15 Mei 2014

Mengenal Yahudi dan Zionisme, Serta Perannya dalam Meruntuhkan Khilafah [Bagian 2]


[Silahkan baca bagian 1 di sini]

Gerakan Zionisme

Zionisme berasal dari kata Ibrani “zion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds (Jerusalem). Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri. (ZA Maulani, Zionisme: Sebuah Gerakan Menaklukan Dunia).

Orang-orang Yahudi di Eropa ditindas, mereka mendapatkan perlakuan yang diskriminatif, maraknya Anti-Semitism (baca: Anti-Jews) yang dikampanyekan pertama kali oleh Wilhelm Marr. Melihat kondisi ini,  kalangan Yahudi waktu itu terbelah menjadi dua. Satu pihak berpikiran  bahwa Asimilasi dengan masyarakat Kristen Eropa-Amerika adalah cara yang tepat untuk mengatasi problem itu. Pihak lain mengatakan, masalah Yahudi hanya terselesaikan dengan mendirikan sebuah Negara khusus untuk kaum Yahudi. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat)

Harun Yahya menyatakan bahwa Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka. (http://id.harunyahya.com, diakses 12/05/2014)

Gagasan tentang gerakan Zionisme, yaitu suatu gerakan politik untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina, mulai memperlihatkan konsepnya yang jelas dalam buku ‘Der Judenstaat’ (1896) yang ditulis oleh seorang tokoh Yahudi, yang kemudian dipandang sebagai Bapak Zionisme, Theodore Herzl (1860-1904). Ia salah seorang tokoh besar Yahudi dan Bapak Pendiri Zionisme modern, barangkali eksponen (yang menerangkan/menguraikan-red.) filosof tentang eksistensi bangsa Yahudi yang memiliki pandangan paling jauh ke depan yang dimiliki generasi Yahudi di sepanjang sejarah mereka. Ia tidak pernah ragu akan adanya “bangsa Yahudi”. Ia menyatakan tentang eksistensi itu pada setiap kesempatan yang ada. Katanya’ “Kami adalah suatu bangsa – Satu Bangsa”. (ZA Maulani, Zionisme: Sebuah Gerakan Menaklukan Dunia).

Hubungan Yahudi dan Zionisme

Meski Zionisme adalah gerakan politik yang digagas oleh orang-orang Yahudi untuk memberikan solusi terhadap problem mereka, namun ini tidak berarti disimpulkan bahwa semua Yahudi akan mendukung Zionisme, walaupun beberapa ide Zionisme diambil diambil dari kitab suci Yahudi.

Adian Husaini menyebutkan beberapa respon keagamaan di kalangan Yahudi terhadap Zionisme dan ide Negara Israel. Pertama, kelompok penentang keras Zionisme. Kelompok Haradem misalnya, mereka memandang bahwa tahah Israel memang dijanjikan oleh tuhan untuk mereka. Namun, tanah ini dicabut dari mereka disebabkan ketidakpercayaan yahudi sendiri terhadap perjanjian dengan Tuhan. Mereka berasumsi, jika Yahudi menaati Taurat, maka Tuhan akan mengembalikan tanah itu kepada Yahudi. Usaha apapun yang mempercepat penempatan Yahudi di “tanah yang dijanjikan” mereka anggapa sebagai bentuk ketidaksabaran atas janji Tuhan.

Kelompok Naturei Kartei (Inggris: Guardian of the City pun kelompok yang anti-Zionisme, ultra-Ortodoks, yang tidak mengakui Negara Israel dan konsisten menentang Negara Yahudi ini. Mereka menganggap Israel sebagai “Zionisme tak bertuhan” (Goodless Zionism). Mereka juga mendukung perjuangan palestinan dan menyerukan Internasionalisasi Jerussalem.

Kedua, kutub agama yang yang mensupport penuh Zionisme. Diantaranya kelompok Gush Emunim (Block of the Faithfull). Kelompok ini memberikan biaya kepada para pemukim Yahudi di Tepi Barat, setelah kemenangan Israel dalam perang 1967. Mereka menyatakan mereka kembali ke area tertentu untuk mempromosikan kehidupan Yahudi, yang menurut mereka akan akan mempercepat kedatangan Sang Messiah.

Selain dua kelompok diatas, ada kelompok Ketiga, yaitu kelompok-kelompok Yahudi yang memberikan dukungan kepada negara Israel, tetapi tidak melihatnya dari sudut pandang keagamaan. Negara Israel menurut mereka bukanlah tanda akan datangnya Sang Messiah. Namun demikian, mereka sangat keras dalam mendukung Negara Israel. Salah satu tokoh dari “Mainstream religious Zionists”, Rabbi Meimon (1875-1962) menyatakan, “Negara Ibrani harus didirikan dan dijalankan sesuai prinsip Agama Ibrani, yakni Torah Israel. Keyakinan kita sudah jelas: sejauh yang kita, penduduk, memahaminya, agama dan Negara saling membutuhkan satu sama lain.” (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat).

Peran Zionisme dalam Keruntuhan Khilafah

Daulah Ustmaniy sudah lemah pada akhir adab 19. Menurut Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani (1953), pendiri Hizbut Tahrir, dalam kitabnya Ad Daulah Al Islamiyah, kelemahan ini nampak dalam dua hal, yaitu: Pertama, kelemahan umat dalam pemahaman (al fahm) terhadap Islam, dan kedua, kelemahan dalam penerapan (at tathbiq) Islam.

Meski demikian, Zionisme yang bercita-cita membangun Negara Yahudi di atas tanah yang dijanjikan, Jerussalem, tentu tidak mungkin bisa mewujudkan mimpinya kecuali atas ijin atau merampasnya dari Khalifah Ustmaniy waktu itu. Karena tanah yang mereka maksud adalah tanah Palestina yang notabene merupakan tahan dalam kekuasaan Islam. Padahal sebelum Zionisme ada, perlindungan yang telah diberikan oleh Khilafah Ustmaniy kepada orang-orang Yahudi yang diusir dan dibantai oleh kaum Kristen Eropa.

Maka pasca menerbitkan bukunya, Der Judenstaat, Herzl mengunjungi Istambul dan mempresentasikan rencananya untuk membentuk dengan Negara Yahudi di atas tanah Palestina. Bahkan dia menawarkan bantuan finansial untuk melunasi hutang-hutang khilafah Ustmaniy. Tidak hanya itu, Herzl juga meminta bantuan kepada Kaisar Austria Wilhelm II yang dikenal dekat dengan Khalifah, agar merekomendasikan rencana itu untuk disetujui Sultan Abdul Hamid II.

Melalui Newslinsky yang merupakan wartawan dan teman dekat Herzl, Sultan menyampaikan penolakannya secara tegas. Beliau mengatakan, “Saya tidak bias menjual bahkan selangkah dari tanah itu, karena ia bukan milikku tapi milik rakyatku. Rakyatku telah mendirikan kesultanan ini lewat perjuangan dengan darah mereka dan menyuburkan tanah ini dengan darah mereka. Kami juga akan menyelimutinya dengan darah kami sebelum kami membiarkannya dirampas… Kesultanan Turki bukan milikku tapi milik rakyat. Saya tak bias membiarkan bagian manapun daripadanya hilang begitu saja. Orang-orang Yahudi bisa memiliki miliaran uang. Di saat kesultananku terpecah belah, taka da lagi gunanya mereka mendapatkan Palestina.” (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat).

Dalam versi lain, Sultan Abdul Hamid II mengatakan kepada Herzl:

“Sesungguhnya andai kata tubuhku disayat-sayat dengan pisau atau salah satu anggota badanku dipotong maka itu lebih aku sukai dari pada aku perkenankan kalian tinggal di bumi Palestina yang merupakan negara kaum muslimin. Sesungguhnya bumi Palestina telah direbut dengan pengorbanan darah. Dan sekali-kali bumi itu tidak akan dirampas dari mereka melainkan dengan pertumpahan darah. Dan sungguh Allah telah memuliakanku sehingga dapat berkhidmat kepada agama Islam selama tiga puluh tahun. Dan aku tidak akan mencoreng sejarah para leluhurku dengan aib ini”. (Abdullah Azzam, Runtuhnya Khilafah dan Jalan Menegakannya)

Setelah penolakan itu, maka zionisme berusaha menumbangkan sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon ”Liberation”, “Freedom”, dan sebagainya. Ghazwu Al Tsaqafiy (perang budaya) yang sebenarnya sudah jauh hari sebelumnya sudah digulirkan dari dalam Negara oleh musuh-musuh islam semakin meningkat tekanannya. Akhirnya gerakan Zionis di Turki Ustmaniy mencapai sukses yang sangat signifikan, menyusul pencopotan Sultan pada April 1909. Di antara empat perwakilan yang menyerahkan surat pencopotan itu adalah Emmanuel Carasso (Yahudi) dan Aram (Armenia).

Bahkan sejak 1908 praktis penguasa Turki sebenarnya adalah CUP (Committee and Union Progress) –organisasi bentukan Young Turk Movement (Gerakan Turki Muda), gerakan yang berjuang mengakhiri apa yang mereka sebut Abdul Hamid’s Despotism dan mendirikan rezim konstitusional dengan tujuan menyelamatkan Imperium Ustmaniy dari keruntuhan. Mereka lah hingga pendiri Turki Modern, bahkan tida presiden pertama Turki adalah anggota CUP. Jajaran petinggi CUP sendiri di antaranya ditempati oleh Emmanuel Carasso dan Moise Cohen Tekinalp, yang merupakan tokoh Yahudi. Orang Yahudi pun banyak yang menjadi anggota parlemen Turki melalui CUP antara tahun 1908 – 1918. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat)

Penutup: Islam, Yahudi, dan Zionisme

Sungguh, sejarah panjang Yahudi dan Zionisme telah memperlihatkan kepada kita bagaimana kita harus memperlakukan mereka kelak ketika Khilafah yang kedu tegak kembali, Insya Allah. Bahwa, sebagai Negara berideologi Islam, yang hanya menjadikan Islam dan Syariahnya sebagai aturan, maka zionisme tidak boleh dibiarkan ada dalam wilayah Khilafah. Negara Yahudi, ide Zionisme dan para pengusungnya harus ditiadakan, sebagaimana juga perlakuan Islam kepada ideology Kapitalisme dan Sosialisme, serta ide-ide kufur lainnya.

Adapun untuk Yahudi sebagai agama, maka kita memperlakukan mereka sebagaimana rasul memperlakukan orang Yahudi di Madinah. Harta dan Nyawa mereka harus dijaga selama mereka mau tunduk sebagai Ahlu Dzimmah kepada Daulah Islam. Namun jika melakukan pengkhianatan, maka dengan tanpa rasa segan, mereka harus diusir dari wilayah Khilafah. Bahkan pada kondisi tertentu, mereka harus dibunuh, kecuali wanita dan anak-anak. Sudah menjadi tabiat Yahudi untuk menyesatkan ummat islam, baik langsung ataupun tidak.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah: 120)
Shadaqa Allah al ‘Adziim, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Allahu ta'ala a'lam.[selesai]

Kritik dan Saran: 0856-5113-0608
Email: tohir1924@yahoo.co.id
WA: 0896-1198-8349
Pin BBM: 73D860E4

Mengenal Yahudi dan Zionisme, Serta Perannya dalam Meruntuhkan Khilafah [Bagian 1]


Oleh Muhammad Tohir

Pengantar

Keruntuhan Khilafah Islamiyah pada tahun 1342 H (1924 M) tidak hanya menjadi musibah terbesar bagi umat Islam. peristiwa itu juga menyebabkan perubahan besar pada tata politik internasional.  Sejak saat itu, kaum Muslim praktis tidak lagi memiliki pengaruh pada relasi politik internasional.   Bahkan  pada level tertentu, umat Islam hanya menjadi obyek permainan dan persekongkolan busuk negara-negara imperialis Barat. Harta mereka dijarah. Kehormatan mereka dilecehkan. Darah mereka ditumpahkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim tanpa ada perlawanan berarti. 

Diantara sekian banyak problem yang dihadapi kaum muslimin hingga saat ini adalah persoalan Palestina dan Israel. Sebagaimana telah diketahui, Israel adalah Der Judenstaat (Jewish State, Negara Yahudi), yang terbentuk atas “perjuangan” orang-orang Yahudi dalam organisasi Zionisme. Namun pertanyaannya, apa sebenarnya Zionisme itu? Benarkah Zionisme merupakan ajaran dalam agama Yahudi? Bagaimana Islam menyikapi Yahudi dan Zionisme? Semoga makalah ini bias menjawabnya!

Yahudi dan Sejarahnya

Yahudi, -juga kristen dan Islam—  biasa disebut agama-agama Ibrahimi (Abrahamic Religions), karena pokok-pokok ajarannya bernenek moyang kepada ajaran nabi Ibrahim (sekitar abad 18 SM), yaitu agama yang menekankan keselamatan melalui iman, menekankan keterkaitan atau konsekuensi langsung antara iman dan perbuatan nyata manusia. (Wikipedia, diakses 11/05/2014)

Nabi Ibrahim mendapatkan putra Isma’il As dari isteri keduanya Hajar, yang kemudian dibawa oleh Ibrahim ke Mekah. Sementara dari Sarah –isteri pertama—, Ibrahim mendapatkan Ishaq pada usianya yang menginjak 100 tahun setelah 14 tahun kelahiran Ismail. Kemudian Ishaq menikah dengan Rifqo binti Batwail di usia 40 tahun dan Ibrahim pada saat itu masih hidup. Dari Batwail ini, beliau mendapatkan anak kembar yang bernama ‘Aishu dan Ya’qub.

Allah memberikan kepada Ya’qub 12 orang anak, yaitu: Ruwaibil, Syam’un, Luwa, Yahudza, Isakhar, Zailun, Yusuf, Benyamin, Dan, Naftli, Had dan Asyir. (Eramuslim, diakses 12/05/2014). Dari garis keturunan Yahuda (Yahudza) bin Ya`qub inilah Yahudi itu dinisbatkan, dari garis ini pula lahir Dawud as. dan Sulaiman as. yang merupakan simbol kebesaran bangsa Yahudi sepanjang masa. (Asep Sobari, Sejarah Yahudi di Madinah).
·          

  • Yahudi dan Bani Isra’il

Isra’il adalah nama lain dari Nabi Ya’qub bin Ishaq As. Keturunan beliau inilah cikal bakal bangsa yang sering diceritakan dalam Al Qur’an, Bani Isra’il. Antara Bani Isra’il dan Yahudi itu sangat berbeda. Bani Israil itu bangsa keturunan Ya’qub, sedangkan Yahudi adalah agama. Yahudi ada setelah diutusnya Nabi Musa As, sedangkan Bani Ya’qub As ada sejak masa sebelumnya. Bani Israil adalah bangsa yang banyak diutus Nabi dan Rasul kepada mereka. Hadits nabi mengatakan:

“Dahulu Bani Israil diurus oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi telah wafat, maka digantikan oleh Nabi yang lain. Bahwa, tidak akan ada seorang Nabi pun setelahku, dan akan ada para khalifah. Jumlah mereka pun banyak.” (HR Bukhari)

Selain itu, nama Bani Israil digunakan hanya sampai diutusnya Nabi Muhammad. Al-Quran menyebut Yahudi kepada Bani Israil setelah diutusnya Nabi Muhammad dan setelah mereka kufur dan mengingkari kenabian beliau. Nama Yahudi disebutkan dalam ayat-ayat madani (yang turun setelah hijrah ke Madinah), diantaranya di surat Ali Imran ayat 67-68, Surah Al-Baqarah ayat 146,  dan di Surah At Taubah ayat 30, dan semuanya dengan konteks celaan atas mereka dan bukan pujian. (http://www.islampos.com, diakses 12/05/2014)

Beralihnya peristilahan Al-Quran dari Bani Israil kepada Yahudi ini memberikan kesimpulan bahwa kita harus membedakan antara Yahudi dan Bani Israel. Meski mereka mungkin masih ada keturunan Nabi Israil, namun mereka bukan pewarisnya karena mereka tidak mengikuti agama beliau.

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” (QS. Ali Imran: 84)

Menurut Ibn Hajar al-Asqalani (w.852H), diriwayatkan dari Ibn Zhafr, bahwa ayat 84 turun berkaitan dengan yahudi dan nashrani yang mengaku beriman. Berdasar ayat 84 yang termasuk beriman adalah yang benar-benar mengimani Allah dan kitabnya secara keseluruhan, seluruh rasul yang diutus tanpa membedakan satu sama lain. (Al-Asqalani, al-’Ijab Fi Bayan al-Asbab, II h.707). (http://saifuddinasm.com, diakses 12/05/2014)

  • ·         Yahudi di Masa Rasulullah SAW

Hubungan dakwah Rasulullah saw. dengan Yahudi Madinah terjalin sejak dini. Riwayat. Bukhari dan Ibn Ishaq mengisyaratkan kedatangan Abdullah bin Salam, seorang ulama Yahudi Bani Qainuqa`, dan keputusannya memeluk Islam terjadi hanya beberapa saat setelah beliau menetap di Madinah. Peristiwa ini pula yang memicu undangan Rasulullah saw. kepada masyarakat Yahudi untuk mengajak mereka memeluk Islam dan menjadikan Abdullah bin Salam sebagai bukti pembenarannya. (al Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah)
Pasca nabi Hijrah ke Madinah, dan menerima kekuasaan dari dua suka paling dominan –Aus dan Khazraj—, maka Negara harus mengatur hubungan kaum muslimin dan selain mereka. Hal ini dikarenakan latar belakang masyarakat Madinah yang sangat majemuk, terdiri dari beberapa etnik Arab dan Yahudi mendesak adanya peraturan umum yang mengatur kehidupan bersama dengan baik. Disinilah letak pentingnya Piagam Madinah yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan kaedah dan prinsip Islam. Hal ini juga membuktikan, ajaran Islam dapat mengatur kepentingan bersama masyarakat muslim dan non muslim, tanpa harus menghilangkan karakter khas masingmasing,terutama agama.

Al Mubarakhfuri merangkum beberapa bagian pasal Piagam Madinah yang mengatur hubungan masyarakat Muslim dengan Yahudi seperti berikut:

  1. Yahudi Bani `Auf merupakan satu komunitas bersama masyarakat Mu’min.  Orang-orang Yahudi berhak menjalankan agama mereka dan orangorang muslim berhak menjalankan agama mereka…begitu juga klanklan Yahudi lainnya diluar Bani `Auf. 
  2. Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya hidupnya sendiri dan orangorang muslim juga harus menanggung biaya hidupnya sendiri. 
  3. Masyarakat Yahudi dan Muslim harus saling bahu membahu melawan musuh yang menyerang pihak yang menandatangani Piagam ini. 
  4. Mereka juga harus saling memberi saran dan nasihat dalam kebaikan, tapi tidak demikian dalam kejahatan. 
  5. Siapa pun yang dizalami maka wajib ditolong. 
  6. Masyarakat Yahudi dan Mu’min harus bersatu padu ketika diserang musuh. 
  7. Jika terjadi perselisihan atau pertikaian antara pihakpihak yang menyepakati Piagam ini, sehingga khawatir akan merusak hubungan, maka keputusannya harus dikembalikan kepada hukum Allah `azza wa jalla dan Muhammad, utusan Allah saw. 
  8. Siapa pun tidak boleh memberi suaka (perlindungan) kepada Quraisy dan Pendukungnya. (Al Mubarakhfuri)

Sayangnya, Orang-orang Yahudi di Madinah malah berkhianat, bahkan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW. Pengkhianatan pertama Yahudi dilakukan oleh Klan Qainuqa’. Pada mulanya mereka hanya melakukan perlawan verbal, maka nabi hanya melihatnya sebagai indicator pengkhiatan, namun setelah terjadi kasus pelecehan wanita muslim di pasar Bani Qainuqa` yang disusul dengan pembunuhan lelaki muslim yang membelanya, Rasulullah saw. mengepung Bani Qainuqa` lalu mengusir mereka dari Madinah.

Kemudian pengkhianatan dilakukan oleh Bani Nadhir, klan yang paling kuat saat itu. Diawali dengan memberi perlindungan kepada Abu Sufyan saat melakukan oprasi militer (Perang Sawiq) ke Madinah.  Pelanggaran terhadap salah satu pasal Piagam Madinah tersebut disusul dengan pelanggaran lain. Bani Nadhir tidak bersedia menanggung biaya diyat (denda pembunuhan) yang seharusnya dipikul bersama. Bahkan lebih jauh lagi, mereka menyusun rencana pembunuhan Nabi saw. Rencana busuk itupun terbongkar, sehingga Rasulullah saw. segera mengumumkan ultimatum pengusiran Bani Nadhir dari Madinah. Akhirnya mereka meninggalkan Madinah setelah dikepung selama 15 hari.

Bani Quraizhah dalam perang Ahzab. Mereka menjadi pendukung logistic bagi kafir Quraisy, dan menggerogoti Madinah dari dalam. Akhirnya setelah berhasil keluar sebagai pemenang dalam perang Ahzab, Rasulullah saw. menghukum Bani Quraizhah sebagai pengkhianat perang, semua laki-laki yang terlibat perang dipancung, anak-anak dan wanita ditawan, dan harta benda mereka dirampas

Tersisa satu kekuatan Yahudi, yakni Kampung Khaibar. Maka, setelah nabi melakukan gencatan senjata dengan kafir Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah, maka Rasulullah saw. langsung melancarkan serangan  besar-besaran ke Khaibar dan menang. Masyarakat Yahudi Khaibar yang kebanyakannya petani tidak diusir dari daerah tersebut, melainkan diizinkan tinggal untuk mengelola kebun-kebun Khaibar dan berbagi hasil dengan para pemilik barunya, kaum muslimin. (Asep Sobari, Jejak Yahudi di Madinah).

  • ·         Yahudi di Barat pada Masa Pertengahan

Sejak lama di berbagai negara Eropa, bangsa Yahudi mengalami diskriminasi. Penolakan mereka untuk beralih menjadi Kristen menyebabkan mereka dipencilkan dan tidak diterima sebagai warganegara. Mereka dipandang sebagai bangsa ingkar yang sudah dibuang Tuhan, dan dicerca sebagai pembunuh Yesus. Penolakan mereka untuk memuliakan raja menyebabkan patriotisme mereka diragukan. Sedangkan Eropa, hampir separuhnya menganut sistem monarki. Tidak heran kalau mereka dilarang memiliki tanah dan banyak pekerjaan tertutup bagi mereka.

Di abad pertengahan, orang Yahudi hanya boleh tinggal di bagian-bagian khusus kota yang disebut ghetto, perkampungan yang dikelilingi tembok dan gerbangnya dikunci pada malam hari. Penghuni ghetto dilarang keluar pada hari-hari tertentu, misalnya pada hari wafat Isa Almasih.

Kebencian yang tertanam ini sewaktu-waktu meledak menjadi kerusuhan luas berupa penjarahan dan pembantaian. Pada masa Perang Salib pertama tahun 1096, bangsa Yahudi mengalami pembantaian besar-besaran di Lembah Rhein. Pada akhir abad ke-13 orang Yahudi diusir secara besar-besaran dari Inggris,dan pada akhir abad ke-14 dari Prancis. Tahun 1492 pengusiran terbesar terjadi di Spanyol. Kepada orang Yahudi diberi dua pilihan, beralih memeluk agama Kristen atau angkat kaki. Hampir 150 ribu orang meninggalkan Spanyol, pindah ke negara-negara Islam di sekitar Laut Tengah. Yang tinggal mengalami penindasan karena ternyata hanya berpura-pura memeluk agama Kristen. Banyak diantara mereka yang dihukum bakar.

Rentetan sejarah penindasan bahkan genosida terhadap Yahudi eropa ini konon menyebabkan jutaan orang Yahudi meregang nyawa, terutama saat Hitler dan Nazi berkuasa di beberapa wilayah pendudukan. Pembunuhan massal, secara sistemik dilakukan kepada orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi dan kerja paksa. Sejarah ini dikenal dengan istilah Holacoust (Genocide; pemusnahan suatu kelompok bangsa secara teratur). Bahkan Stephane Downing memperkirakan jumlah kematian orang Yahudi dalam rentetan peristiwa Holacoust mencapai 6 juta orang. (Stephane Downing, Holacoust: Fakta atau Fiksi?). Tentu saja, bukan berarti data-data pembunuhan seputar Holacoust yang diungkap ini tanpa perdebatan. [baca bagian kedua di sini]

10 Mei 2014

Pisau itu Mubah, Demokrasi itu Kufur

Pisau Itu Mubah, Demokrasi itu Kufur
Oleh Muhammad Tohir
Semua orang pasti bisa memahami kalimat Judul di atas bahwa yang namanya pisau memiliki potensi (khasiat) untuk memotong, menusuk, dan mencincang apapun dan oleh siapapun. Dia bersifat netral, tidak buruk, tidak baik, tidak benar, dan tidak juga salah. Sifat buruk, baik, benar dan salah bisa diketahui setelah ada perbuatan yang dilakukan oleh penggunanya, dan itu pun bukan pisau itu sendiri, melainkan perbuatan tersebut. Bahkan ada beberapa perbuatan yang tidak bisa dihukumi secara langsung, kecuali setelah melihat konteks dan motivnya.
Pun dengan benda-benda lain, semua bebas nilai, -kecuali yang sudah diharamkan oleh Allah, tentu saja-. Begitu pula dengan potensi kehidupan manusia, baik berupa gharaa-iz (naluri-naluri) maupun hajatu al Uduwiyah (kebutuhan jasmani), tidaklah buruk, tidak juga baik, semuanya bersifat netral, hingga manusia melakukan perbuatan sebagai usaha memenuhi semuanya. Di sinilah dosa-pahala diberikan. Silahkan rujuk buku Nidzam Al Islam, khususnya Bab Hadharah - Madaniyah, serta Bab Qadha' dan Qadar, serta buku Islam Politik dan Spritual untuk mendapatkan penjelasan lebih luas.
Lalu, bagaimana jika ada orang yang menganalogikan Pisau dan Demokrasi untuk membantah pihak yang mengkufurkan demokrasi? Bagi saya orang itu masih kebingungan membedakan antara keduanya, atau sengaja pura-pura bingung agar bisa "menikmati" demokrasi?! Allahu ta'ala a'lam.
1. Kita semua mafhum, pisau itu benda, sedangkan Demokrasi itu Ide. Yang namanya benda itu terindra dan bersifat fisik. Hukumnya cuma ada dua saja, Haram dan Halal (Mubah). Sedang Ide itu ada dalam kepala, menjadi landasan berfikir (pemikiran cabang), bersikap, bertindak, termasuk dalam menggunakan benda-benda. Ide bagi seorang muslim juga cuma ada dua status, kalo tidak Islami (syar'i) berarti kufur (tidak sesuai dengan ajaran Islam).
Semua benda yang mubah, maka mubah pula untuk dimanfaatkan, kecuali untuk perbuatan yang haram. Sedangkan semua ide yang bertentangan aqidah islam, maka tidak boleh sedikitpun diadopsi, haram!
2. Pendapat ini bukan lah asumsi dari sisi negatif, melainkan inilah realitas keduanya. Kalo soal pisau, jelas kita gak perlu dalil, karena memang tidak ada dalil yang mengharamkannya. Kecuali, misal, pisaunya terbuat dari benda najis, maka ini sudah beda cerita.
Sedangkan demokrasi, bisa dilihat dari aktivitas intinya, menetapkan hukum, memusyawarahkan semua hal, memberikan kebebasan dan yang pasti bukan hukum Islam yang diterapkan, paling banter hasilnya adalah hukum yang "mirip" (?) hukum islam, itupun wajib atas persetujuan (wakil) rakyat. Karena itulah, demokrasi punya slogan syirik, "suara rakyat, suara tuhan". Meski Tuhan bilang sesuatu haram, tapi kalo rakyat bilang sesuatu itu boleh, akhirnya tuhanpun harus mengalah. Tidak salah kalau Ust. Bachtiar Nasir mengatakan Demokrasi sebagai Sistem Syirik. Na'udzubillah!
3. Haramnya pengadopsian, penerapan, dan penyebaran Demokrasi bukan didasarkan kepada fakta yang menimpa kepada beberapa gerakan dan partai, melainkan berdasarkan dalil-dalil yang rinci. Dalil rinci ini bisa dirujuk secara lengkap dalam kutaib Demokrasi Sistem Kufur karya Syaikh Abddul Qadim Zallum -rahimahullah-. Jadi, gagal paham namanya kalau mengira alasan pengharaman pelaksanaan demokrasi adalah kudeta Mursi di Mesir, Pembubaran FIS di Aljazair, dsb.
Penyebutan peristiwa di Mesir, dan beberapa negara itu, hanya untuk menunjukan bahwa, selain demokrasi itu kufur, demokrasi juga bukan jalan dalam memperjuangkan sistem Islam. Demokrasi hanya jebakan saja agar orang islam tunduk kepada sistem kufur itu, karena kalau tidak fakta yang kita sebut itulah yang akan terjadi. Meminjam perkataan Ust. Budi Anshari, Lc, tidak mungkin mewujudkan sistem Islam memalui jalan sistem yahudi (demokrasi).
4. Ini sebagai tambahan saja. Gerakan yang berhasil itu bukan semata-mata dilihat dari "menghadirkan masalah dan/atau menjauhkan mudharat dari ummat". Keberhasilan hakiki adalah ketika gerakan itu berdiri diatas aqidah, mempertimbangkan segala sesuatu diatas syari'ah (nash) bukan akal-akalan syariah berbalut "manfaat", lantang menyuarakan penetangan kepada setiap sistem jahiliyah, serta tegas menjadi furqan, yang membedakan antara haq dan bathil. Tapi kalo ngomong syariah aja gak berani, bahkan banyak melanggar syariah dengan alasan maslahat, gak jelas sikapnya terhadap sistem kufur, malah ber-musyarakah (politik) dengan orang kafir, meski telah (merasa) "memberi manfaat" maka bagi saya gerakan itu telah gagal dari awal.
11/05/2014

14 April 2014

[Video] Ust. Bachtiar Nasir: Syirik Dalam Hukum Bisa Membuat Orang Kafir

Di tengah hiruk pikuk kampanye Pemilu, beberapa waktu yang lalu saya menemukan teman-teman di facebook membagikan sebuah tautan video yang kontennya sebagaimana judul posting kali ini. Ya, video tersebut adalah kajian dari Ust. Bachtiar Nasir di salah satu telivisi swastaa dengan tema Fenomena Kesyirikan. Yang membuat kajian ini lebih menarik di bandingkan dengan kajian-kajian sejenis adalah beliau berani bicara dengan lantang dan tegas berkaitan dengan sistem bernegara yang saat ini diadopsi banyak negara, apalagi kalau bukan sistem demokrasi. 

Dalam video tersebut, Ust. Bachtiar Nasir memulai pembicaraan dengan mengungkapkan definisi, yang dilanjutkan dengan pembagiannya, yakni syirik besar dan kecil. Hingga sampai pada pembahasan syirik dalam masalah hukum. Yang intinya, beliau mengatakan bahwa berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah bisa mengakibatkan manusia menjadi Kaafir, keluar dari Agama Islam. Sebagai hujjah beliau membacakan ayat ke 45 dari surah Al Maidah yang artinya, "Barang siapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Allah SWT, maka mereka itulah orang-orang kafir". 

Hanya saja memang beliau memberi rincian bahwa tidak semua yang berhukum kepada selain hukum Allah kafir secara mutlak. Yang dikategorikan sebagai kafir adalah mereka yang berhukum dengan hukum selalin hukum Allah dan disertai keyakinan bahwa hukum selain hukum Allah itu lebih baik dari hukum Allah, atau beranggapan hukum Allah tidak relevan untuk diterapkan. Adapun jika berhukum dengan hukum selain hukum Allah hanya sebatas terpaksa saja, dan di dalam hati tetap mengimani  bahwa hukum Allah lah yang terbaik, maka bagi orang yang demikian tidak lah keluar dari Islam melainkan hanya dianggap bermaksiat kepada Allah, dan dibebani dosa sesuai kadar maksiatnya.

Selanjutnya sang Ustadz dengan berani menyinggung soal demokrasi. Belia bercerita, ketika ada orang yang bertanya seputar cara mengubah sistem yang yang tidak islami ini menjadi sistem Islam, dari hukum jahiliyah menjadi hukum islam, dan mengatakan bahwa tidak mungkin merubah sistem sekarang jika tidak masuk ke dalamnya, maka Ustadz Bachtiar Nasir menganggap ungkapan itu sebagai Mantra. Ya, Mantra. Lebih lengkapnya beliau mengatakan itu sebagai Mantra Syirik. 

Sebagai argumen beliau menjelaskan bahwa nabi dapat merubah keimanan, akhlak, dan sistem kehidupan orang-orang jahiliyah waktu itu tidak dengan masuk ke dalam sistem, melainkan berada di luar sistem. Dengan dakwah lah orang-orang kafir Quraisy itu menerima Islam hingga bisa mendominasi dan mengeliminasi sistem jahiliyyah yang merupakan sistem warisan leluhur bangsa arab. 

***
Saya (penulis) merasa sangat bahagia ketika mendengar penjelasan ini, karena ditengah banyaknya Ulama yang diam terhadap kemungkaran dan kebathilan demokrasi ternyata masih ada yang ikhlas memberikan bayan kepada masyarakat hakikat dan bahaya dari sistem demokrasi. Lebih-lebih lagi beliau menjabarkannya di saluran TV yang notabene menginginkan Islam sebatas ibadah mahdhoh dan moral saja. Sekjen MIUMI ini tidak takut dirinya akan di black list dari daftar pengisi acara, karena dikategorikan dalam Islam garis keras. Subhanallah!

Semoga Allah terus memberikan hidayahnya melalui ulama-ulama yang ikhlas, yang berani mengatakan bahwa yang haq itu adalah haq dan bathil adalah bathil. Sehingga kesadaran ummat terus terbangun, kebencian terhadap sistem kufur demokrasi terus terkristal, dan menyadari solusi dari permasalahan yang mereka hadapi hanyalah Syariah Islam semata. 

***
Berikut video yang dimaksud:

Bagian I





Bagian II





Bagian III

15 Januari 2014

Pasukan Gajah dalam Analisa Saintifik

Assalamu'alaikum, wr, wb
Ana mau share artikel bagus nih gan. Judul aslinya Meteor, Pasukan Gajah dan Maulid Nabi. Semoga bermanfaat! 

***
Oleh Muh Ma'rufin Sudibyo

Lebih dari 14 abad silam, tepatnya sekitar 55 hingga 52 hari sebelum Maulid Nabi Muhammad SAW, terjadi peristiwa yang menggemparkan penduduk Jazirah Arabia hingga ke segenap sudutnya. Inilah saat pasukan yang berkekuatan sangat besar untuk ukuran zamannya, yang berkekuatan 60.000 prajurit infanteri dan 15.000 prajurit kavaleri dibawah pimpinan langsung panglima Abrahah al-Asyram (gubernur pendudukan imperium Aksumit di Yaman) mendadak berantakan di halaman kota suci Makkah sebelum sempat meraih tujuannya. Pasukan besar ini membawa serta 15 ekor gajah sebagai simbol, hewan tunggangan yang belum pernah dilihat bangsa Arab. Maka pasukan itu pun lebih populer sebagai pasukan Gajah.

Kehancuran pasukan Gajah membuyarkan rencana invasi jantung Arabia Deserta yang didasari motif religius bercampur politis-ekonomis. Yakni menghancurkan Ka’bah yang menjadi episentrum spiritual bangsa Arab. Sehingga diharapkan mereka akan terdemoralisasi dan selanjutnya terlemahkan, yang pada gilirannya bakal memuluskan jalan pendudukan Arabia Deserta dan sekitarnya. Pada akhirnya jalur perdagangan yang membentang di pesisir timur Laut Merah mulai dari Arabia Petraea (Syria dan sekitarnya) di utara, Arabia Deserta (Makkah dan sekitarnya) di tengah hingga Arabia Felix (Yaman dan sekitarnya) di selatan dapat dibulatkan sepenuhnya di bawah penguasaan imperium Aksumit dan Romawi yang saling berkoalisi.
Gambar 1. Peta topografi kotasuci Makkah dan sekitarnya mencakup Mina, Muzdalifah dan padang Arafah. Lokasi Ka’bah dan Masjidil Haram beserta posisi kota Makkah pada masa 14 abad silam ditandai dengan kotak. Sementara Wadi Muhassir, yang menjadi tempat hancurnya pasukan Gajah, berada di antara Muzdalifah dan Mina. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.
Sebelum kehancuran itu manuver pasukan Gajah seakan tak tertahankan meski sebagian bangsa Arab, yang terpecah-belah dalam sejumlah suku kecil dan kadang saling bermusuhan, mencoba melakukan perlawanan sporadis dan kecil-kecilan. Semuanya berhasil ditangkis sehingga mereka pun memasuki tapalbatas kotasuci Makkah, lalu bersiaga di lembah al-Mughammas sembari mengintimidasi penduduk Makkah. Didahului insiden perampasan ternak Abdul Muththalib, pemimpin kotasuci Makkah saat itu, maka pasukan berkekuatan besar ini pun bermanuver mewujudkan rencananya. Namun setibanya di lembah Wadi Muhassir (Wadi an-Nar), yang terletak di antara Muzdalifah dan Mina sekarang atau hanya berjarak 6 km di sebelah tenggara pusat kotasuci Makkah, pasukan ini mendadak hancur berantakan oleh peristiwa yang dalam kitab suci al-Qur’an diabadikan dalam surat al-Fiil (Gajah). Pasukan besar tersebut dihancurkan oleh guyuran batu panas (sijjil) yang dijatuhkan burung berbondong-bondong (thayran ababil). Hantaman batu itu berdampak cukup mengerikan, sehingga tubuh-tubuh pasukan itu bergelimpangan dengan tulang bersembulan laksana dedaunan yang dimakan ulat. Sisa pasukan yang selamat dari bencana ini menyusul bersua dengan maut kala mereka lari terbirit-birit kembali ke Yaman, termasuk Abrahah.

Kaspia Dzufari dan Meteorit

Apakah hujan batu panas yang menghancurkan pasukan Gajah itu? Ahli tafsir berbeda pendapat mengenainya. Sebagian menyebutnya sebagai tamsil bagi peristiwa seperti persebaran penyakit yang amat cepat dan ganas. Sementara sebagian lainnya berpendapat itu adalah benar-benar hujan batu panas dalam arti yang sesungguhnya. Mereka yang berpendapat demikian misalnya Fahrur Razi, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti (dikenal sebagai Jalalain) serta Muhammad Abduh. Batu panas itu disebut berukuran sedikit lebih besar dari biji adas namun lebih kecil dari biji kacang hummus, sehingga dimensinya sekitar 1 hingga 2 cm. Deskripsi lebih detil ada dalam penuturan Fakhtihah binti Abi Thalib RA atau lebih dikenal sebagai Ummi Hani’, dimana batu-batu panas itu di kemudian hari (setelah mendingin) terlihat kemerahan layaknya Kaspia Dzufari, yakni batu-batu merah yang banyak dijumpai di Dzufar (Yaman).

Guna mengetahui hakikat Kaspia Dzufari, perlu kita tinjau tempat bernama Dzufar atau Zafar, yakni kota-kuno di propinsi Ibb (Yaman) yang terletak pada koordinat 14° 12’ LU 44° 24’ BT pada elevasi 2.600 meter dari permukaan laut. Kota kuno ini berdiri sejak awal milenium dan pada puncaknya pernah berperan sebagai ibukota kerajaan Himyar sebelum dipindahkan 130 km ke utara, yakni ke kota San’a. Meski demikian Zafar tetap berperan penting bahkan hingga masa pendudukan Aksumit seiring lintasan jalur perdagangan pesisir timur Laut Merah di sini. Jalur ini pula yang dihilir-mudiki penduduk Makkah secara rutin saban tahun dalam perniagaannya, khususnya pada hari-hari musim dingin. Sehingga kota kuno ini bukanlah tempat yang asing bagi bangsa Arab.
Gambar 2. Detik-detik saat sebongkah asteroid melejit sebagai meteor-terang (fireball) menjelang peristiwa airburst di atas Chelyabinsk, Siberia (Russia) pada 15 Februari 2013 lalu. Inilah contoh terkini betapa peristiwa tumbukan benda langit berpotensi merusak meski yang terjadi pada saat itu hanyalah peristiwa airburst. Sumber : Popova dkk, 2013.
Secara geologis Zafar berdiri di atas Tameng Arabia-Nubia, bagian kerak bumi berusia sangat tua (lebih dari 600 juta tahun) yang menyusun kedua belah tepian Laut Merah. Mengikuti siklus geologisnya, Tameng Arabia-Nubia sedang mengawali proses pembentukan samudera baru lewat pembentukan dan perluasan Laut Merah melalui luapan magma dari lapisan selubung. Sebagai konsekuensinya terbentuklah retakan-retakan memanjang di sekujur sisi daratan pengapit Laut Merah. Di Yaman, luapan ini terjadi secara bertahap semenjak 32 juta tahun silam hingga era modern, namun puncaknya berlangsung antara 31 hingga 26 juta tahun silam. Magma yang keluar di permukaan bumi Yaman menjadi lava, yang tersebar menutupi daerah seluas hingga 5.000 kilometer persegi sebagai padang lava (al-harrah) yang ketebalannya hingga 3.000 meter.

Berbeda dengan vulkanisme umumnya, lava tersebut adalah lava basaltik yang banyak mengandung besi sebagai ferit (Fe3+). Jika lava basaltik membeku, terbentuklah batuan beku basalt. Jika telah cukup tua, basalt akan melapuk dan menghasilkan butir-butir batuan lebih kecil ataupun partikel-partikel tanah yang berwarna kemerah-merahan sebagai akibat teroksidasinya ferit di udara, sebuah proses yang serupa dengan besi berkarat. Selain dari pelapukan dan oksidasi basalt, batu berwarna merah atau kemerah-merahan juga bisa berasal dari turmalin, jasper maupun batuan yang banyak mengandung ortoklas. Namun turmalin dan jasper adalah batu mulia (permata) dan sangat jarang dijumpai di Yaman, sementara batuan berkristal ortoklas hanya terbentuk dari pembekuan lava andesitik, bukan basaltik, yang tidak dijumpai di Zafar dan sekitarnya. Karena itu pengertian Kaspia Dzufari lebih cenderung kepada bebatuan kemerah-merahan yang kaya besi, mirip dengan bebatuan basalt yang telah melapuk dan umum dijumpai di Zafar.

Darimana batuan kaya besi dan (semula) panas itu berasal? Secara umum ada di Bumi ada dua sumber batuan panas, yakni : 1). magma/lava beserta turunannya yang dilontarkan letusan gunung berapi, dan 2). meteoroid yang telah memasuki atmosfer sebagai meteor. Jazirah Arabia khususnya area di pesisir timur Laut Merah memang menjadi rumah bagi sejumlah gunung berapi dan beberapa diantaranya berukuran sangat besar. Beberapa diantaranya dikenal aktif dan memiliki catatan pernah meletus. Namun jaraknya terhadap kota suci Makkah cukup jauh. Gunung berapi terdekat, yakni Harrat Kishb (aktif namun catatan letusan tak diketahui), masih berjarak 230 km dari kota suci Makkah. Sementara gunung berapi teraktif sekaligus terbesar, yakni Harrat Rahat (meletus terakhir tahun 1256), bahkan berjarak 235 km dari kota suci Makkah. Agar bisa melontarkan kerikil panas (lapili) hingga ke kota suci Makkah, kedua gunung berapi tersebut harus meletus sangat dahsyat dengan skala kedahsyatan lebih besar ketimbang letusan Krakatau 1883. Konsekuensinya dampak yang ditimbulkan letusannya harus terasakan di kawasan cukup luas, bahkan jauh dari gunung. Tiadanya catatan dampak letusan sedahsyat Krakatau dari gunung-gunung berapi di Jazirah Arabia menunjukkan bahwa bebatuan panas yang menghancurkan pasukan Gajah kemungkinan besar tidak berasal dari letusan gunung berapi.

Meteor dan Ledakan Nuklir

Sehingga tersisa satu sumber potensial, yakni meteoroid yang telah memasuki atmosfer sebagai meteor dalam peristiwa yang dikenal sebagai tumbukan benda langit. Berbeda dengan letusan gunung berapi, dampak tumbukan benda langit dapat terlokalisir hanya di bagian tertentu dari sebuah wilayah terutama jika benda langitnya berukuran kecil.
Gambar 3. Peta area terdampak gelombang kejut hasil simulasi ledakan nuklir berkekuatan 28 kiloton TNT dengan titik ledak 600 meter di atas Wadi Muhassir. Tanda bintang menunjukkan posisi ground zero, sementara kotak menunjukkan kotasuci Makkah 14 abad silam. Lingkaran biru tua merupakan area terdampak gelombang kejut yang mampu memecahkan gendang telinga, melengkungkan logam dan menjatuhkan manusia. Sementara lingkaran ungu menunjukkan area terdampak gelombang kejut yang mampu melengkungkan logam dan menjatuhkan manusia. Dan lingkaran biru tua menunjukkan area terdampak gelombang kejut yang hanya bisa menjatuhkan manusia. Garis putus-putus adalah proyeksi lintasan asteroid 1.600 ton sementara tanda panah menunjukkan lintasan asteroid dalam 8 km terakhir. Panduan arah, atas = utara. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.
Ada empat syarat yang harus dipenuhi bila batu-batu panas penghancur pasukan Gajah itu bersumber dari meteoroid. Yang pertama, karena batu itu berwarna kemerah-merahan maka meteoroidnya haruslah berasal dari asteroid yang sangat kaya akan besi dan nikel. Kedua, jika batu itu berukuran setara kerikil maka mereka berasal dari meteoroid kaya besi-nikel yang terpecah-belah saat melintasi atmosfer sebagai meteor-terang (fireball). Ketiga, jika batu itu masih panas saat berjatuhan di Wadi Muhassir, padahal meteorit kecil pada umumnya sudah mendingin kala tiba di permukaan Bumi, maka tumbukan itu disertai peristiwa pelepasan hampir seluruh energi kinetiknya di udara (airburst) dengan titik airburst di ketinggian cukup rendah sehingga jatuhnya keping-keping meteor yang tersisa tak punya waktu mencukupi untuk mendingin selama masih di udara. Dan yang keempat, energi yang dilepaskan airburst cukup kecil sehingga dampak sinar panas dan gelombang kejutnya terbatasi hanya di Wadi Muhassir saja tanpa keluar dari kawasan tersebut.

Saat meteoroid memasuki atmosfer Bumi sebagai meteor dan mengalami airburst, ia melepaskan energi kinetik dalam jumlah tertentu sesuai dimensi (massa)-nya dan kecepatannya. Pelepasan energi kinetik dalam airburst mirip dengan ledakan. Dan jika kuantitas energi kinetiknya cukup besar, yakni lebih besar dari 4.184 GigaJoule (1 kiloton TNT), maka pola ledakannya menyerupai ledakan nuklir, terkecuali radiasinya. Sehingga airburst berenergi tinggi pun melepaskan gelombang kejut (shockwave) dan panas (thermal rays) dengan segala akibatnya, termasuk bila mengenai manusia. Contoh terkini bagaimana airburst berenergi tinggi berdampak cukup signifikan pada manusia terlihat pada Peristiwa Chelyabinsk (Russia) 15 Februari 2013 silam, yang melepaskan energi 500 kiloton TNT hingga mengakibatkan kerusakan signifikan dan jatuhnya korban luka-luka akibat hempasan gelombang kejutnya. Sebagai pembanding, energi ledakan bom nuklir di Hiroshima pada akhir Perang Dunia 2 adalah 20 kiloton TNT.
Gambar 4. Peta area terdampak paparan panas hasil simulasi ledakan nuklir berkekuatan 28 kiloton TNT dengan titik ledak 600 meter di atas Wadi Muhassir. Tanda bintang menunjukkan posisi ground zero, sementara kotak menunjukkan kotasuci Makkah 14 abad silam. Lingkaran jingga merupakan area terdampak paparan panas penyebab luka bakar tingkat tiga, dua dan satu. Sementara lingkaran coklat menunjukkan area terdampak paparan panas penyebab luka bakar tingkat dua dan satu. Dan lingkaran kuning menunjukkan area terdampak paparan panas yang hanya menyebabkan luka bakar tingkat satu. Garis putus-putus adalah proyeksi lintasan asteroid 1.600 ton sementara tanda panah menunjukkan lintasan asteroid dalam 8 km terakhir. Panduan arah, atas = utara. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.
Bagaimana dengan Wadi Muhassir? Simulasi berbasis ledakan nuklir menunjukkan bahwa airburst pada ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut, atau 600 meter di atas Wadi Muhassir, mampu melepaskan gelombang kejut dan panas yang berdampak signifikan bagi daratan Wadi Muhassir jika energi kinetik yang dilepaskan sebesar 28 kiloton TNT atau 1,4 kali lipat kekuatan bom nuklir Hiroshima. Dampak gelombang kejut dan panas bagi manusia bergantung kepada jarak mendatarnya terhadap ground zero (titik di permukaan Bumi yang tepat ada di bawah titik airburst). Gelombang kejut bisa memecahkan memecahkan paru-paru bagi orang yang ada di sekitar ground zero, memecahkan gendang telinga untuk orang yang berada hingga jarak 1,5 km dari ground zero, sanggup melengkungkan logam hingga jarak 3,4 km dari ground zero dan bahkan masih sanggup menjatuhkan sesosok manusia yang berdiri meski berada pada jarak hingga 3,8 km dari ground zero. Terlihat bahwa tingkat kerusakan akibat hempasan gelombang kejut ini bervariasi mulai dari luka ringan-menengah (jatuhnya orang yang semula berdiri) hingga berat-mematikan (pecahnya gendang telinga dan paru-paru).

Sementara panas produk airburst mampu menciptakan luka bakar tingkat tiga bagi manusia hingga jarak 2,2 km dari ground zero, menghasilkan luka bakar tingkat dua hingga sejauh 2,6 km dari ground zero dan memproduksi luka bakar tingkat satu hingga jarak 3,5 km dari ground zero. Tingkatan kerusakan akibat hempasan panas juga bervariasi mulai dari ringan (luka bakar tingkat satu) hingga berat dan mematikan (luka bakar tingkat tiga). Luka bakar tingkat berciri khas memerahnya permukaan kulit akibat paparan panas dan mudah sembuh. Sementara pada luka bakar tingkat tiga, tak hanya permukaan kulit namun jaringan kulit dibawahnya dan bahkan jaringan otot/pembuluh darah pun terpengaruh. Proporsi bagian tubuh yang terbakar dalam luka bakar tingkat tiga mencapai lebih dari 50 % sehingga cukup berpotensi fatal. Panas yang menyebabkan luka bakar tingkat tiga setara dengan panas yang sanggup menghanguskan batang-batang tanaman keras, juga setara dengan panas yang mampu membakar kertas secara spontan.
Gambar 5. Ilustrasi (bukan simulasi) saat-saat gelombang kejut mulai terbentuk di udara sesaat pasca airburst dengan mengacu pada peristiwa Chelyabinsk 2013. Segitiga menunjukkan posisi Wadi Muhassir. Gelombang kejut nampak masih kecil dan masih berada di sekitar lintasan asteroid, dengan kuat tekanan yang besar. Panduan arah, kiri = barat. Sumber: Popova dkk, 2013.
Secara geografis Wadi Muhassir merupakan bagian dari lembah besar yang semi tertutup dan dipagari oleh jajaran perbukitan berbatu nan tandus di sisi utara, timur dan baratnya. Lembah besar itu hanya terbuka di ujung selatannya saja, dimana padang Arafah berada. Seluruh kawasan Mina dan Muzdalifah terletak di dalam lembah besar ini. Maka meskipun hanya berjarak 6 km saja dari pusat kotasuci Makkah, namun antara Wadi Muhassir dan kotasuci tersebut dipisahkan oleh perbukitan berbatu yang menjulang hingga setinggi 150 meter. Karakter geografis Wadi Muhassir yang demikian membuat gelombang kejut dan panas yang diproduksi airburst maupun peristiwa mirip ledakan nuklir lainnya hanya berdampak di dalam lembah tanpa bisa keluar darinya karena halangan alamiah dari perbukitan berbatu yang menjulang tinggi. Hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada kota Nagasaki saat dibom nuklir pada 9 Agustus 1945 menjelang berakhirnya Perang Dunia 2. Meski kekuatan bom nuklir Nagasaki lebih besar ketimbang Hiroshima, namun dengan kota yang berada di dasar lembah dipagari perbukitan di sekelilingnya, maka luas area yang terhantam gelombang kejut maupun panas di Nagasaki justru lebih kecil dibanding Hiroshima. Implikasinya korban jiwa yang jatuh di Nagasaki pun lebih terbatas.

Perhitungan lebih lanjut dengan menggunakan persamaan-persamaan dari Collins (2005) menunjukkan airburst berenergi 28 kiloton TNT bisa terjadi jika ada asteroid kaya besi-nikel (massa jenis 7.900 kg per meter kubik) berdiameter 7,25 meter yang menuju ke Bumi sebagai meteoroid. Saat memasuki atmosfer Bumi, asteroid bermassa 1.600 ton itu melejit pada kecepatan 12,2 km/detik (44.100 km/jam), kecepatan yang sangat tinggi untuk ukuran manusia namun tergolong lambat untuk ukuran benda langit seperti asteroid dan komet pengancam Bumi. Begitu memasuki atmosfer, meteoroid ini berubah menjadi meteor-terang (fireball). Jika lintasan meteoroid membentuk sudut zenith 70° terhadap permukaan Wadi Muhassir (atau datang dari ketinggian rendah yakni hanya 20°), maka meteor-terang itu akan memijar hingga hampir sama terangnya dengan Bulan purnama, sehingga mudah dilihat manusia meski di pagi hari. Di sepanjang lintasannya meteor-terang itumemproduksi jejak asap tebal diiringi gemuruh dentuman sonik.
Gambar 6. Ilustrasi (bukan simulasi) saat-saat gelombang kejut mulai berkembang di udara dalam beberapa detik pasca airburst dengan mengacu pada peristiwa Chelyabinsk 2013. Segitiga menunjukkan posisi Wadi Muhassir. Gelombang kejut nampak mulai mengembang meski masih berada di sekitar lintasan asteroid, dengan kuat tekanan mulai sedikit menurun. Panduan arah, kiri = barat. Sumber: Popova dkk, 2013.
Pada ketinggian sekitar 2.300 meter dari permukaan laut, besarnya tekanan ram akibat tingginya kecepatan meteor membuat struktur materi penyusun asteroid tak sanggup lagi mempertahankan kekuatannya. Maka terjadilah awal pemecah-belahan yang membuat meteor-terang menjadi berkeping-keping. Reaksi pemecah-belahan terus berlangsung hingga kepingan-kepingan tersebut sampai di ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut, saat airburst terjadi dan menghasilkan kilatan cahaya yang nyaris seterang Matahari. Selain menghempaskan gelombang kejut dan panas, airburst juga meremukkan sebagian keping meteor dan mengubahnya menjadi bubuk debu yang melayang di udara. Sebagian lainnya tetap bertahan dan melanjutkan perjalanan ke permukaan Bumi. Namun dengan titik airburst yang sangat rendah, maka keping-keping meteor yang tersisa ini hanya menempuh jarak 3.000 meter lagi di udara sebelum kemudian menjatuhi Wadi Muhassir. Akibatnya keping-keping meteor tersebut masih sangat panas dan berkecepatan tinggi, sehingga saat jatuh di Wadi Muhassir bisa diibaratkan laksana guyuran peluru kaliber besar.

Kehancuran oleh Meteor
Dapat dilihat bahwa peristiwa airburst sebuah asteroid kaya besi-nikel, yang adalah induk meteorit siderit (besi), akan menghasilkan tiga dampak signifikan yang berdaya bunuh bagi manusia. Pertama adalah hempasan gelombang kejutnya. Kemudian yang kedua, paparan panasnya. Dan yang terakhir adalah hantaman keping-keping meteornya yang masih tersisa sebagai meteorit.

Dengan dampak semacam itu kita bisa membayangkan apa yang terjadi pada pasukan Gajah saat mendadak terlihat adanya meteor-terang mendekat dengan cepat di langit barat. Awalnya mereka tercengang oleh pemandangan aneh di langit yang dipenuhi kilatan cahaya terang, percikan api mirip kembang api, jejak asap tebal kelabu yang bergulung-gulung dan sama sekali tak mirip awan serta gemuruh suara menderu laksana ribuan burung yang sedang mencicit di langit. Terpana oleh semua pemandangan yang tak pernah disaksikan tersebut, tak satupun yang sempat bereaksi. Hingga terjadilah kilatan cahaya sangat terang menyamai Matahari yang disertai dentuman suara menggelegar yang memicu kepanikan luar biasa. Namun belum sempat bereaksi lebih jauh, mendadak udara terasa memanas hebat bersamaan dengan terjadinya hempasan angin luar biasa kencang sebagai manifestasi dari panas dan gelombang kejut. Panas dibawa oleh sinar inframerah sehingga melaju dengan kecepatan cahaya sementara gelombang kejut menjalar dengan kecepatan supersonik.

Hantaman gelombang kejut membuat para prajurit bertumbangan beserta hewan kendaraannya. Pada saat bersamaan panas tinggi pun menebar petaka. Akibatnya mereka yang sudah menderita luka-luka fisik dalam beragam tingkat akibat hempasan gelombang kejut kini mendapatkan tambahan luka-luka bakar dalam beragam tingkat akibat paparan panas. Sebagian mereka mungkin langsung menghangus akibat luka bakar tingkat tiga yang fatal. Sementara sebagian lainnya harus menahan perih menderita luka-luka fisik akibat hantaman gelombang kejut dan luka bakar tingkat dua maupun satu. Di tengah kekacauan itu mendadak langit mengguyurkan batu-batu panas seukuran kerikil yang melejit cepat laksana peluru kaliber besar, yang kini kita kenal sebagai peluru khusus untuk berburu binatang besar. Tubuh-tubuh yang terluka itu pun terhantam batu-batu itu secara beruntun. Maka tersungkurlah sebagian besar mereka hingga menemui ajalnya. Sisanya yang luput dari kematian di Wadi Muhassir dan lari terbirit-birit pulang ke Yaman masih merasakan penderitaan dengan luka-luka bakar dan fisik di sekujur tubuhnya. Tanpa perawatan memadai, luka-luka tersebut akan menjadi tempat hinggap dan berpesta poranya bakteri patogen hingga timbul infeksi dalam beragam tingkat keparahan. Tanpa penanganan medis memadai, maka satu persatu dari mereka yang berhasil menyelamatkan diri pun menyusul tewas berjatuhan di sepanjang perjalanan pulang ke Yaman. Bahkan meskipun telah tiba di Yaman, seperti Abrahah.
Gambar 7. Ilustrasi (bukan simulasi) saat-saat gelombang kejut sudah demikian meluas di udara dan mulai menyentuh tanah dalam beberapa belas detik pasca airburst dengan mengacu pada peristiwa Chelyabinsk 2013. Segitiga menunjukkan posisi Wadi Muhassir. Gelombang kejut telah demikian meluas hingga seakan membentuk tabung, dengan kuat tekanan lebih menurun dibanding beberapa detik sebelumnya. Meski demikian saat menyentuh tanah gelombang kejut itu masih cukup mampu menimbulkan kerusakan dan mematikan bagi manusia. Panduan arah, kiri = barat. Sumber: Popova dkk, 2013.
Dalam sejarah umat manusia, bencana akibat hantaman benda langit (meteor) telah beberapa kali terjadi. Misalnya di Cina pada tahun 1490 yang disebut-sebut menewaskan hingga 10.000 orang, meski jumlah korban jiwa ini dianggap terlalu dibesar-besarkan. Juga di pulau Saarema di Teluk Riga (Estonia) pada 7.000 tahun silam, saat sebongkah asteroid kaya besi-nikel menghantam dengan titik target tepat berimpit dengan pemukiman suku Nordik di sini. Tumbukan itu melepaskan energi 1,5 kiloton TNT dan sontak mengubah pemukiman menjadi daratan gersang berhias lubang-lubang kawah yang salah satunya kini tergenangi air sebagai Danau Kaali (Kaalijarv). Hubungan tumbukan benda langit dengan hancurnya pasukan Gajah akan terbukti jika pada lapisan-lapisan batuan di Wadi Muhassir dijumpai jejak meteorit besi-nikel dari masa 14 abad silam. Namun kalaupun benar demikian, maka mengapa terdapat sebutir asteroid yang memiliki massa demikian tepat dan pada waktu yang tepat jatuh ke Wadi Muhassir di antara milyaran asteroid lainnya yang bergentayangan di dalam tata surya adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab perhitungan-perhitungan ini sebagai bagian dari rahasia Allah SWT. Wallahua’lam bishshawab.

Referensi : Collins dkk. 2005. Earth Impact Effects Program : A Web–based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth. Meteoritics & Planetary Science 40, no. 6 (2005), 817–840.

Sumber

 

Followers

Direkomendasikan Facebooker

Lalu Lintas Netter