh dunia.
  • Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir:
Mabda’ adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Atau Mabda’ adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah dan thariqah.

Tambahan definisi ideologi dari kamus besar bahasa Indonesia versi Android. Dimana dinyatakan bahwa ideologi berarti kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan utn kelangsungan hidup. (bisa juga dilihat di sini)

Atau dalam konteks politik ideologi merupakan sistem kepercayaan yg menerangkan dan membenarkan suatu tataan politik yg ada atau yg dicita-citakan dan memberikan strategi berupa prosedur, rancangan, instruksi, serta program untuk mencapainya; bisa juga berarti himpunan nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan yg dimiliki seseorang atau sekelompok orang yg menjadi dasar dl menentukan sikap thd kejadian dan problem politik yg dihadapinya dan yg menentukan tingkah laku politik; (lihat disini dengan kata pencarian “ideologi”).

Disini terlihat jelas bahwa ideologi adalah sebuah visi kompleks yang digunakan sebagai sebuah sudut pandang, serta sebuah tujuan filosofis. Dengan kata lain, ideologi melahirkan gagasan tertentu sebagai jawaban saat melihat realitas factual. Jawaban ini lahir untuk menjadi solusi terhadap semua problem yang dihadapi manusia dari cara berfikir tertentu. Jika kita analogikan, ideologi itu ibarat sebuah pohon yang memiliki cabang dan ranting, serta buah, dimana kesemuanya ada dan tumbuh dari sumber yang sama, yakni akar. Begitu pula ideologi, ia mempunyai sebuah asas/pondasi yang dari asas ini lahir kemudian berbagai macam pemikiran dalam menjawab setiap problem yang dihadapi oleh manusia didunia ini.

Asal Lahirnya Ideologi

Pertanyaan lanjutan setelah memahami definisi ideologi, apakah ideologi itu hanya lahir dari kepala manusia saja? Ataukah mungkin saja lahir dari selain itu?

Jika kita amati dengan baik definisi ideologi diatas, tidak kita temukan satupun pendapat yang mengharuskan ideologi lahir dari akal manusia. Semuanya bicara dalam definisi yang umum, yakni sebagai sebuah pemikiran mendasar yang melahirkan sebuah aturan bagi kehidupan manusia. Oleh karenanya, tidak tepat jika mengatakan bahwa ideologi itu hanya lahir dari otak manusia saja. Yang lebih tepat adalah ideologi bisa lahir dari akal manusia, bisa juga dari wahyu Allah SWT.

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani –rahimahullahu- dalam karya beliau An-Nidzom Al-Islami, atau dalam judul terjemah Peraturan Hidup Dalam Islam yang merupakan kitab kajian pertama Hizbut Tahrir. Di dalam bab Qiyadah Fikriyah, ketika membahas tentang mabda’ (ideologi), beliau menyatakan bahwa ideologi itu bisa saja lahir dari kejeniusan seseorang –terlepas salah atau benarnya—, bisa juga ideologi itu lahir dari wahyu. (kitab ini dan kitab-kitab lain bisa pembaca download di kumpulan ebook pemikiran islam kaffah)

Yang dimaksud ideologi lahir dari kejeniusan akal menusia adalah bahwa pemikiran cabang dari ideologi ini dirumuskan oleh akal manusia semata. Akal menentukan bagaimana cara mengentaskan kemiskinan, meraih kekayaan, memenuhi kabutuhan jasmani dan naluri manusia, mengurus Negara serta urusan manusia lainnya. Adapun ideologi yang lahir dari wahyu merupan sebuah ideologi yang melahirkan sebuah aturan hidup manusia yang digali dari wahyu Allah SWT. Mengelola sumber daya alam, membangun dan menjaga, serta menjalankan fungsi-fungsi Negara dan pemerintahan, menyebarkan islam, menghukum pelaku kejahatan, dan semua metoda pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani dan naluri manusia digali dari wahyu di dalam Al-Qur’an dan Sunnah nabawiyah.

Lalu, Apakah Islam adalah Ideologi?

Al-Ustadz Dr. Samih Athif Az-Zain, seperti yang dikutip oleh Al-Ustadz Hafidz Abdurrahman, MA dalam buku Islam Politik dan Spiritual, mendefiniskan Islam sebagai sebuah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW untuk mengatur urusan manusia dengan Allah SWT, manusia dengan dirinya sendiri, dan mengatur urusan menusia dengan manusia yang lain.

Dari pengertian ini, islam mengandung 3 dimensi ajaran. Pertama, Aturan tentang Manusia dengan Allah SWT. Tercakup dalam dimensi ini adalah permasalahan yang berkaitan dengan ajaran dan aktifitas ibadah yang secara khusus telah ditetapkan, yakni mencakup Aqidah dan Ibadah. Dimensi kedua adalah ajaran tentang urusan manusia dengan dirinya sendiri. Dimensi berbicara tentang bagaimana manusia menerapkan ajaran islam terhadap dirinya sendiri. Cakupan dimensi ini adalah Akhlak, math’umat (makan dan minum), dan pakaian. Adapun dimensi yang ketiga adalah ajaran islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain. Dimensi ini merupakan dimensi paling besar dalam ajaran islam. Termasuk dalam dimensi ini adalah ajaran islam dalam aspek kehidupan manusia, baik ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, budaya dan lain sebagainya.

Semua ajaran ini telah ada dalam al Qur’an dan Sunnah Nabi, meski tak semua terperinci secara detail, namun Allah telah memberikan standar islam secara umum dalam melakukan perincian. Islam telah menjadikan aqidah islam sebagai dasar dalam membangun pemikiran, ia juga menjadi sudut pandang ketika menghadapi sebuah masalah. Dan tidak ketinggalan, islam juga telah menunjukan jalan lurus dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Dari kompleksnya ajaran islam, bahkan secara imani kita meyakini tak ada satu perkarapun yang tidak ada jawabannya dalam islam, menunjukan islam sebagai sebuah pemikiran yang menyeluruh tentang manusia dan kehidupannya. Dimana pemikiran pokoknya adalah Aqidah, dan pemikiran cabangnya adalah syari’ah. Sehingga, selain sebagai sebuah agama yang memberikan ajaran yang bersifat ritual, tak salah jika islam dikatakan sebuah ideologi. Karena islam juga bicara dalam urusan social.

Disinilah uniknya islam, ajarannya menunjukan dia sebagai agama (ritual-moral) juga sebagai ideologi. Berbeda dengan agama dan ideologi lain yang berdiri pada satu posisi saja. Semua agama selain islam hanya bicara tentang ajaran ritual dan moral, tanpa memberikan jawaban terhadap masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupannya. Nasrani dan Yahudi yang terkategori sebagai agama samawi, juga agama ardhi seperti Hindu, Budha, konghuchu, Zoroaster, dan sebagainya, tak ada satupun yang bisa memberikan solusi kehidupan manusia. Semua agama ini menyerahkan pengaturan kehidupan manusia kepada manusia itu sendiri, dan hanya memberikan aturan berdimensi ukhrawi.

Begitu pula dalam konteks ideologi, Kapitalisme dan Sosialisme, keduanya hanya berposisi sebagai ideologi semata. Dua ideologi ini hanya memberikan kepada manusia dalam dimensi duniawi semata. Tak heran jika kemudian antara agama dan ideologi selain islam ini melakukan kolaborasi, karena realitas mereka mengharuskan hal itu.

Sedangkan islam, selain agama yang mengatur dimensi ritual dan moral, islam juga mengatur dimensi social. Semua ajaran islam bersifat ukhrawi, meski tanpak sebagai aktifitas duniawi. Ketika islam dijalankan dengan sempurna, maka tak heran rasanya kalau kemudian lahir kehidupan yang berbeda dengan kehidupan dalam agama dan ideologi lain. Karena Islam adalah Metode kehidupan yang unik.

Simpulan akhir

Setelah kita menjabarkan definisi ideologi serta asal kelahirannya, kemudian kita bandingkan dengan islam, maka bisa kita simpulkan bahwa islam adalah sebuah ideologi. Dengan argumen, islam merupakan agama yang sempurna dan telah memberikan penjelasan atas segala sesuatu. Inilah yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah Al-Maa-idah ayat 3 dan An-Nahl ayat 89. Yang terjemahannya sebagai berikut:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (TQS. Al-Maa-idah: 3)
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (TQS. Al-Maa-idah: 89)

Mungkin saja setelah membaca penjelasan sederhana dan ringkas ini masih ada orang yang tetap menolak mengatakan islam sebagai sebuah ideologi. Karena menganggap istilah ideologi berasal dari orang kafir misal, atau sebatas emosi untuk tidak mensejajarkan islam dengan ajaran manusia. Bagi penulis pribadi hal itu tak terlalu bermasalah. Yang penting pembaca tetap mengimani bahwa islam adalah agama yang lengkap, sempurna, dan telah memberikan penjelasan yang komprehensif bagi manusia atas segala sesuatu di dunia ini. 

Keimanan kita harus memastikan bahwa islam tegak diatas aqidah dengan syari’ah sebagai cabang dan buahnya. Dimana semua ajaran islam ini menuntut pelaksanaan, sehingga kemudian diperjuangkan. terserah pembaca mau menyebut islam menggunakan istilah apa, diin, way of life, atau yang lain. Karena menurut penulis, ketika kita memahami bahwa islam adalah ajaran yang sempurna, yang menjelaskan peraturan tentang kehidupan manusia, baik solusi masalah manusia, tata cara pelaksanaan solusi itu, menjada aqidah, serta menyebarkan dakwah maka pada saat itu sebenarnya pembaca sepakat bahwa islam merupakan sebuah ideologi. Allahu ta’ala a’lam []

Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 19.01
Kategori:

0 komentar :

Posting Komentar

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus