ULAMA PANUTAN MERUJUK KEPADA SYARIAT YANG BENAR

Oleh: H. Luthfi Bashori

Kewaspadaan umat, khususnya akhir-akhir ini, perlu ditingkatkan secara terus menerus, terutama di kalangan masyarakat awam yang banyak menjadi korban, karena ketidakmengertian di bidang ilmu agama.
Seringkali kita dengar adanya penipuan berkedok agama oleh `tokoh agama`. Tentunya `tokoh agama` yg dimaksud di sini adalah `oknum` yang tidak bertanggung jawab. Maka ekses yang ditimbulkan, adakalanya munculnya aliran baru dengan ajaran yang sebelumnya tidak pernah didengar sama sekali, bahkan sangat berbeda dengan apa yg umumya dipahami oleh masyarakat.

Tidak jarang pula sang oknum secara vulgar mentahbiskan diri sebagai figur seorang Ulama dengan segudang predikat, semisal Kiai, Gus, Habib, Tuan Guru, Ustadz, dll. Padahal dirinya tidak mengerti `Alif Bengkong` (sebuah istilah yang digunakan oleh kalangan pondok pesantren sebagai simbul pintar mengaji).
Predikat-predikat tersebut, pada hakikatnya bukanlah hasil `rekayasa` sebuah lembaga resmi pemerintahan maupun lembaga pendidikan. Bahkan pondok pesantren sekalipun, tidak bisa menjamin seluruh alumninya menjadi ulama panutan umat, karena pemberian predikat ini menjadi hak `prerogatif` Allah, selaku penentu tunggal bagi nasib dan kodrat hamba ciptaan-Nya. Yang mana pemberian gelar itu dilewatkan `kesepakatan` masyarakat yang tidak dapat diganggu gugat.
Sering terjadi fenomena di antara para ulama, ternyata mereka tidak tahu dengan pasti, mulai kapan dirinya dipanggil dengan sebutan Kiai, atau Gus, atau Ustadz, dll oleh masyarakat.
Namun ada pula di kalangan ulama yang lebih senang dipanggil dengan sebutan yang umum dipergunakan oleh sesepuh masyarakat seperti panggilan Mbah, Pak, Mas, Kang, Bang, dll. Padahal eksistensi mereka sebagai ulama tidak perlu diragukan.
Realita ini sangat kontradiksi dengan perilaku Sang Oknum pengguna gelar karbitan, yang tidak jarang dalam praktek `ritualnya` sengaja menggaet masyarakat kelas bawah, menengah, bahkan kalangan atas, dengan kemahirannya berdiplomasi dan tutur bahasa yang menarik disertai `bumbu-bumbu` tertentu untuk `menundukkan` calon `mangsa`nya.
Biasanya `ritual` yang diperagakan, tiada lain hanyalah sebagai kedok untuk memuluskan `ambisi` pribadinya. Bisa jadi mencari uang, fasilitas, atau kedudukan. Runyamnya, banyak asyarakat terperdaya hanya karena melihat penampilan, gaya tutur kata, keberaniannya saat mendekati `calon mangsa`, atau terkadang masyarakat hanya sekedar melihat garis keturunan, tanpa mau menyeleksi secara jeli, benar, dan mendasar tentang hakikat keilmuan dan akhlaq keulamaan Sang Oknum.
Dengan adanya figur oknum semacam ini, maka seringkali `institusi Ulama` berpredikat Kiai, Gus, Habib, Tuan Guru, Ustadz yang benar-benar original sesuai dengan `rukun dan syarat` -nya, menjadi tercemari. Hal ini karena masyarakat awam, kadangkala `menggebyah uyah` saat menghukumi pelanggaran etika yang dilakukan oleh Sang Oknum.
Contoh kongkrit, semisal adanya seorang mantan petinju, yang badannya dibalut dengan tato, serta memelihara anjing Herder, tiba-tiba mentahbiskan diri sebagai Kiai atau Gus. Bahkan karena suatu sebab, keberadaannya dibollow up oleh media. Oknum ini mengajarkan ritual ‘nyelenehnya’ yaitu mengajak para pengikutnya untuk shalat berjamah dengan menggunakan dwi bahasa. Padahal jika ditilik dengan seksama, maka background hidupnya sangat bertentangan dengan `rukun dan syarat` menjadi figur seorang ulama.
Contoh lain adalah adanya sekelompok oknum yang berpemikiran liberal. Mereka menerjemahkan ajaran agama disesuaikan keinginan hawa nafsunya, Sebagai contoh, mereka menganggap khamer atau minuman keras itu halal, jika saat meminumnya tidak sampai mabuk.
Disinilah para Ulama yang benar-benar waratsatul anbiya (pewaris para Nabi) harus berani dengan tegas menerangkan kepada umat, bahwa tidak semua orang yang di`predikat`kan sebagai Kiai, Gus, Habib, Ustadz, dll harus diikuti dengan membabi buta, tetapi hendaklah umat Islam cerdas membaca, manakala ada oknum berpredikat Kiai, Gus, Habib, Ustadz, dll tetapi mengajarkan `ilmu` yg bertentangan dengan Alquran dan Hadits, serta ajaran para ulama salaf, maka umat harus meninggalkannya, bahkan wajib ikut `memerangi` aqidahnya. Wallahu a’lam.

sumber: http://pejuangislam.com
Selengkapnya...

Tahun Baru Masehi: Sejarah Kelam Penghapusan Jejak Islam

Dalam beberapa hari ke depan, tahun 2009 akan segera berganti, dan tahun 2010 akan menjelang. Ini tahun baru Masehi, tentu saja, karena tahun baru Hijriyah telah terjadi satu pekan yang lalu. Bagi kita orang Islam, ada apa dengan tahun baru Masehi?

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Perayaan Tahun Baru

Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.

Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.

Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu

Seperti kita ketahu, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).
Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year's Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan "Selamat Tahun Baru" dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja!
Bagi kita, orang Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa pekan yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun.
sumber: http://www.eramuslim.com
Selengkapnya...

ANAK-ANAK NEGERI INI

Sore itu saya menghadiri acara “Mimbar Dakwah” yang diadakan oleh LDK Al-Fatih Fakultas Syari’ah. Karena acara selesai menjelang maghrib,maka kuputuskan untuk shalat maghrib di mesjid kampus. Ba’da maghrib kukayuh sepeda yang kupinjam dari seorang teman ini untuk pulang menuju kos.
Saat ku keluar kawasan kampus, setelah melewati gerbang kampus, ku berpapasan dengan beberapa anak-anak yang berjalan berpasangan. Kulihat kaki mereka tanpa alas. Diantara mereka juga ada yang merokok. Masing-masing dari mereka membawa sebuah benda yang jika kita melihatnya pasti kita akan mengerti apa gunanya.
“Kecek-kecek”, begitu aku menyebut benda itu. Benda yang terbuat dari tutup botol yang dipipihkan dan dipakukan pada sebatang kayu yang mempunyai panjang kira-kira 20-40 cm itu sudah sering kulihat. Kita semua pun pasti tahu apa fungsi dari benda itu. Ya, benda itu digunakan untuk mengiring kita dalam bernyanya. Cukup dengan menggoyang-goyangnya maka akan menghasilkan suara kecek-kecek. Itulah sebabnya kenapa kumenyebut benda itu dengan nama kecek-kecek, seperti bunyi yang dihasilkannya.
Tanpa bertanya, kusadar bahwa mereka adalah para pengamen. Mereka mencari rizki dengan menggelar “konser” dadakan di warung-warung makan yang ada di tepi jalan, walaupun harus menjadi Jailangkung, datang tak diundang - pulang tak diantar. Mereka mengulang konser yang sama diwarung-waurng yang lain sepanjang jalan itu.
Dengan suara “emas” yang mereka milik, dan tentu dengan “gitar” kecek-keceknya, mereka bernyanyi tanpa diminta. Beberapa menit mereka bernyanyi, mereka kemudian menyodorkan topi yang dibalik atau kaleng kosong dengan harapan akan ada yang membalas jasa mereka karena telah menghibur orang-orang yang ada ditempat itu. Mungkin mereka tak berharap banyak, “seribu juga cukup”, begitu kira-kira gumam mereka. Walaupun tentu mereka tak akan menolak jika ada yang member lebih.
Ini merupakan pemandangan yang sudah wajar di kota-kota besar di Indonesia. Untuk Banjarmasin, ini merupakan tren yang baru “naik daun”. Sebelum tren ini, telah lama hidup saudara tua dari mengamen, yakni mengemis.
Dalam pandanganku, antara mengamen dan mengemis adalah satu jenis pekerjaan yang sama, yakni “menadahkan tangan”. Hanya saja ada perbedaan yang membuat kita tak menyamakannya. Mengamen itu lebih “professional” karena menjual kebolehan dalam mengolah suara, bandingkan dengan mengemis yang tak melakukan apa-apa namun mengharap belas-kasih-iba orang.
Saya bukan sedang berbicara bagaimana mereka “menadahkan tangan”?! tapi lebih dari itu, saya mengajak kita semua untuk berpikir dan menjawab pertanyaan, kenapa mereka “menadahkan tangan”?!
Saya sangat sedih melihat semua kenyataan ini. Mereka adalah anak-anak yang dalam perkiraanku mempunyai usia berkisar 8-12 tahun. Usia yang masih kanak-kanak, namun harus menjalani hidup yang keras sebagai anak jalanan. Padahal mereka adalah bibit pemimpin yang diharapkan bisa membuat perubahan di masa depan.
Seharusnya mereka sedang menikmati lezatnya membaca al-Quran bersama keluarga mereka. Semestinya mereka sedang tenggelam dalam asyiknya belajar.
Yang lebih membuat hati ini sakit adalah kenyataan bahwa mereka hidup di suatu negeri yang kaya akan alamnya. Mereka hidup disebuah negeri yang karena kesuburan dan keindahannya orang-orang memberi sebutan negeri itu sebagai Zambrut Katulistiwa. Sungguh ironis!
Kemana limpahan rizki yang diberikan Tuhan kepada negeri ini? Emas, minyak, batu bara, kemana uang hasil penjualan benda-benda itu? Siapa sebenarnya yang lebih berhak menikmati kesejahteraan dari semua itu, rakyat kecil atau mereka yang menjadi “penanggung jawab” negeri ini? Atau para pemilik modal yang telah membeli negeri ini?
Beginilah akibat jika negeri ini mengatur hidupnya dengan aturan-aturan buatan manusia! Aturan itu hanya akan mensejahterakan sebagian kecil rakyat. Kondisi yang “mengenaskan” ini akibat dari lalainya kita terhadap peringatan Allah swt.
Sungguh saudaraku, tak ada aturan dalam mengelola negeri ini yang dapat membuat hidup kita tenang dan tentram kecuali aturan yang turun dari pemilik alam ini. Karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk makhluk-Nya!
Akhirnya kuhanya bisa menarik nafas dan berdoa, semoga kita kembali pada syari’atnya. Semoga anak-anak jalanan itu bisa menikmati hidup mereka yang seharusnya. Semoga…!!!



Selengkapnya...

Debatku dengan Penjual Buku

Pada hari selasa kemaren, tanggal 8 desember, kupergi menuju PascaSarjana IAIN,untuk browsing di warnet. Karena alasan listrik yang tidak sanggup menahan beban maka warnet belum dibuka. Hal itu karena pada waktu itu sedang berlangsung kuliah. Mendengar hal itu, sayapun memutuskan untuk melihat-lihat buku yang dijual didepan pintu masuk gedung Pasca Sarjana. Sayapun asyik membolak-balik buku-buku yang ada cukup lama, karena memang tak ada niat untuk membeli.
Dalam keasyikanku, penjual buku dan pengujung lain membicarakan tentang buku yang mereka anggap sebagai buku bagus dan bermutu. Salah satu yang dianggap sebagai buku yang bagus adalah buku “ILUSI NEGARA ISLAM”. Komentar pun meluncur dari penjual buku, bahwa buku itu adalah hasil penelitian yang ilmiah dan merupakan sebuah fakta.
Bukan bermaksud ashobiyah, karena saya tahu bahwa buku itu sangat jauh dari Ilmiah. Maka saya pun mencoba untuk menyampaikan hal itu kepada penjual buku, tentu saja dengan Hikmah. Entah kenapa, penjual buku itu tetap ngotot tak perduli, dia tetap pada pendiriannya bahwa buku itu sebuah fakta yang nyata, dan merupakan sebuah kebenaran. Terutama mengenai Hizbut Tahrir (HT). Mulai dari pengambilan mesjid, pengusiran terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan HT, sampai fitnah bahwa HT adalah aliran sesat, semua dibenarkannya!
Sebagai seorang muslim, dan sekaligus sebagai kader HT, saya terus menyampaikan semua bahwa semua itu tidak benar, itu hanya fitnah. Saya katakan bahwa HT mempunyai methode yang jelas dalam perjuangannya. HT hanya ingin mengembalikan kemuliaan Islam dan Ummat Islam, yang dalam dalam pandangan HT adalah dengan kembali kepada Islam itu sendiri. Yakni kembali kepada Islam yang kaffah, menerapkan syari’at Islam secara sempurna dalam suatu institusi Negara, Daulah Khilafah Islamiyah.
Dari sini kemudian kami terlibat debat, terutama tentang penerapan syari’at. Menurutnya HT dan gerakan-gerakan yang ingin menerapkan syariat islam adalah gerakan radikal. Gerakan-gerakan itu menurutnya memaksakan kehendak untuk menerapkan syari’at di Indonesia.
Tanpa henti saya terus sampaikan bahwa syari’at Islam itu adalah sebuah keawajiban. HT dan gerakan yang ingin menerapkan syari’at Islam tidaklah memaksakan kehendak, tapi islamlah yang “memaksa” (baca: mewajibkan) kita untuk menerapkan Syariat.
Yang paling membuatku terenyuh adalah ketika dia membantah pendapatku bahwa syari’at islam itu tidak wajib. Termasuk juga memakai jilbab, menurutnya bukan sebuah kewajiban. Pun dengan potong tangan, rajam, qishash dan hukum Islam dalam masalah public lainnya. Menurutnya ayat-ayat tentang syari’at tadi tidaklah qath’I, tapi bersifat ijtihadi.
Dalam mengemukakan pendapatnya, dia mengatakan bahwa, ”Quraish Shihab menganggap Jilbab sebagai khilafiah”, dia juga mengatakan “ulama NU tidak mewajibkan syari’at islam”.
Berulang kali saya mengucapkan istighfar sambil terus menjelaskan bahwa ulama-ulama salaf maupun khalaf tak ada perbedaan dalam kewajiban berjilbab bagi wanita dan syari’at-syari’at lainnya, kecuali ulama-ulama gadungan yang menjual agamanya.
“Jika anda berbohong, berarti anda telah memfitnah para ulama”. Begutu vonisku. Diapun telihat gugup. Selain itu juga saya katakana, “saya tidak peduli siapapun yang mengatakan Jilbab tidak wajib maka ulama itu adalah ulama yang bathil”.
Karena mungkin memang yang ada dalam otaknya adalah, “say no to syari’at” atau “say no to HT”, maka argument-argumen yang saya berikan tak membuatnya berubah pendirian.
Menurutnya HT dan gerakan-gerakan radikal memahami ayat al-Qur’an dengan tekstual. Tentu saja saya luruskan. Tidak ada ulama yang mamahami al-Qur’an itu secara tekstual. Semuanya menggunakan metode tafsir yang jelas. Asbabun Nuzul dan kaidah-kaidah tafsir yang lain menunjukan tidak ada penafsiran secara tekstual. Termasuk dalam memahami ayat potong tangan dan lain sebagainya yang sudah qath’i.
Anehnya si penjual buku itu menyarankan saya untuk memperdalam tafsir al-Qur’an dengan membuka buku yang berkenaan dengan KOSA KATA AL-QUR’AN. “Bukankah itu artinya anda memahami al-Qur’an secara tekstual?!!!”, bantahku.
Setelah cukup lama adu argument, akhirnya penjual buku mulai diam. Sayapun mengajaknya untuk tidak menerima informasi begitu saja tanpa ada tabayyun. “Mari kita perdalam ilmu agama kita dengan pemahaman yang benar!”.
Akupun kemudia mengucapkan salam dan meninggalkan penjual buku itu dengan hati panas. Bukan karena dia benci HT, bukan pula karena dalam debat itu dia sempat mengatakan, “kamu perlu banyak baca lagi” yang maksudnya mengatakan bahwa saya masih bodoh. Bukan.
Hati ini panas karena dia adalah seorang muslim, tapi kok benci benci syari’at. Hati ini panas karena disekitarku, dikampusku, telah tumbuh tanaman-tanaman liar yang mengancam aqidah ummat.
Saya hanya berdo’a semoga penjual buku dan orang-orang yang sejenis dengannya kembali kepada pemahaman yang benar. Dalam hati sayapun bertekad untuk menjadi Penjadi Penjaga Islam. Semoga Allah menolongku dan meridhoi harapanku. Amin!!!



Selengkapnya...

Idul Adha: Momentum Membebaskan Ummat

Beberapa hari lagi kita akan merayakan hari raya Idul Adha atau hari raya Kurban. Sudah sepatutnya kaum Muslim di seluruh dunia bergembira menyambut hari raya Ied. Sayangnya, kita merayakan Idul Adha tatkala seluruh kehormatan dan kemuliaan yang telah dilekatkan oleh Rasulullah saw pada umat ini telah dinodai oleh orang-orang kafir. Seoalah-olah kaum kafir berkata, “kami akan merayakan hari raya kalian dengan darah-darah saudara kalian sendiri.”

Darah umat Islam yang menjadi simbol kehormatan dan kemuliaan mereka, ditumpahkan di depan mata mereka tanpa pembelaan sedikit pun. Contoh yang nyata dan masih berlangsung adalah usaha kaum Zionis-Yahudi untuk menghancurkan Al-Aqsha’ dan mengusir kaum muslimin yang hendak shalat disana.

Di manapun umat Islam berada, mereka menjadi santapan yang dikelilingi oleh umat dan bangsa lain, laksana srigala-srigala buas nan lapar yang tengah mengintai dan mengepung sekawanan domba. Rasulullah saw. telah menggambarkan kondisi semacam itu dalam hadisnya:

“Kalian benar-benar dikelilingi oleh berbagai umat/bangsa lain, persis sebagaimana kalian mengelilingi hidangan, dimana mereka mengambil (makanan) darinya.” (HR Ahmad dari Tsauban)

Lebih menyedihkan lagi, para penguasa kaum Muslim yang seharusnya menjadi pengayom dan pembela mereka, telah bekerjasama dengan orang-orang kafir untuk menodai kehormatan dan kemuliaan kaum Muslim. Mereka hanya beretorika belaka ketika mengecam aksi yang dilakukan Israel, tapi disaat yang sama mereka membiarkan saja saudaranya dibunuh. Belum lagi penangkapan terhadap para aktivis Muslim di sejumlah negeri-negeri Islam. Seluruh konspirasi kotor dan menjijikkan ini mustahil bisa terwujud jika negara-negara kafir imperialis itu tidak mempunyai kaki tangan di kalangan umat ini. Padahal, Rasulullah saw. telah berpesan:

“Orang-orang Mukmin itu darahnya sama. Mereka bagaikan tangan (yang membela sesama mereka) terhadap orang lain (musuh-musuh mereka), selain mereka; dengan jaminan (tanggungjawab) mereka, orang-orang yang lebih rendah daripada mereka akan memperoleh perlindungan. Ingatlah, sesungguhnya seorang Mukmin tidak boleh dibunuh, karena orang kafir.” (HR an-Nasa’i dari ‘Ali)

Tidak cukup dengan itu, harta-benda dan kekayaan alam umat Islam pun, yang seharusnya menjadi kehormatan dan kemuliaan mereka, telah dikeruk, dijarah, dan dirampok di depan mata kaum Muslim dan para penguasanya tanpa ada pembelaan sedikitpun dari para penguasa mereka. Para penguasa Muslim memberikannya kepada orang-orang kafir imperialis atas nama privatisasi, konsesi, kontrak karya, penanaman modal asing, dan semacamnya. Semua itu menunjukkan ketidakberdayaan dan kehinaan kita sebagai umat Islam di depan orang-orang dan negara-negara kafir. Padahal, harta-harta itu merupakan kehormatan dan kemuliaan yang harus kita pertahankan. Rasulullah saw. telah berwasiat di dalam khutbah ‘Arafahnya:

“Wahai para manusia, sesungguhnya, darah-darah kalian dan harta-harta kalian merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari kalian ini, di bulan dan di negeri kalian ini.” (HR Muslim dari Jabir)

Kekayaan dan sumber alam yang dimiliki oleh kaum Muslim merupakan harga diri mereka. Mereka akan sangat terhina jika harga diri mereka dinodai, diinjak-injak, dan dijarah di depan mata mereka tanpa dibela oleh pihak yang seharusnya memberikan pembelaan dan penjagaan. Sungguh, kenyataan seperti itu bertolak belakang dengan sikap sahabat-sahabat Rasulullah saw.

Tatkala posisi kaum Muslim terjepit oleh kepungan pasukan Ahzab dan persekongkolan jahat kaum Yahudi dengan koalisi Quraisy yang kafir, muncul usulan untuk mengurangi tekanan terhadap kaum Muslim di kota Madinah dengan cara memberikan kompensasi hasil kurma Madinah kepada orang-orang kafir itu. Akan tetapi, salah seorang pemuka Anshar menolak dan berkata kepada Nabi saw.:

“Wahai Rasulullah, ketika kami dan kaum itu sama-sama masih menyekutukan Allah, menyembah berhala, tidak menyembah Allah dan mengenal-Nya, mereka saja tidak berani memakan kurma dari kebun (kami di) Madinah, kecuali sebagai jamuan (untuk tamu) atau (dengan cara) membelinya. Apakah ketika kami telah dimuliakan oleh Islam, ditunjukkan pada jalannya, dan dimuliakan dengan (kehadiran) engkau dan Islam ini, lalu kami harus memberikan harta kami kepada mereka? Demi Allah, kami tidak membutuhkan ini. Demi Allah, kami tidak akan memberikan kepada mereka selain pedang, sehingga Allahlah yang akan memutuskan (siapakah yang menang) di antara kami dan mereka. (HR Ibn Hisyam dari Ibn Syihab az-Zuhri).

Demikianlah, sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh para penguasa kaum Muslim, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Sa’ad bin Mu’adz di depan Rasulullah saw. Yaitu bersikap ‘izzah (mulia) di depan negara-negara kafir. Bukan tunduk dan patuh, menunjukkan kehinaan dan hilangnya martabat sebagai kaum Muslim.

Sungguh, kehinaan demi kehinaan, serta pertumpahan darah dan penjarahan kekayaan alam umat ini semata-mata terjadi karena Islam telah dijauhkan dari kehidupan mereka. Islam telah diubah sebagai agama ritual di masjid-masjid, atau agama seremonial dalam perayaan-perayaan tertentu. Sementara itu, para ‘ulama’ mereka telah dikebiri hanya sebagai pemberi nasihat yang kering lagi membosankan, yang terbatas hanya menjelaskan seputar urusan haid, nifas, nikah, talak, waris, urusan rumah tangga, qalbu, dan sejenisnya.

Pemikiran mereka jumud, seperti buku yang ada di rak-rak perpustakaan, sehingga berbagai upaya penyesatan yang sengaja dirancang oleh orang-orang kafir imperialis dengan kaki tangan mereka dengan maksud untuk menghancurkan Islam dan umatnya tidak bisa mereka baca. Penyesatan politik, intelektual dan kultural, berlangsung begitu saja, sementara mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang ikut tersesatkan sebagai akibat dari kejumudan pemikiran mereka.
Penyesatan politik, penyesatan intelektual, dan penyesatan kultural dirancang untuk:

1. Melenyapkan sisa-sisa terakhir pemikiran Islam;
2. Melanggengkan cengkeraman negara-negara kafir terhadap diri dan negeri mereka
3. Mengubah pandangan ke-Islaman mereka secara fundamental; dan
4. Menjerat masa depan mereka untuk selamanya di bawah kendali negara-negara kafir imperialis.

Darah, nyawa, dan kehormatan kaum Muslim serta harta benda mereka tidak ada harganya di mata orang-orang kafir imperialis. Amerika dan sekutunya bak monster yang haus darah mengintai mangsa-mangsa negeri-negeri Islam berikutnya. Padahal, 14 abad yang lalu, Rasulullah saw. telah menyatakan:

“Sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari kalian ini, di bulan dan di negeri kalian ini (HR Muslim dari Jabir).

Jika demikian kondisinya, patutkah kita menggantungkan hidup dan harapan bangsa serta dunia seluruhnya pada pundak-pundak orang-orang kafir itu, sementara berjuta-juta rakyat mereka sendiri tidak mempercayainya? Masihkah kita berpikir terkotak-kotak oleh nasionalisme yang menghalangi pembelaan kita terhadap saudara-saudara kita di Palestina, Irak, Afganistan, Chechnya dan tempat-tempat lain di seluruh dunia? Masih adakah di antara umat ini yang percaya, bahwa propaganda perang yang ditabuh bertalu-talu oleh kaum kafir imperialis untuk memenangkan kapitalisme, memusnahkan Islam dan umatnya, dilakukan dalam rangka kebaikan dan kemuliaan kaum Muslim?

Apa yang mereka katakan sebagai kemenangan kapitalisme hanyalah kebohongan yang sengaja mereka ungkapkan. Padahal, sebenarnya mereka menipu diri mereka sendiri, setelah mereka menyaksikan kebobrokan demi kebobrokan sistem Jahiliah yang mereka usung dengan mata kepala mereka sendiri di mana-mana. Bukankah Allah SWT telah berfirman:

“Apakah hukum (sistem) Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum dan sistem) siapakah yang lebih baik daripada (hukum dan sistem) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Rasulullah saw. juga telah menyatakan dalam Khutbah Wada’-nya:

“Ingatlah, sesungguhnya segala sesuatu yang merupakan perkara Jahiliyah telah dihapus di bawah kedua telapak kakiku” (HR Muslim dari Jabir).

Karena itu, apabila umat ini menghendaki darah, harta benda, dan kehormatan mereka terjaga serta tidak dinodai oleh siapa pun, tidak ada jalan lain selain kembali pada Islam. Sebab, hanya Islamlah satu-satunya yang bisa membebaskan ummat dari kehinaan, serta melindungi seluruh kemuliaan dan kehormatan umat manusia.

Kini saatnya umat Islam di seluruh dunia bangkit melepaskan diri dari seluruh ikatan yang dikendalikan oleh kaum kafir imperialis; apapun bentuk, nama, dan kepentingannya. Setelah itu, mereka harus menyatukan negeri-negeri Islam di bawah naungan Khilafah Islamiah, serta mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia. Allahu Akbar!!!


Selengkapnya...

Makalah dari insistnet.com

Berikut ini adalah beberapa makalah dari para peneliti Insist yang saya download di situs resminya. Tujuan saya mempostingnya semata-mata demi islam, walaupun saya tidak meminta ijin dan (tentu) tidak ada ijin dari pihak insist. tapi saya yakin pihak insist tidak akan keberatan. semoga ini dinilai sebagai ibadah bagi saya dan semoga dapat membentengi ummat dari pemikiran-pemikiran rusak yang diusung oleh budak-budak barat. amin!!!


Selengkapnya...