14 April 2014

[Video] Ust. Bachtiar Nasir: Syirik Dalam Hukum Bisa Membuat Orang Kafir

Di tengah hiruk pikuk kampanye Pemilu, beberapa waktu yang lalu saya menemukan teman-teman di facebook membagikan sebuah tautan video yang kontennya sebagaimana judul posting kali ini. Ya, video tersebut adalah kajian dari Ust. Bachtiar Nasir di salah satu telivisi swastaa dengan tema Fenomena Kesyirikan. Yang membuat kajian ini lebih menarik di bandingkan dengan kajian-kajian sejenis adalah beliau berani bicara dengan lantang dan tegas berkaitan dengan sistem bernegara yang saat ini diadopsi banyak negara, apalagi kalau bukan sistem demokrasi. 

Dalam video tersebut, Ust. Bachtiar Nasir memulai pembicaraan dengan mengungkapkan definisi, yang dilanjutkan dengan pembagiannya, yakni syirik besar dan kecil. Hingga sampai pada pembahasan syirik dalam masalah hukum. Yang intinya, beliau mengatakan bahwa berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah bisa mengakibatkan manusia menjadi Kaafir, keluar dari Agama Islam. Sebagai hujjah beliau membacakan ayat ke 45 dari surah Al Maidah yang artinya, "Barang siapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Allah SWT, maka mereka itulah orang-orang kafir". 

Hanya saja memang beliau memberi rincian bahwa tidak semua yang berhukum kepada selain hukum Allah kafir secara mutlak. Yang dikategorikan sebagai kafir adalah mereka yang berhukum dengan hukum selalin hukum Allah dan disertai keyakinan bahwa hukum selain hukum Allah itu lebih baik dari hukum Allah, atau beranggapan hukum Allah tidak relevan untuk diterapkan. Adapun jika berhukum dengan hukum selain hukum Allah hanya sebatas terpaksa saja, dan di dalam hati tetap mengimani  bahwa hukum Allah lah yang terbaik, maka bagi orang yang demikian tidak lah keluar dari Islam melainkan hanya dianggap bermaksiat kepada Allah, dan dibebani dosa sesuai kadar maksiatnya.

Selanjutnya sang Ustadz dengan berani menyinggung soal demokrasi. Belia bercerita, ketika ada orang yang bertanya seputar cara mengubah sistem yang yang tidak islami ini menjadi sistem Islam, dari hukum jahiliyah menjadi hukum islam, dan mengatakan bahwa tidak mungkin merubah sistem sekarang jika tidak masuk ke dalamnya, maka Ustadz Bachtiar Nasir menganggap ungkapan itu sebagai Mantra. Ya, Mantra. Lebih lengkapnya beliau mengatakan itu sebagai Mantra Syirik. 

Sebagai argumen beliau menjelaskan bahwa nabi dapat merubah keimanan, akhlak, dan sistem kehidupan orang-orang jahiliyah waktu itu tidak dengan masuk ke dalam sistem, melainkan berada di luar sistem. Dengan dakwah lah orang-orang kafir Quraisy itu menerima Islam hingga bisa mendominasi dan mengeliminasi sistem jahiliyyah yang merupakan sistem warisan leluhur bangsa arab. 

***
Saya (penulis) merasa sangat bahagia ketika mendengar penjelasan ini, karena ditengah banyaknya Ulama yang diam terhadap kemungkaran dan kebathilan demokrasi ternyata masih ada yang ikhlas memberikan bayan kepada masyarakat hakikat dan bahaya dari sistem demokrasi. Lebih-lebih lagi beliau menjabarkannya di saluran TV yang notabene menginginkan Islam sebatas ibadah mahdhoh dan moral saja. Sekjen MIUMI ini tidak takut dirinya akan di black list dari daftar pengisi acara, karena dikategorikan dalam Islam garis keras. Subhanallah!

Semoga Allah terus memberikan hidayahnya melalui ulama-ulama yang ikhlas, yang berani mengatakan bahwa yang haq itu adalah haq dan bathil adalah bathil. Sehingga kesadaran ummat terus terbangun, kebencian terhadap sistem kufur demokrasi terus terkristal, dan menyadari solusi dari permasalahan yang mereka hadapi hanyalah Syariah Islam semata. 

***
Berikut video yang dimaksud:

Bagian I





Bagian II





Bagian III

15 Januari 2014

Pasukan Gajah dalam Analisa Saintifik

Assalamu'alaikum, wr, wb
Ana mau share artikel bagus nih gan. Judul aslinya Meteor, Pasukan Gajah dan Maulid Nabi. Semoga bermanfaat! 

***
Oleh Muh Ma'rufin Sudibyo

Lebih dari 14 abad silam, tepatnya sekitar 55 hingga 52 hari sebelum Maulid Nabi Muhammad SAW, terjadi peristiwa yang menggemparkan penduduk Jazirah Arabia hingga ke segenap sudutnya. Inilah saat pasukan yang berkekuatan sangat besar untuk ukuran zamannya, yang berkekuatan 60.000 prajurit infanteri dan 15.000 prajurit kavaleri dibawah pimpinan langsung panglima Abrahah al-Asyram (gubernur pendudukan imperium Aksumit di Yaman) mendadak berantakan di halaman kota suci Makkah sebelum sempat meraih tujuannya. Pasukan besar ini membawa serta 15 ekor gajah sebagai simbol, hewan tunggangan yang belum pernah dilihat bangsa Arab. Maka pasukan itu pun lebih populer sebagai pasukan Gajah.

Kehancuran pasukan Gajah membuyarkan rencana invasi jantung Arabia Deserta yang didasari motif religius bercampur politis-ekonomis. Yakni menghancurkan Ka’bah yang menjadi episentrum spiritual bangsa Arab. Sehingga diharapkan mereka akan terdemoralisasi dan selanjutnya terlemahkan, yang pada gilirannya bakal memuluskan jalan pendudukan Arabia Deserta dan sekitarnya. Pada akhirnya jalur perdagangan yang membentang di pesisir timur Laut Merah mulai dari Arabia Petraea (Syria dan sekitarnya) di utara, Arabia Deserta (Makkah dan sekitarnya) di tengah hingga Arabia Felix (Yaman dan sekitarnya) di selatan dapat dibulatkan sepenuhnya di bawah penguasaan imperium Aksumit dan Romawi yang saling berkoalisi.
Gambar 1. Peta topografi kotasuci Makkah dan sekitarnya mencakup Mina, Muzdalifah dan padang Arafah. Lokasi Ka’bah dan Masjidil Haram beserta posisi kota Makkah pada masa 14 abad silam ditandai dengan kotak. Sementara Wadi Muhassir, yang menjadi tempat hancurnya pasukan Gajah, berada di antara Muzdalifah dan Mina. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.
Sebelum kehancuran itu manuver pasukan Gajah seakan tak tertahankan meski sebagian bangsa Arab, yang terpecah-belah dalam sejumlah suku kecil dan kadang saling bermusuhan, mencoba melakukan perlawanan sporadis dan kecil-kecilan. Semuanya berhasil ditangkis sehingga mereka pun memasuki tapalbatas kotasuci Makkah, lalu bersiaga di lembah al-Mughammas sembari mengintimidasi penduduk Makkah. Didahului insiden perampasan ternak Abdul Muththalib, pemimpin kotasuci Makkah saat itu, maka pasukan berkekuatan besar ini pun bermanuver mewujudkan rencananya. Namun setibanya di lembah Wadi Muhassir (Wadi an-Nar), yang terletak di antara Muzdalifah dan Mina sekarang atau hanya berjarak 6 km di sebelah tenggara pusat kotasuci Makkah, pasukan ini mendadak hancur berantakan oleh peristiwa yang dalam kitab suci al-Qur’an diabadikan dalam surat al-Fiil (Gajah). Pasukan besar tersebut dihancurkan oleh guyuran batu panas (sijjil) yang dijatuhkan burung berbondong-bondong (thayran ababil). Hantaman batu itu berdampak cukup mengerikan, sehingga tubuh-tubuh pasukan itu bergelimpangan dengan tulang bersembulan laksana dedaunan yang dimakan ulat. Sisa pasukan yang selamat dari bencana ini menyusul bersua dengan maut kala mereka lari terbirit-birit kembali ke Yaman, termasuk Abrahah.

Kaspia Dzufari dan Meteorit

Apakah hujan batu panas yang menghancurkan pasukan Gajah itu? Ahli tafsir berbeda pendapat mengenainya. Sebagian menyebutnya sebagai tamsil bagi peristiwa seperti persebaran penyakit yang amat cepat dan ganas. Sementara sebagian lainnya berpendapat itu adalah benar-benar hujan batu panas dalam arti yang sesungguhnya. Mereka yang berpendapat demikian misalnya Fahrur Razi, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti (dikenal sebagai Jalalain) serta Muhammad Abduh. Batu panas itu disebut berukuran sedikit lebih besar dari biji adas namun lebih kecil dari biji kacang hummus, sehingga dimensinya sekitar 1 hingga 2 cm. Deskripsi lebih detil ada dalam penuturan Fakhtihah binti Abi Thalib RA atau lebih dikenal sebagai Ummi Hani’, dimana batu-batu panas itu di kemudian hari (setelah mendingin) terlihat kemerahan layaknya Kaspia Dzufari, yakni batu-batu merah yang banyak dijumpai di Dzufar (Yaman).

Guna mengetahui hakikat Kaspia Dzufari, perlu kita tinjau tempat bernama Dzufar atau Zafar, yakni kota-kuno di propinsi Ibb (Yaman) yang terletak pada koordinat 14° 12’ LU 44° 24’ BT pada elevasi 2.600 meter dari permukaan laut. Kota kuno ini berdiri sejak awal milenium dan pada puncaknya pernah berperan sebagai ibukota kerajaan Himyar sebelum dipindahkan 130 km ke utara, yakni ke kota San’a. Meski demikian Zafar tetap berperan penting bahkan hingga masa pendudukan Aksumit seiring lintasan jalur perdagangan pesisir timur Laut Merah di sini. Jalur ini pula yang dihilir-mudiki penduduk Makkah secara rutin saban tahun dalam perniagaannya, khususnya pada hari-hari musim dingin. Sehingga kota kuno ini bukanlah tempat yang asing bagi bangsa Arab.
Gambar 2. Detik-detik saat sebongkah asteroid melejit sebagai meteor-terang (fireball) menjelang peristiwa airburst di atas Chelyabinsk, Siberia (Russia) pada 15 Februari 2013 lalu. Inilah contoh terkini betapa peristiwa tumbukan benda langit berpotensi merusak meski yang terjadi pada saat itu hanyalah peristiwa airburst. Sumber : Popova dkk, 2013.
Secara geologis Zafar berdiri di atas Tameng Arabia-Nubia, bagian kerak bumi berusia sangat tua (lebih dari 600 juta tahun) yang menyusun kedua belah tepian Laut Merah. Mengikuti siklus geologisnya, Tameng Arabia-Nubia sedang mengawali proses pembentukan samudera baru lewat pembentukan dan perluasan Laut Merah melalui luapan magma dari lapisan selubung. Sebagai konsekuensinya terbentuklah retakan-retakan memanjang di sekujur sisi daratan pengapit Laut Merah. Di Yaman, luapan ini terjadi secara bertahap semenjak 32 juta tahun silam hingga era modern, namun puncaknya berlangsung antara 31 hingga 26 juta tahun silam. Magma yang keluar di permukaan bumi Yaman menjadi lava, yang tersebar menutupi daerah seluas hingga 5.000 kilometer persegi sebagai padang lava (al-harrah) yang ketebalannya hingga 3.000 meter.

Berbeda dengan vulkanisme umumnya, lava tersebut adalah lava basaltik yang banyak mengandung besi sebagai ferit (Fe3+). Jika lava basaltik membeku, terbentuklah batuan beku basalt. Jika telah cukup tua, basalt akan melapuk dan menghasilkan butir-butir batuan lebih kecil ataupun partikel-partikel tanah yang berwarna kemerah-merahan sebagai akibat teroksidasinya ferit di udara, sebuah proses yang serupa dengan besi berkarat. Selain dari pelapukan dan oksidasi basalt, batu berwarna merah atau kemerah-merahan juga bisa berasal dari turmalin, jasper maupun batuan yang banyak mengandung ortoklas. Namun turmalin dan jasper adalah batu mulia (permata) dan sangat jarang dijumpai di Yaman, sementara batuan berkristal ortoklas hanya terbentuk dari pembekuan lava andesitik, bukan basaltik, yang tidak dijumpai di Zafar dan sekitarnya. Karena itu pengertian Kaspia Dzufari lebih cenderung kepada bebatuan kemerah-merahan yang kaya besi, mirip dengan bebatuan basalt yang telah melapuk dan umum dijumpai di Zafar.

Darimana batuan kaya besi dan (semula) panas itu berasal? Secara umum ada di Bumi ada dua sumber batuan panas, yakni : 1). magma/lava beserta turunannya yang dilontarkan letusan gunung berapi, dan 2). meteoroid yang telah memasuki atmosfer sebagai meteor. Jazirah Arabia khususnya area di pesisir timur Laut Merah memang menjadi rumah bagi sejumlah gunung berapi dan beberapa diantaranya berukuran sangat besar. Beberapa diantaranya dikenal aktif dan memiliki catatan pernah meletus. Namun jaraknya terhadap kota suci Makkah cukup jauh. Gunung berapi terdekat, yakni Harrat Kishb (aktif namun catatan letusan tak diketahui), masih berjarak 230 km dari kota suci Makkah. Sementara gunung berapi teraktif sekaligus terbesar, yakni Harrat Rahat (meletus terakhir tahun 1256), bahkan berjarak 235 km dari kota suci Makkah. Agar bisa melontarkan kerikil panas (lapili) hingga ke kota suci Makkah, kedua gunung berapi tersebut harus meletus sangat dahsyat dengan skala kedahsyatan lebih besar ketimbang letusan Krakatau 1883. Konsekuensinya dampak yang ditimbulkan letusannya harus terasakan di kawasan cukup luas, bahkan jauh dari gunung. Tiadanya catatan dampak letusan sedahsyat Krakatau dari gunung-gunung berapi di Jazirah Arabia menunjukkan bahwa bebatuan panas yang menghancurkan pasukan Gajah kemungkinan besar tidak berasal dari letusan gunung berapi.

Meteor dan Ledakan Nuklir

Sehingga tersisa satu sumber potensial, yakni meteoroid yang telah memasuki atmosfer sebagai meteor dalam peristiwa yang dikenal sebagai tumbukan benda langit. Berbeda dengan letusan gunung berapi, dampak tumbukan benda langit dapat terlokalisir hanya di bagian tertentu dari sebuah wilayah terutama jika benda langitnya berukuran kecil.
Gambar 3. Peta area terdampak gelombang kejut hasil simulasi ledakan nuklir berkekuatan 28 kiloton TNT dengan titik ledak 600 meter di atas Wadi Muhassir. Tanda bintang menunjukkan posisi ground zero, sementara kotak menunjukkan kotasuci Makkah 14 abad silam. Lingkaran biru tua merupakan area terdampak gelombang kejut yang mampu memecahkan gendang telinga, melengkungkan logam dan menjatuhkan manusia. Sementara lingkaran ungu menunjukkan area terdampak gelombang kejut yang mampu melengkungkan logam dan menjatuhkan manusia. Dan lingkaran biru tua menunjukkan area terdampak gelombang kejut yang hanya bisa menjatuhkan manusia. Garis putus-putus adalah proyeksi lintasan asteroid 1.600 ton sementara tanda panah menunjukkan lintasan asteroid dalam 8 km terakhir. Panduan arah, atas = utara. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.
Ada empat syarat yang harus dipenuhi bila batu-batu panas penghancur pasukan Gajah itu bersumber dari meteoroid. Yang pertama, karena batu itu berwarna kemerah-merahan maka meteoroidnya haruslah berasal dari asteroid yang sangat kaya akan besi dan nikel. Kedua, jika batu itu berukuran setara kerikil maka mereka berasal dari meteoroid kaya besi-nikel yang terpecah-belah saat melintasi atmosfer sebagai meteor-terang (fireball). Ketiga, jika batu itu masih panas saat berjatuhan di Wadi Muhassir, padahal meteorit kecil pada umumnya sudah mendingin kala tiba di permukaan Bumi, maka tumbukan itu disertai peristiwa pelepasan hampir seluruh energi kinetiknya di udara (airburst) dengan titik airburst di ketinggian cukup rendah sehingga jatuhnya keping-keping meteor yang tersisa tak punya waktu mencukupi untuk mendingin selama masih di udara. Dan yang keempat, energi yang dilepaskan airburst cukup kecil sehingga dampak sinar panas dan gelombang kejutnya terbatasi hanya di Wadi Muhassir saja tanpa keluar dari kawasan tersebut.

Saat meteoroid memasuki atmosfer Bumi sebagai meteor dan mengalami airburst, ia melepaskan energi kinetik dalam jumlah tertentu sesuai dimensi (massa)-nya dan kecepatannya. Pelepasan energi kinetik dalam airburst mirip dengan ledakan. Dan jika kuantitas energi kinetiknya cukup besar, yakni lebih besar dari 4.184 GigaJoule (1 kiloton TNT), maka pola ledakannya menyerupai ledakan nuklir, terkecuali radiasinya. Sehingga airburst berenergi tinggi pun melepaskan gelombang kejut (shockwave) dan panas (thermal rays) dengan segala akibatnya, termasuk bila mengenai manusia. Contoh terkini bagaimana airburst berenergi tinggi berdampak cukup signifikan pada manusia terlihat pada Peristiwa Chelyabinsk (Russia) 15 Februari 2013 silam, yang melepaskan energi 500 kiloton TNT hingga mengakibatkan kerusakan signifikan dan jatuhnya korban luka-luka akibat hempasan gelombang kejutnya. Sebagai pembanding, energi ledakan bom nuklir di Hiroshima pada akhir Perang Dunia 2 adalah 20 kiloton TNT.
Gambar 4. Peta area terdampak paparan panas hasil simulasi ledakan nuklir berkekuatan 28 kiloton TNT dengan titik ledak 600 meter di atas Wadi Muhassir. Tanda bintang menunjukkan posisi ground zero, sementara kotak menunjukkan kotasuci Makkah 14 abad silam. Lingkaran jingga merupakan area terdampak paparan panas penyebab luka bakar tingkat tiga, dua dan satu. Sementara lingkaran coklat menunjukkan area terdampak paparan panas penyebab luka bakar tingkat dua dan satu. Dan lingkaran kuning menunjukkan area terdampak paparan panas yang hanya menyebabkan luka bakar tingkat satu. Garis putus-putus adalah proyeksi lintasan asteroid 1.600 ton sementara tanda panah menunjukkan lintasan asteroid dalam 8 km terakhir. Panduan arah, atas = utara. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.
Bagaimana dengan Wadi Muhassir? Simulasi berbasis ledakan nuklir menunjukkan bahwa airburst pada ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut, atau 600 meter di atas Wadi Muhassir, mampu melepaskan gelombang kejut dan panas yang berdampak signifikan bagi daratan Wadi Muhassir jika energi kinetik yang dilepaskan sebesar 28 kiloton TNT atau 1,4 kali lipat kekuatan bom nuklir Hiroshima. Dampak gelombang kejut dan panas bagi manusia bergantung kepada jarak mendatarnya terhadap ground zero (titik di permukaan Bumi yang tepat ada di bawah titik airburst). Gelombang kejut bisa memecahkan memecahkan paru-paru bagi orang yang ada di sekitar ground zero, memecahkan gendang telinga untuk orang yang berada hingga jarak 1,5 km dari ground zero, sanggup melengkungkan logam hingga jarak 3,4 km dari ground zero dan bahkan masih sanggup menjatuhkan sesosok manusia yang berdiri meski berada pada jarak hingga 3,8 km dari ground zero. Terlihat bahwa tingkat kerusakan akibat hempasan gelombang kejut ini bervariasi mulai dari luka ringan-menengah (jatuhnya orang yang semula berdiri) hingga berat-mematikan (pecahnya gendang telinga dan paru-paru).

Sementara panas produk airburst mampu menciptakan luka bakar tingkat tiga bagi manusia hingga jarak 2,2 km dari ground zero, menghasilkan luka bakar tingkat dua hingga sejauh 2,6 km dari ground zero dan memproduksi luka bakar tingkat satu hingga jarak 3,5 km dari ground zero. Tingkatan kerusakan akibat hempasan panas juga bervariasi mulai dari ringan (luka bakar tingkat satu) hingga berat dan mematikan (luka bakar tingkat tiga). Luka bakar tingkat berciri khas memerahnya permukaan kulit akibat paparan panas dan mudah sembuh. Sementara pada luka bakar tingkat tiga, tak hanya permukaan kulit namun jaringan kulit dibawahnya dan bahkan jaringan otot/pembuluh darah pun terpengaruh. Proporsi bagian tubuh yang terbakar dalam luka bakar tingkat tiga mencapai lebih dari 50 % sehingga cukup berpotensi fatal. Panas yang menyebabkan luka bakar tingkat tiga setara dengan panas yang sanggup menghanguskan batang-batang tanaman keras, juga setara dengan panas yang mampu membakar kertas secara spontan.
Gambar 5. Ilustrasi (bukan simulasi) saat-saat gelombang kejut mulai terbentuk di udara sesaat pasca airburst dengan mengacu pada peristiwa Chelyabinsk 2013. Segitiga menunjukkan posisi Wadi Muhassir. Gelombang kejut nampak masih kecil dan masih berada di sekitar lintasan asteroid, dengan kuat tekanan yang besar. Panduan arah, kiri = barat. Sumber: Popova dkk, 2013.
Secara geografis Wadi Muhassir merupakan bagian dari lembah besar yang semi tertutup dan dipagari oleh jajaran perbukitan berbatu nan tandus di sisi utara, timur dan baratnya. Lembah besar itu hanya terbuka di ujung selatannya saja, dimana padang Arafah berada. Seluruh kawasan Mina dan Muzdalifah terletak di dalam lembah besar ini. Maka meskipun hanya berjarak 6 km saja dari pusat kotasuci Makkah, namun antara Wadi Muhassir dan kotasuci tersebut dipisahkan oleh perbukitan berbatu yang menjulang hingga setinggi 150 meter. Karakter geografis Wadi Muhassir yang demikian membuat gelombang kejut dan panas yang diproduksi airburst maupun peristiwa mirip ledakan nuklir lainnya hanya berdampak di dalam lembah tanpa bisa keluar darinya karena halangan alamiah dari perbukitan berbatu yang menjulang tinggi. Hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada kota Nagasaki saat dibom nuklir pada 9 Agustus 1945 menjelang berakhirnya Perang Dunia 2. Meski kekuatan bom nuklir Nagasaki lebih besar ketimbang Hiroshima, namun dengan kota yang berada di dasar lembah dipagari perbukitan di sekelilingnya, maka luas area yang terhantam gelombang kejut maupun panas di Nagasaki justru lebih kecil dibanding Hiroshima. Implikasinya korban jiwa yang jatuh di Nagasaki pun lebih terbatas.

Perhitungan lebih lanjut dengan menggunakan persamaan-persamaan dari Collins (2005) menunjukkan airburst berenergi 28 kiloton TNT bisa terjadi jika ada asteroid kaya besi-nikel (massa jenis 7.900 kg per meter kubik) berdiameter 7,25 meter yang menuju ke Bumi sebagai meteoroid. Saat memasuki atmosfer Bumi, asteroid bermassa 1.600 ton itu melejit pada kecepatan 12,2 km/detik (44.100 km/jam), kecepatan yang sangat tinggi untuk ukuran manusia namun tergolong lambat untuk ukuran benda langit seperti asteroid dan komet pengancam Bumi. Begitu memasuki atmosfer, meteoroid ini berubah menjadi meteor-terang (fireball). Jika lintasan meteoroid membentuk sudut zenith 70° terhadap permukaan Wadi Muhassir (atau datang dari ketinggian rendah yakni hanya 20°), maka meteor-terang itu akan memijar hingga hampir sama terangnya dengan Bulan purnama, sehingga mudah dilihat manusia meski di pagi hari. Di sepanjang lintasannya meteor-terang itumemproduksi jejak asap tebal diiringi gemuruh dentuman sonik.
Gambar 6. Ilustrasi (bukan simulasi) saat-saat gelombang kejut mulai berkembang di udara dalam beberapa detik pasca airburst dengan mengacu pada peristiwa Chelyabinsk 2013. Segitiga menunjukkan posisi Wadi Muhassir. Gelombang kejut nampak mulai mengembang meski masih berada di sekitar lintasan asteroid, dengan kuat tekanan mulai sedikit menurun. Panduan arah, kiri = barat. Sumber: Popova dkk, 2013.
Pada ketinggian sekitar 2.300 meter dari permukaan laut, besarnya tekanan ram akibat tingginya kecepatan meteor membuat struktur materi penyusun asteroid tak sanggup lagi mempertahankan kekuatannya. Maka terjadilah awal pemecah-belahan yang membuat meteor-terang menjadi berkeping-keping. Reaksi pemecah-belahan terus berlangsung hingga kepingan-kepingan tersebut sampai di ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut, saat airburst terjadi dan menghasilkan kilatan cahaya yang nyaris seterang Matahari. Selain menghempaskan gelombang kejut dan panas, airburst juga meremukkan sebagian keping meteor dan mengubahnya menjadi bubuk debu yang melayang di udara. Sebagian lainnya tetap bertahan dan melanjutkan perjalanan ke permukaan Bumi. Namun dengan titik airburst yang sangat rendah, maka keping-keping meteor yang tersisa ini hanya menempuh jarak 3.000 meter lagi di udara sebelum kemudian menjatuhi Wadi Muhassir. Akibatnya keping-keping meteor tersebut masih sangat panas dan berkecepatan tinggi, sehingga saat jatuh di Wadi Muhassir bisa diibaratkan laksana guyuran peluru kaliber besar.

Kehancuran oleh Meteor
Dapat dilihat bahwa peristiwa airburst sebuah asteroid kaya besi-nikel, yang adalah induk meteorit siderit (besi), akan menghasilkan tiga dampak signifikan yang berdaya bunuh bagi manusia. Pertama adalah hempasan gelombang kejutnya. Kemudian yang kedua, paparan panasnya. Dan yang terakhir adalah hantaman keping-keping meteornya yang masih tersisa sebagai meteorit.

Dengan dampak semacam itu kita bisa membayangkan apa yang terjadi pada pasukan Gajah saat mendadak terlihat adanya meteor-terang mendekat dengan cepat di langit barat. Awalnya mereka tercengang oleh pemandangan aneh di langit yang dipenuhi kilatan cahaya terang, percikan api mirip kembang api, jejak asap tebal kelabu yang bergulung-gulung dan sama sekali tak mirip awan serta gemuruh suara menderu laksana ribuan burung yang sedang mencicit di langit. Terpana oleh semua pemandangan yang tak pernah disaksikan tersebut, tak satupun yang sempat bereaksi. Hingga terjadilah kilatan cahaya sangat terang menyamai Matahari yang disertai dentuman suara menggelegar yang memicu kepanikan luar biasa. Namun belum sempat bereaksi lebih jauh, mendadak udara terasa memanas hebat bersamaan dengan terjadinya hempasan angin luar biasa kencang sebagai manifestasi dari panas dan gelombang kejut. Panas dibawa oleh sinar inframerah sehingga melaju dengan kecepatan cahaya sementara gelombang kejut menjalar dengan kecepatan supersonik.

Hantaman gelombang kejut membuat para prajurit bertumbangan beserta hewan kendaraannya. Pada saat bersamaan panas tinggi pun menebar petaka. Akibatnya mereka yang sudah menderita luka-luka fisik dalam beragam tingkat akibat hempasan gelombang kejut kini mendapatkan tambahan luka-luka bakar dalam beragam tingkat akibat paparan panas. Sebagian mereka mungkin langsung menghangus akibat luka bakar tingkat tiga yang fatal. Sementara sebagian lainnya harus menahan perih menderita luka-luka fisik akibat hantaman gelombang kejut dan luka bakar tingkat dua maupun satu. Di tengah kekacauan itu mendadak langit mengguyurkan batu-batu panas seukuran kerikil yang melejit cepat laksana peluru kaliber besar, yang kini kita kenal sebagai peluru khusus untuk berburu binatang besar. Tubuh-tubuh yang terluka itu pun terhantam batu-batu itu secara beruntun. Maka tersungkurlah sebagian besar mereka hingga menemui ajalnya. Sisanya yang luput dari kematian di Wadi Muhassir dan lari terbirit-birit pulang ke Yaman masih merasakan penderitaan dengan luka-luka bakar dan fisik di sekujur tubuhnya. Tanpa perawatan memadai, luka-luka tersebut akan menjadi tempat hinggap dan berpesta poranya bakteri patogen hingga timbul infeksi dalam beragam tingkat keparahan. Tanpa penanganan medis memadai, maka satu persatu dari mereka yang berhasil menyelamatkan diri pun menyusul tewas berjatuhan di sepanjang perjalanan pulang ke Yaman. Bahkan meskipun telah tiba di Yaman, seperti Abrahah.
Gambar 7. Ilustrasi (bukan simulasi) saat-saat gelombang kejut sudah demikian meluas di udara dan mulai menyentuh tanah dalam beberapa belas detik pasca airburst dengan mengacu pada peristiwa Chelyabinsk 2013. Segitiga menunjukkan posisi Wadi Muhassir. Gelombang kejut telah demikian meluas hingga seakan membentuk tabung, dengan kuat tekanan lebih menurun dibanding beberapa detik sebelumnya. Meski demikian saat menyentuh tanah gelombang kejut itu masih cukup mampu menimbulkan kerusakan dan mematikan bagi manusia. Panduan arah, kiri = barat. Sumber: Popova dkk, 2013.
Dalam sejarah umat manusia, bencana akibat hantaman benda langit (meteor) telah beberapa kali terjadi. Misalnya di Cina pada tahun 1490 yang disebut-sebut menewaskan hingga 10.000 orang, meski jumlah korban jiwa ini dianggap terlalu dibesar-besarkan. Juga di pulau Saarema di Teluk Riga (Estonia) pada 7.000 tahun silam, saat sebongkah asteroid kaya besi-nikel menghantam dengan titik target tepat berimpit dengan pemukiman suku Nordik di sini. Tumbukan itu melepaskan energi 1,5 kiloton TNT dan sontak mengubah pemukiman menjadi daratan gersang berhias lubang-lubang kawah yang salah satunya kini tergenangi air sebagai Danau Kaali (Kaalijarv). Hubungan tumbukan benda langit dengan hancurnya pasukan Gajah akan terbukti jika pada lapisan-lapisan batuan di Wadi Muhassir dijumpai jejak meteorit besi-nikel dari masa 14 abad silam. Namun kalaupun benar demikian, maka mengapa terdapat sebutir asteroid yang memiliki massa demikian tepat dan pada waktu yang tepat jatuh ke Wadi Muhassir di antara milyaran asteroid lainnya yang bergentayangan di dalam tata surya adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab perhitungan-perhitungan ini sebagai bagian dari rahasia Allah SWT. Wallahua’lam bishshawab.

Referensi : Collins dkk. 2005. Earth Impact Effects Program : A Web–based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth. Meteoritics & Planetary Science 40, no. 6 (2005), 817–840.

Sumber

13 September 2013

Tentang Demonstrasi (Masirah) dalam Pandangan Islam

Ini adalah copas dari dua tulisan lama yang masih relevan untuk dibaca dan dipahami, karena aktivitas ini (masyirah) masih sering dilakukan. Semoga bermanfaat.
*****
TULISAN 1: Masiroh Vs Demonstrasi

Soal:
1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya.

2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini.

Jawab:

Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam wilayah mubah. Menyampaikan gagasan, kritik, maupun ide-ide Islam boleh juga dilakukan dengan cara bersama-sama, berdua, bertiga, maupun seorang diri.

Di masa shahabat, ada diantara mereka yang menyampaikan gagasan Islam dengan cara melakukan konvoi secara bersama-sama dan membentuk dua buah shaf (barisan), ada pula yang menyampaikan dakwah Islam dengan cara sendiri-sendiri. Dalam sirah Ibnu Hisyam disebutkan, bahwa sekelompok shahabat berkeliling Ka’bah menyampaikan seruan Islam. Mereka berbaris, dan membentuk dua buah shaf, kemudian berjalan bersama-sama mengelilingi Ka’bah sambil menyerukan kalimat Tauhid. Rasulullah saw mendiamkan aktivitas sekelompok shahabat ini. Ini menunjukkan ada taqrir (persetujuan) dari Rasulullah saw.

Namun demikian, karena al-Qur,an dan Sunnah telah turun secara sempurna, maka kaum muslim yang melakukan masirah mesti memperhatikan hukum-hukum lain yang berhubungan erat dengan penggunaan aktivitas umum (jalan raya yang digunakan masirah), dan adab-adab ketika berada di jalan raya. Dengan kata lain, masirah harus tetap memperhatikan syarat-syarat di bawah ini:

1. Harus menyuarakan gagasan Islam, dan kemashlahatan kaum muslim. Tidak boleh menyerukan gagasan-gagasan bathil dan bertentangan dengan aqidah Islam.

2. Tidak merusak kepemilikan umum, menimbulkan kemacetan, atau mengganggu para pengguna jalan yang lain. Tidak boleh duduk-duduk, atau memblokade jalan raya sehingga terjadi kemacetan total. Sebab, ini bertentangan fungsi dari jalan raya yang digunakan untuk berjalan.

3. Harus tetap memperhatikan adab-adab ketika berada di jalan raya.

Lantas apa beda antar masirah dengan demonstrasi? Bedanya, hanya berhubungan dengan syarat-syarat di atas. Dengan kata lain, demonstrasi adalah aktivitas menyampaikan gagasan atau kritik yang tidak memperhatikan syarat-syarat di atas.

Adapun keikutsertaan wanita dalam masirah, maka harus dikembalikan kepada hukum asal dari masirah. Pada dasarnya, wanita juga diperbolehkan menyampaikan gagasan maupun kritik secara bersama-sama atau rombongan. Namun, kaum wanita mesti memperhatikan hukum-hukum lain yang berhubungan dengan dirinya. Misalnya, mereka tidak boleh dicampuradukkan dengan pria (ikhthilath), harus menutup aurat , dan tidak boleh menggunakan pakaian-pakaian yang memungkinkan dirinya terjatuh dalam tabarruj. Untuk itu, di dalam masirah yang melibatkan pria dan wanita, maka keduanya mesti dipisahkan, dan harus tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan Islam yang berhubungan dengan interaksi wanita dengan pria. Jika syarat-syarat ini dipenuhi, maka keterlibatan wanita dalam masirah adalah sesuatu yang diperbolehkan (mubah). [Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam (TKAHI)]

TULISAN 2: Hukum Islam tentang Unjuk Rasa

oleh: Ahmad Dhoriman

Disarikan dari soal-jawab dan tulisan Prof. Abdul Hayy al-Farmawi (Profesor tafsir Universitas al-Azhar)

Beberapa tahun terakhir ini, aktivitas demonstrasi, unjuk rasa, atau aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat semakin marak. Apa sesungguhnya hukum demonstrasi menurut pandangan Islam?

Demonstrasi ataupun unjuk rasa merupakan salah satu cara untuk menampakkan aspirasi ataupun pendapat masyarakat (ta‘bîr ar-ra’yi) secara berkelompok. Secara umum, aktivitas menampakkan aspirasi atau pendapat (ta‘bîr ar-ra’yi) di dalam Islam adalah perkara yang dibolehkan (mubah). Hukumnya sama seperti kita mengungkapkan pandangan atau pendapat tentang suatu perkara. Hanya saja, hal ini dilakukan oleh sekelompok orang.

Di dalam terminologi bahasa Arab, demonstrasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Muzhâharah (demonstrasi), yaitu aksi sekelompok masyarakat di tempat-tempat umum untuk menuntut perkara-perkara tertentu yang sudah menjadi tugas negara atau para penanggung jawabnya. Para demonstran dalam aksinya tersebut biasanya melakukan pengrusakan, penghancuran, dan pembakaran barang-barang milik negara ataupun barang-barang milik individu.

2. Masîrah (unjuk rasa), hampir sama dengan demonstrasi, yaitu aksi sekelompok masyarakat untuk mendukung atau menuntut sesuatu. Akan tetapi, tidak disertai pengrusakan, penghancuran, dan pembakaran atas barang-barang milik umum maupun khusus (milik individu).

Dengan demikian, muzhâharah (demonstrasi) tidak diperbolehkan (diharamkan) oleh Islam. Alasannya, di dalamnya disertai beberapa aktivitas yang diharamkan oleh syariat Islam, seperti: mengganggu ketertiban umum; merusak, menghancurkan, dan membakar fasilitas umum maupun barang-barang milik individu masyarakat. Tidak jarang pula, demonstrasi mengakibatkan perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Pengharamannya di dasarkan pada fakta bahwa di dalam demonstrasi terdapat sejumlah tindakan yang diharamkan oleh syariat Islam.
Meskipun demikian, ‘demonstrasi’ yang dilakukan dengan tertib; memperhatikan syariat Islam, termasuk menyangkut pendapat/aspirasi yang disampaikan; tanpa kekerasan; tidak mengganggu ketertiban umum dan hak-hak masyarakat; tidak membakar, merusak, dan menghancurkan barang-barang milik umum, negara, maupun milik individu adalah diperbolehkan. Inilah yang disebut dengan masîrah (unjuk rasa).

Masîrah (unjuk rasa) merupakan salah satu cara (uslûb) di antara berbagai cara pengungkapan aspirasi atau pendapat (ta‘bîr ar-ra’yi). Oleh karena itu, aktivitas masîrah (unjuk rasa) bukanlah metode (tharîqah)—menurut Islam—dalam melakukan proses perubahan di masyarakat. Apabila kondisinya memungkinkan, masîrah (unjuk rasa) dapat dilakukan. Sebaliknya, apabila kondisinya tidak memungkinkan,masîrah (unjuk rasa) tidak perlu dilakukan. Hal ini sesuai dengan hukum kebolehannya.

Rasulullah saw tidak pernah menjadikan dan menggunakan unjuk rasa sebagai metode untuk mengubah masyarakat jahiliah di kota Makkah menjadi masyarakat Islam. Memang, beliau pernah melakukan aktivitasmasîrah satu kali di kota Makkah. Beliau memerintahkan kaum Muslim keluar dan berjalan membentuk dua shaf barisan. Satu dipimpin oleh ‘Umar ibn al-Khaththab dan lainnya dipimpin oleh Hamzah ibn ‘Abdul Muthalib r.a. Dengan diiringi suara takbir, kaum Muslim berjalan mengelilingi Ka’bah. Yang dilakukan Rasulullah saw adalah mengambil salah satu cara (uslûb) yang tidak pernah dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat lain sebelumnya, yang ditujukan dalam rangka mengekspose dakwah Islam.

Pandangan Islam yang menjadikan masîrah (unjuk rasa) sebagai uslûb mengungkapkan aspirasi atau pendapat, yang bisa dilakukan bisa juga tidak, sangat berbeda dengan pandangan masyarakat Sosialis dan Komunis. Mereka menganggap muzhâharah (demonstrasi) sebagai salah satu metode baku (tharîqah) dalam melakukan perubahan masyarakat. Bagi mereka, demonstrasi adalah semacam antitesa untuk menggerakkan proses perubahan masyarakat ke arah yang mereka inginkan. Oleh karena itu, apa pun akan mereka lakukan; termasuk dengan jalan merusak, menghancurkan, dan membakar fasilitas-fasilitas umum, negara, maupun barang-barang milik individu.

Berdasarkan hal ini, masyarakat Sosialis atau Komunis telah menjadikan muzhâharah (demonstrasi) sebagai metode baku dan ciri khas masyarakat mereka dalam melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan demonstrasi adalah keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi agar proses perubahan dapat bergulir. Dalam skala yang lebih luas lagi, mereka menyebutnya dengan revolusi rakyat. Dengan mengatasnamakan rakyat, mereka berhak menghancurkan, merusak, dan membakar fasilitas dan milik umum maupun milik individu. Tujuannya adalah untuk menghasilkan sebuah sintesa, yaitu sebuah masyarakat Sosialis atau Komunis yang mereka angan-angankan.

Bagi kaum Muslim, haram hukumnya melakukan demonstrasi (muzhâharah) seperti yang dilakukan oleh kaum Sosialis maupun Komunis; yakni dengan cara merusak, menghancurkan, dan membakar barang-barang milik masyarakat, negara, maupun milik individu. Bagi kita, kaum Muslim, darah seorang Muslim, harta kekayaan yang dimilikinya, dan kehormatannya haram ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar oleh Muslim lainnya. Syariat Islam bahkan menjaga tiga perkara tersebut dalam pagar yang sangat rapat.

Pelanggaran terhadap tiga perkara itu digolongkan ke dalam hukum-hukum hudûd, yaitu hukum yang bentuk pelanggaran dan sanksinya hanya ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Di samping itu, kita, kaum Muslim, tidak mengenal prinsip dan kaidah ‘menghalalkan segala cara’ (al-ghâyah lâ tubarriru al-washîlah), sebagaimana yang dianut oleh masyarakat Sosialis, Komunis, dan Kapitalis. Tindak-tanduk seorang Muslim, masyarakat Muslim, dan penguasa Muslim wajib terikat dengan syariat Islam; termasuk dalam mengungkapkan aspirasi atau pendapat dengan berunjuk rasa maupun dalam melakukan proses perubahan di tengah-tengah masyarakat. Tidak pantas seorang Muslim mengaku beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, sementara dalam mengungkapkan aspirasi/pendapat dan melakukan proses perubahan masyarakat agar menjadi masyarakat Islam, mereka lakukan dengan menghalalkan segala cara, mencampakkan tolok ukur halal-haram, dan membuang tuntunan syariat Islam. Allah Swt berfirman:

]وَمَا كَانَ لِمُـؤْمِنٍ وَلاَ مُـؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

"Tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada pilihan (selain hukum Islam) tentang urusan mereka". (QS al-Ahzab [33]: 36)

BERIKUT DALIL DALAM Al-Qur’an, As-Sunnah, Siroh Rasul saw. dan Kaidah Fiqhiyah tentang masyirah.

1. Al Qur’an
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)( QS Al-Anfaal 60).

2. Hadits Rasul saw

Seutama-utamanya jihad adalah perkataan yang haq/benar terhadap penguasa yang zhalim (HR Ibnu Majah, Ahmad, At-Tabrani, Al-Baihaqi, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Barangsiapa melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya, dan jika tidak mampu, dengan hatitnya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman (HR Muslim).

3. Sirah Rasul saw (Sirah juga sunnah)
Nabi saw. dengan para sahabatnya melakukan unjuk rasa atau demonstrasi meneriakkan dan menyerukan tauhid dan kerasulan Muhammad saw. di jalan-jalan sambil menelusuri jalan Mekkah dengan tetap melakukan tabligh dakwah.

Rasulullan saw. dan para sahabatnya sambil melakukan Thawaf Qudum setelah peristiwa Hudaibiyah melakukan demo memperlihatkan kebenaran Islam dan kekuatan para pendukungnya (unjuk rasa dan unjuk kekuatan) dengan memperlihatkan pundak kanan ( idhthiba’) sambil berlari-lari kecil. Bahkan beliau secara tegas mengatakaan saat itu:” Kita tunjukkan kepada mereka (orang-orang zhalim) bahwa kita (pendukung kebenaran) adalah kuat (tidak dapat diremehkan dan dimain-mainkan)”.

4. Kaidah Fiqhiyah
Sesuatu hal yang tidak akan tercapai dan terlaksana kewajiban kecuali dengannya, maka hal tersebut menjadi wajib.

Sehingga dalam hal ini suatu tujuan yang akan ditempuh dengan mengharuskan menggunakan sarana, maka pemakaian sarana tersebut menjadi wajib. Dan demonstrasi adalah sarana yang sangat efektif dalam melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah dan jihad.

Dengan demikian kami cenderung mengatakan bahwa demonstrasi sebagai sebuah sarana harus dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad demi meneggakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Memberantas kezhaliman dan kebatilan. Dan umat Islam harus mendukung setiap upaya kebaikan dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai Islam demi kejayaan Islam dan kemashlahatan umat.

Wallahu A`lam Bish-shawab,

08 September 2013

Agar Sukses Belajar Bahasa Arab

Judul asli: TIPS CEPAT BACA KITAB GUNDUL

Siapa yang ingin mengunduh mutiara, mesti harus menyelam. Untuk bisa membaca kitab gundul/kuning dengan cepat, mestilah dengan usaha yang maksimal pula.

Tips-tips ini semoga bermanfaat bagi yang belajar secara formal maupun non-formal :

1) Selalu Luruskan Niat.
Ini yang paling penting dan terpenting, sebab jika pondasinya tidak kokoh maka dikhawatirkan akan merusak dunia dan agama sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah dua ekor serigala kelaparan digiring kepada satu domba lebih merusak daripada kerakusan seseorang pada agama untuk tujuan kemuliaan dirinya (di mata manusia)” (HR. Tirmidzi).
Maka belajarlah hanya untuk mencari ridha Allah.

2) Cita-Cita dan Tekad Baja.
Kemauan seseorang ada beberapa tingkatan, yaitu:
1. Khathir: yaitu kilasan kemauan, belum ada cita-cita yang kuat.
2. Taraddud: yaitu kemauan yang penuh keragu-raguaan antara ya atau tidak.
3. Ham: yaitu cita-cita yang kuat tapi indikasinya belum terlihat jelas.
4. ‘Azzam: yaitu cita-cita disertai tekad baja yang indikasinya bisa terlihat pada tindakan.

Harus memiliki Ham dulu, mantapkan dalam hati dengan doa yang kuat, semoga Allah karuniakan fadhilah ini kepada kita dan mudahkan. Kemudian jadikan ham tersebut menjadi ‘azzam. Beli buku-buku, kursus, kuliah atau ke pesantren merupakan indikasi dari ‘azzamnya. Jika belajarnya hanya dengan khathir atau taradud saja, ya… tidak akan bisa.

3) Istiqamah
Tidak istiqamah biasanya dari beberapa sebab, yaitu : dari diri sendiri, karena malas, putus semangat, salah niat dsb.

4) Baca Sebanyak-banyaknya Referensi
Semakin banyak buku panduannya insya Allah akan memudahkan kita untuk memahami materi, sebab adakalanya pembahasan di buku lain lebih mudah dicerna dan saling melengkapi.

5) Pahami Dahulu Baru Hafalkan.

6) Banyak-banyak Praktek.
Praktek ini sangat menentukan sekali sebab kita akan dipaksa untuk mengulang pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari, walaupun praktek ini memerlukan kesabaran, keuletan dan ketekunan tinggi. Sebab bisa jadi untuk membaca 1 baris saja memerlukan waktu 1 jam apalagi jika kosa katanya harus cari satu persatu dalam kamus. Praktek ini ada tiga cara:
1. Praktek sendiri tanpa bimbingan.
2. Praktek dengan pendampingan orang yang lebih ahli.
3. Ikut kajian kitab.

7) Kesadaran, Bukan Sekedar Semangat.
Belajar atau bekerja hanya berlandaskan semangat belaka akan luntur tatkala semangat luluh. Jadi belajar dengan kesadaran, kesadaran akan pentingnya serta hukum wajibnya mempelajari bahasa Arab.

8). Ajarkan Pada Orang Lain
Dengan mengajarkan kepada orang lain, ilmu kita akan bertambah justru seringkali kita paham akan suatu bab tatkala hendak mengajarkan pada orang lain.

9) Berdoa Sungguh-Sungguh

Demikian semoga bermanfaat. Jangan lupa share ya! :)

Sumber: FP Pintar Bahasa Arab.
Afwan, link tidak ditautkan karena ngepost dari HP dan kesulitan untuk copy link.

07 Januari 2013

Testimoni 30 Ulama' tentang Syari'ah dan Khilafah

Alhamdulillah, perjuangan menegakan Khilafah sebagai metode tegaknya Syari'ah islam semakin hari semakin menggunung. Mulai dari mahasiswa, pelajar, rakyat biasa, hingga para 'ulama' menyambut seruan ini. Berikut adalah testimoni 30 ulama dari berbagai daerah tentang semangat berjuang melanjutkan kehidupan Islam. Durasi 4 jam 53 menit 50 detik, ukuran file sekitar 800 Mb. Silahkan download di via Youtube.

Sebab-sebab Ummat Islam Mengalami Kemunduran

Judul asli Diagnosis Kemunduran Ummat.

Oleh Prof. Dr. Fahmi Amhar  

"Seorang dokter yang salah diagnosa, akan salah pula memberi therapi.
Bila ummat Islam salah memahami proses kemundurannya, maka mereka
akan salah pula dalam mencari cara-cara menuju kebangkitannya"

Kalau kita mencoba melakukan analisis atas kualitas suatu ummat, tak terkecuali ummat Islam, maka kita harus menetapkan dulu tolok ukurnya, agar tak salah bila kita katakan suatu ummat itu maju atau mundur, dan bila mundur, kita juga tahu bagaimana seharusnya, atau ke mana langkah menuju.

Qualitas ummat terbaik adalah ditemui pada generasi Nabi, generasi  sesudahnya (Tabiin) dan generasi sesudahnya lagi (Tabiit-Tabiin).  (HR Bukhari, dll).

Qualitas itu diukur dengan kriteria yang uniq, yakni pada aktivitasnya  dalam menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar (QS 3:110).  Tugas ini memerlukan type-type manusia muttaqin, mereka yang hanya takut  kepada Allah saja, dan tidak bisa dipungkiri, bahwa jumlah "muttaqin per kapita" yang terbanyak adalah di zaman Nabi.

Di zaman sesudahnya, jumlah ini makin menurun secara berangsur-angsur, meskipun wilayah Islam dan populasi muslim terus membesar, dan karya-karya peradaban baik dalam ilmu-ilmu agama maupun dalam iptek dan kesenian terasa menuju "masa keemasan"-nya.  Dalam konteks materialisme seperti pada budaya Barat, memang qualitas suatu bangsa biasa diukur dari produk peradaban (iptek, kesenian, arsitektur, etc).   Namun dalam konteks Islam, ukuran yang standard adalah kontribusi bangsa itu dalam amar ma'ruf nahi munkar.  Jadi peradaban sesungguhnya hanyalah alat semata.  Motivasi amar ma'ruf nahi munkar-lah yang pernah membawa ummat Islam untuk menciptakan peradaban yang maju, karena berlaku prinsip: "APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMENUHI YANG FARDH, HUKUMNYA JUGA FARDH".

Bila kita analisis, maka proses kemunduran ummat Islam itu secara singkat bisa dibagi dalam tiga tahapan:
1.   Kekaburan Fikrah Islamiyah (=ide atau fikiran)
2.   Kekaburan Thariqah Islamiyah (=methode mewujudkan ide)
3.   Kekaburan Relasi antara Fikrah dan Thariqah.


1    Kekaburan Fikrah Islamiyah
1.1    Merebaknya Mitos

Kekaburan fikrah mulai terjadi sejak dini (abad 2 H), saat derap perluasan wilayah Islam kurang terimbangi dengan derap pewarisan fikrah Islam.  Akibatnya, berbagai bangsa yang tadinya hidup dalam mitos dan filsafat serta mistik Yunani/Mesir, Persia atau India, tidak segera membuang mitos/filsafat/mistik itu dari alam fikirnya, melainkan mencoba "mengawinkannya dengan Islam" atau dengan kata lain: "mengislamkan mitos" dan "memitoskan Islam".

Contoh dari mitos ini banyak sekali.  Kita tahu, dalam semua ajaran lain, keyakinan dasarnya selalu berasal dari mitos, atau suatu aksioma dasar yang tidak bisa dilacak secara rasional.  Bangsa yang tadinya penganut mitos itu, ketika beralih ke Islam, pun memandang aqidah Islam sebagai mitos.  Person Rasul berubah dari sosok manusia yang bisa ditiru setiap muslim (sebagai uswatun hasanah) menjadi sosok keramat yang supranatural.  Bahkan belakangan, seorang 'alim yang aslinya hanyalah ilmuwan atau pakar, yang dalam ijtihadnya bisa benar maupun salah, tiba-tiba dipandang sebagai "orang suci" yang tidak mungkin salah, sebagaimana orang-orang Kristen memandang Paus, atau orang-orang Hindu memandang Sri Bhagawan.

Ketika seseorang bisa menjadi "kult-figur" karena mitos, maka orang-orang yang ada penyakit di hatinya berlomba untuk juga memiliki posisi di sana.  Mereka melegitimasi diri di depan orang-orang yang tidak tahu dengan ayat-ayat Qur'an yang diselewengkan tafsirnya, atau dengan hadits-hadits yang dhaif atau palsu.  Maka muncullah bid'ah di mana-mana.

1.2    Pengabaian Bahasa Arab

Kekaburan fikrah ini makin dipercepat tatkala bahasa Arab tidak lagi dipelihara.  Hingga berakhirnya masa khilafah Abbasiyah, islamisasi selalu dilakukan bersama-sama dengan "arabisasi".  Dengan itulah, maka orang-orang yang berpotensi dari seluruh dunia Islam, meskipun berasal dari etnis bukan Arab, bisa memberikan kontribusinya yang besar pada Islam.  Bahasa Arab klasik sebagai bahasa Qur'an, yang memang paling  kaya di antara bahasa-bahasa di dunia, menjadi bahasa internasional, bahasa silaturahmi ummat Islam, dan bahasa ilmu pengetahuan Islam.  Tak ada suatu kata yang tidak bisa diungkapkan dalam bahasa Arab.

Adalah keputusan yang fatal dari suatu masa khilafah Utsmaniyah, ketika mereka memutuskan untuk meninggalkan tradisi tersebut, dengan alasan, agar Islam lebih mudah "diserap" tanpa barier bahasa Arab.  Namun akibatnya, di negeri-negeri yang belum berbahasa Arab, bahasa Arab menjadi "hak istimewa" selapis kecil kaum terpelajar saja, sedangkan bagi ummat, khasanah ilmu yang luar biasa, yang selama itu hanya ada dalam bahasa Arab, menjadi tertutup.

1.3    Surutnya Ijtihad

Akibatnya, ketika faktor bahasa Arab menjadi barier, maka ijtihad tidak lagi dikerjakan dengan cukup.  Padahal ummat Islam hanya bisa terus menerus menghadapi zaman, bila mereka terus menerus berijtihad.  Sedangkan ijtihad hanya bisa dikerjakan dalam bahasa Arab klasik.  Ketika sebagian orang nekad berijtihad tanpa bekal yang memadai, timbullah berbagai "fatwa nyleneh", sehingga beberapa penguasa pada zaman itu merasa perlu untuk "menutup pintu ijtihad".  Suatu keputusan berniat baik namun gegabah dan justru memperburuk suasana.

Karena ijtihad tidak lagi dikerjakan, maka persoalan baru tampak menjadi muskil dipecahkan dengan Islam.  Maka ummat Islam pun mulai mengambil solusi dari luar Islam.  Mulai abad 17 (abad 11 H) sejalan dengan invasi Barat ke negeri-negeri muslim, ummat Islam mengambil sistem ekonomi kapitalis dan sistem hukum & politik sekuler, meskipun mereka masih "menguji" agar "tidak bertentangan dengan Islam".  Namun kekaburan ini sudah terlanjur menjadi, dan ummat Islam tidak lagi kritis, bahwa sistem asing yang diimpornya itu didasarkan pada mitos.  Bahkan lambat laun mereka cukup fanatik pada sistem asing itu, karena  telah ada seseorang yang juga sudah dimitoskan yang melegitimasinya.

2    Kekaburan Thariqah Islamiyah

Islam bukanlah ajaran yang memberikan sekedar ide, melainkan juga menunjukkan metode untuk mewujudkan ide tersebut, yang dikenal dengan term "thariqah".  Bila kita selidiki, semua perintah-perintah ilahi selalu termasuk fikrah (=ide) atau thariqah (=metode), dan tak ada perintah fikrah tanpa thariqah, atau thariqah tanpa fikrah.

Sebagai contoh, "Berimanlah" adalah perintah fikrah.  Perintah thariqah yang berkaitan dengan ini adalah hal-hal yang menyangkut mengamati alam serta melakukan pemikiran rasional yang menjadi landasan iman, dan perlindungan iman termasuk jihad serta hukuman mati bagi orang-orang yang murtad.
Contoh lain, "Jiwamu, Hartamu dan Kehormatanmu adalah suci" adalah perintah fikrah.  Perintah thariqah yang berkaitan adalah perlindungan atas kesucian itu, seperti fasilitas kesehatan, polisi, pengawas pasar, peradilan keluarga, dan juga termasuk hukuman bagi pelanggaran atas tindak pidana yang terkait.

Kekaburan atas thariqah Islamiyah bisa dibagi dalam tiga tahap:

2.1    Kendurnya Jihad

Pada awalnya ummat Islam sadar bahwa hidup mereka dipersembahkan untuk Islam serta untuk memanggul dakwah Islam, dan ini berarti termasuk jihad al-qital (perang fisabilillah), agar tak ada lagi fitnah di muka bumi sehingga agama itu hanya untuk Allah belaka (QS 2:193).

Dan karena jihad memerlukan persiapan yang matang, maka otomatis kaum muslimin menyiapkan tubuh yang sehat dan kuat, keluarga yang intakt, negara yang adil, ekonomi yang mapan, IPTEK yang maju dan ibadah yang khusyu'.  Jihad sebagai alat dakwah sekaligus menjaga kaum muslimin agar selalu menjadi ummat terbaik di muka bumi (khairu ummat) agar ummat lain yakin, bahwa ajakan kepada Islam memang akan membawa mereka menjadi maju, adil, makmur dan diridhoi Allah.  Bila mereka perlu contoh, maka silakan melihat sendiri fakta di Daarul Islam. Saat itu, adakah negara yang lebih baik dari Daarul Islam? Inilah dakwah yang sangat meyakinkan.

Namun lambat laun, bersamaan dengan kekaburan fikrah, maka orientasi ummat Islam mulai bergeser.  Di satu sisi, sebagian ummat lebih cenderung untuk "meresapi kehidupan religi" yang disalahtafsirkan sebagai "Jihad Qubra", sebagaimana tampak dalam ribuan sekte-sekte "sufi" yang menjauhi jihad serta amar ma'ruf nahi munkar.  Di sisi lain, sebagian ummat lebih cenderung "menikmati rejeki Allah" dengan hidup lux, walaupun dari rejeki yang halal.  Yang jelas, jihad mulai redup.  Dan dakwah mulai dikerjakan "sambil lalu".  Ini yang menjelaskan, mengapa dakwah ke Asia Tenggara praktis tanpa jihad, walau tetap pantas dikagumi, bahwa "dakwah sambil lalu" dari para pedagang itu toh masih memiliki kemampuan yang tinggi untuk mendesak suatu ajaran lama.  Namun fikrah yang masuk sudah tidak sejernih dakwah pada generasi awal Islam.

2.2    Lenyapnya Daulah Khilafah

Ketika qualitas ummat semakin redup, maka semakin turun pulalah kontrol atas kekuasaan sesuai pepatah Arab ("Pemimpinmu itu sebagaimana kamu").  Daulah khilafah, meski saat itu masih ada dan diakui ummat Islam di seluruh dunia, namun kekuasannya mulai terbatas sekedar sebagai simbol persatuan spiritual, sedangkan di mana-mana mulai tampil raja-raja monarki, yang meskipun masih memerintah dengan Islam, namun tak lagi sepenuhnya menyemangatkan "Jama'atul Islamiyah" (=negara dunia Islam) melainkan "Jama'atul Qaumiyah" (=negara kebangsaan).  Akibatnya, potensi ummat Islam mulai tidak menyatu menjadi sinergi yang luar biasa.  "Take care" ummat Islam di suatu wilayah atas penderitaan ummat Islam di wilayah lain tinggal sebatas pada doa dan sedekah yang tidak seberapa, karena khilafah tidak lagi kuat untuk menjalankan fungsi baik komando maupun koordinasinya.  Di samping itu, bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu mulai kurang dipahami oleh ummat Islam sendiri, karena kurang dipelihara.

2.3    Lepasnya Bumi Islam

Ketika khilafah mulai lemah, sementara fikrah sudah sangat kabur, maka relatif mudah bagi bangsa Barat untuk invasi dengan menggunakan politik devide et impera.  Antar raja-raja muslim karena semangat qaumiyahnya mulai gampang dihasut dan diadu domba.  Maka Barat menjanjikan bantuan pada salah satu pihak, dengan imbalan wilayah.  Para penguasa muslim tidak lagi sadar, bahwa adalah haram hukumnya meminta perlindungan pada orang-orang kafir, dan perselisihan antar kaum muslimin harus dicarikan penengah yakni dari khalifah.  Namun apa daya ketika khilafah sendiri mulai lemah?

Maka satu demi satu bumi Islam mulai lepas ke tangan penjajah.  Dan mulailah, sedikit demi sedikit penjajah memasukkan sistem kufur dalam kehidupan, dan menggeser sistem Islam.  Proses ini makin  dipercepat ketika kalangan elit muslim juga terpengaruh fikrahnya, apalagi melihat Barat secara material/fisik berada di atas angin.

Ketika di abad-20 bumi Islam diberi kemerdekaan kembali - karena desakan politik (pseudo) anti imperialisme dari Uni Soviet maupun Amerika Serikat,  sehingga kolonialisme gaya lama menjadi tidak "in" lagi, sistem yang berlaku pada mereka, serta fikrah yang lazim pada mereka, sudah sangat terkontaminasi dengan produk-produk mitos Barat.   Sementara khilafah, sebagai simbol persatuan ummat Islam, pun sejak 1924 secara formal sudah tidak ada lagi.

3    Kekaburan Relasi Fikrah-Thariqah

Bila di kesempatan yang lalu kita sama-sama melihat secara terpisah bahwa bidang fikrah maupun thariqah sama-sama terserang "penyakit", maka lepasnya kaitan antara fikrah dan thariqah lebih mempercepat lagi proses tersebut, atau setidaknya, menyulitkan proses penyembuhannya.  Ibarat seorang pasien penyakit jiwa yang juga mengalami penyakit jasmani,  maka mestinya penanganannya dilakukan secara holistis ("menyeluruh"), dan tidak sepotong-sepotong, karena kestabilan jiwa juga tergantung pada kesehatan jasmani, dan demikian pula sebaliknya.

3.1    Disintegrasi Studi Islam

Pada awalnya, kaum muslimin mempelajari Islam secara menyeluruh.  Prioritas mempelajari ilmu tidak tergantung dari subyeknya, namun semata dari hukm syar'i amal/prakteknya (fardh-mustahab-mubah).  Suatu amalan yang fardh, maka semua ilmu yang terkait pun fardh.  Maka ketika jihad fardh, iptek pendukung jihad pun fardh.  Demikianlah, ketika studi Islam dikerjakan dengan benar, tak ada dikotomi antara so called "ilmu agama" dengan "ilmu dunia", tidak ada pemisahan antara hukum waris dengan aljabar, atau ilmu sholat dengan astronomi, dll.

Namun lambat laun, sejalan dengan merebaknya mitos dan melemahnya ijtihad, kaum muslimin lebih berkonsentrasi pada ilmu-ilmu "ide" namun mengabaikan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan metode pelaksanaan ide-ide tersebut.  Maka mereka memusatkan diri pada peraturan ibadat ritual (sholat/puasa) atau tentang nikah dan cerai; namun mengabaikan misalnya peraturan tentang jihad, khilafat, lembaga peradilan dan sistem ekonomi Islam.  Belakangan, sistem peradilan bahkan dipisah menjadi peradilan sistem (al-qadhi an-Nizhami) yang menjalankan hukum positif (non Islam) yang berkaitan dengan pidana, ekonomi, tata negara dsb; dan peradilan agama (al-qadhi as-Syar'i) yang cuma mengurusi keluarga (nikah, cerai, waris).  Hukum Islam tidak lagi dijadikan pegangan untuk semua jenis peradilan.

Mereka mempelajari Islam berlawanan dengan metode yang diperlukannya.  Sebelumnya, fiqh selalu dipelajari secara praktis, yang sesuai masalahnya akan dijalankan oleh individu, keluarga atau negara sebagai organ exekutif.  Pada awalnya, fiqh berkembang di tangan para mujtahid yang diikuti oleh qadhi (=hakim), sehingga masalah yang dibahasnya selalu relevan dengan realita.  Maka ketika syari'ah tidak lagi dijadikan pegangan dalam menetapkan hukum positif, mulailah ia jauh dari realita.  Fiqh Islam didegradasi menjadi aspek teoretis-moral saja.  Ia tidak lagi menjadi alat untuk memberikan solusi bagi permasalahan sehari-hari ummat, dan para ahlinya diturunkan jabatannya menjadi sekedar penceramah atau missionaris yang membosankan masyarakat dengan khutbahnya yang selalu diulang-ulang, tanpa bisa melahirkan suatu energi yang produktif.   Ujung-ujungnya, studi Islam dianggap "melangit" dan tidak "membumi".

Akibatnya, pemuda-pemuda yang cerdas dari ummat Islam pada umumnya akan lebih condong pada studi yang lebih praktis seperti teknologi, kedokteran, ataupun "ilmu-ilmu sistem" yang dipakai, seperti ekonomi atau hukum positif, meskipun tidak berasal dari Islam.  Dan sebaliknya, studi Islam tinggal ditekuni oleh mereka yang secara umum "second class", walaupun tetap ada satu dua orang yang gemilang, sebagai perkecualian.  Sementara itu, secara keseluruhan, ummat menganggap studi Islam sebagai fardhu kifayah, dan gugurlah kewajiban mereka bila telah ada orang yang mengerjakannya.  Padahal mestinya, setiap muslim yang dewasa dan berakal sehat, fardhu ain untuk mengetahui segenap peraturan Islam yang diperlukan dalam hidupnya sehari-hari, karena ia diwajibkan untuk senantiasa beriorientasi pada perintah dan larangan Allah.  Hanya ijtihad untuk menurunkan hukm syar'i dari Qur'an dan Sunnah yang fardhu kifayah.

Akibatnya, sprial kemunduran studi Islam makin menjadi-jadi.  Mereka yang akhirnya secara formal dianggap "pakar" dalam studi Islam, sering tidak lagi kompeten untuk mengajukan Islam sebagai solusi permasalahan aktual.  Bahkan tidak jarang, orang yang hanya mengenal Islam sepotong-sepotong, dengan mudah dijadikan masyarakat sebagai "tokoh Islam", yang didengar ucapannya, dan diikuti pendapatnya.

3.2    Evolusi Islam

 Akibat "the wrong man on the wrong place" ini, yang sering ada bukannya "Islam meluruskan masyarakat" namun "Islam disesuaikan dengan masyarakat".  Karena ummat tidak mengetahui lagi metode menjalankan ide-ide asli Islam, maka Islam dicoba ditafsirkan kembali agar konform dengan "semangat zaman".  Yang dimasuki tidak cuma aspek-aspek hukum parsial, namun bahkan ushul fiqh yang fundamental.  Maka timbullah prinsip-prinsip nyeleneh seperti "Fiqh itu mengikuti tempat dan waktu", atau "Tradisi itu boleh menjadi sumber hukum", atau "Hukum boleh dihapus demi kemaslahatan", dsb. Bahkan tidak jarang, mimpi ataupun contoh kehidupan / pengalaman pribadi seorang tokoh muslim kontemporer dijadikan hujjah.

Mereka mulai menghalalkan bunga dengan alasan itu perlu untuk uang yang mengalami inflasi atau untuk mengisi kas anak yatim (=ada maslahat).  Pelacuran, judi atau konsumsi khamr mulai tidak dijauhi habis-habisan namun justru ditolerir secara terbatas dengan istilah "lokalisasi".  Kerjasama dengan negara perampok (Israel) dikatakan halal dengan alasan tidak ada mimpi yang melarangnya.  Dan muslimah difatwakan tidak usah berjilbab karena istri sang tokoh juga tidak berjilbab.

Dan karena "semangat zaman", maka semua hukum Islam yang lain pun disesuaikan agar cocok dengan ideologi modern, entah itu kapitalisme, marxisme, sekulerisme/demokrasi, dsb.  Bahkan mereka menganggap "ada demokrasi dalam Islam" atau "ada kapitalisme dalam Islam".  Mereka tidak lagi mampu melihat mitos-mitos yang ada di balik isme-isme modern itu, sehingga menganggap asas musyawarah sebagai demokrasi, pasar bebas sebagai kapitalisme, dan toleransi mazhab sebagai sekularisme.

Bahkan mereka anggap, syi'ar Islam bisa "ditinggikan" atau "disempurnakan" dengan slogan-slogan nasionalisme, demokrasi, hak asasi manusia, dsb. Mereka berpikir, dengan itu, Islam bisa ditampilkan dengan wajah yang lebih "ramah".  Namun pada hakekatnya, Islam justru semakin jauh dari kehidupan.  Andaipun nama Islam tampil, ia tak lebih sekedar sebagai "agama yang diakui negara", "agama negara" atau sekedar kenyataan bahwa "kekuasaan ada di tangan mereka yang mengaku muslim".   Dan ummat umumnya tanpa sadar sudah puas, bahwa kini mereka tidak lagi diperhamba oleh penjajah kafir, namun oleh "penjajah muslim".  Maka mereka menghentikan usaha untuk hanya diperhamba oleh Allah atau oleh hukum-hukum Allah saja.

3.3    Terpojok di Sudut Defensif

Ketika fikrah Islam sudah sangat redup, mitos sudah merajalela, orang menjadi mukmin tidak karena berpikir tetapi karena ikut-ikutan lingkungan, khilafah sebagai methode menerapkan Islam di masyarakat  tidak exist lagi, bahkan masyarakat semakin asing dari ajaran Islam yang murni karena studi Islam ditangani oleh orang-orang yang bukan ahlinya, yang tidak meluruskan masyarakat namun justru merubah Islam, di saat yang sama datang serangan yang telak dari orang-orang kafir: MENYUDUTKAN ISLAM.

Musuh-musuh Islam sadar, bahwa tidak mungkin menghancurkan Islam dan ummat Islam dengan kekuatan senjata.  Karena itu, mereka berupaya  terus menerus tanpa henti, untuk minimal membuat Islam dan ummat Islam tidak lagi berbahaya bagi kepentingan mereka.  Andaikata ummat Islam masih tegar seperti pohon yang sehat dan berakar dalam, maka niscaya badai topan sebesar apapun akan dengan tatag dihadapinya.  Namun kini, ketika akar sang pohon sudah lapuk, maka terpaan angin sepoi-sepoi saja bisa membuatnya rubuh.

Maka ummat Islam dewasa ini umumnya kelimpungan, ketika dikonfrontasikan dengan berbagai ajaran Islam yang ada dalam Qur'an atau Sunnah sendiri.   Mereka tidak bisa menerangkan, mengapa Islam memerintahkan memotong tangan pencuri, atau membagi warisan bagi lelaki 2x wanita, atau bahwa seorang lelaki boleh menikahi sampai 4 istri, atau bahwa dalam Islam ada perintah jihad, dsb.  Ketika orang-orang kafir mengkritik hal itu sebagai barbarik, bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia, atau Islam itu fanatik dan agresif, ummat Islam umumnya hanya bisa dengan terbata-bata membela diri.  Mereka mencoba menafsirkan kembali Islam, sekedar musuh-musuhnya puas, dan kritikan mereda.

Mereka katakan, perintah memotong tangan pencuri itu hanya metaforis.  Mereka katakan juga, bahwa sekarang ini warisan harus dibagi sama, karena wanita muslim sekarang sudah sama derajatnya.  Tentang polygami,  mereka katakan, sebenarnya di Qur'an diharamkan, karena manusia tidak  mungkin berlaku adil.  Dan tentang jihad, mereka katakan jihad itu hanya dilakukan bila ummat Islam diserang (defensif).

Amboi, betapa jauhnya tafsiran-tafsiran "modern" ini dengan ajaran Islam yang murni.  Karena dalam Sunnah-nya, Rasulullah telah menunjukkan sendiri bahwa ia memotong tangan pencuri, bahwa ia menikahi banyak istri, dan bahwa jihad yang dilakukan ummat Islam melawan Persia atau Romawi, sama sekali bukan jihad ketika ummat Islam diserang.  Dan ajaran Islam merupakan risalah terakhir yang diturunkan Allah di muka bumi, sehingga tetap berlaku hingga hari kiamat.  Maka betapa anehnya tafsiran-tafsiran baru, yang mungkin dilakukan dengan "niat baik", namun hasilnya malah justru memporak-porandakan ajaran Islam yang murni.  Kesalahan tafsir yang fatal ini terjadi, karena ummat Islam memisahkan antara fikrah dan thariqah, karena semua hukum yang dihujjat tadi, memang tak bisa jalan sendiri-sendiri, melainkan hanya berfungsi dalam rangkaian metode yang tepat, dalam suatu negara yang islami, dalam suatu daulah khilafah.

Spiral kemunduran berputar semakin cepat.  Orang-orang yang ditokohkan berlomba mencari pembenaran atas perilakunya, sehingga banyak rakyat jelata yang karena kebingungan akhirnya memutuskan untuk beramai-ramai melepaskan kepercayaannya pada para ulama - termasuk ulama yang shaleh.  Bahkan mereka yang semula gembira dengan type ulama ini, karena merasa bisa "ngerti bahasanya", lambat laun akan dihadapkan dengan sejumlah besar kontradiksi.  Dan akhirnya sama saja: makin jauh dengan ulama.

Ummat yang masih tersisa ghirahnya pada Islam mencoba langsung mempelajari Islam dari sumbernya: Qur'an dan Sunnah.  Namun mereka lupa, bahwa untuk itu diperlukan seperangkat bekal, baik ilmu bahasa Quran (bahasa Arab klasik) maupun ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh.  Karena mereka maju tanpa bekal ini, mereka akan terbentur ke sana ke mari.  Akhirnya kalau tidak terjerumus ke extremitas yang satu (menganggap yang hukum Islam itu cuma fardh semua dan yang lain haram semua), akan terpuruk ke extremitas lainnya (menolak memakai hadits, karena terlalu was-was dengan hadits yang "tidak jelas", dan ujung-ujungnya meragukan Qur'an, karena tanpa penjelasan dari hadits, Qur'an mustahil dipahami dengan benar).

Maka tak heran, ummat Islam sekarang hanya sensitif bila sisa-sisa rasa agamanya diganggu.  Mereka menjadi bersikap menunggu (re-aktif) dan tidak berani memulai (pro-aktif).  Mereka justru menghindari untuk dikenal sebagai muslim, karena ini berarti harus menghadapi berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.  Dan di masyarakat di mana muslim mayoritas, mereka hanya sensitif bila ada kristenisasi, namun "cuek" bila hukum-hukum kafir diberlakukan di atasnya.  Bahkan mereka marah, bila ada orang yang berbeda madzhab sholat agak lain dengan mereka (misalnya tidak baca qunut), namun tenang-tenang saja, ketika harus bermuamalah dengan riba, atau harus mendidik anak dengan pola pendidikan dan kurikulum sekuler.

Ummat Islam jadi tersudut di pojok defensif.  Jarang dari mereka yang berani mengambil inisiatif untuk menelanjangi berbagai ideologi kafir yang didasarkan pada mitos, entah mitos demokrasi (dalam politik), mitos pertumbuhan (dalam ekonomi), maupun mitos HAM (dalam sosial).  Tidak ada lagi dakwah offensif  sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan para pengikutnya terdahulu.

Hasilnya memang tepat seperti yang diinginkan musuh-musuh Islam.
Islam kini tinggal ahlaq - tanpa jihad,
Islam kini tinggal ibadah (ritual) - tanpa syari'ah,
Islam kini boleh menyinari rumah, tapi bukan pasar, pabrik atau bank,
Islam kini boleh menguasai masjid, tapi tidak menguasai kantor,
Islam kini boleh bicara tentang akherat, tapi tidak tentang negara,
Islam yang boleh disanjung adalah Islamnya para pertapa shufi, dan bukan Islamnya umara' yang zuhud, ulama faqih yang zuhud, aghniya' yang zuhud atau mujahidin yang zuhud.
Islam yang tidak mampu menolong ummatnya sendiri, baik di Bosnia, Palestina, Chechnya atau Sudan, apalagi menolong dunia dari disorientasi kehidupan, dari AIDS, dari kerusakan lingkungan, dari kesewenang-wenangan para kapitalis di era globalisasi.
dan Qur'an boleh didendangkan di MTQ, dan bukan di Pengadilan,
dan Qur'an boleh dibacakan pada orang mati, bukan pada orang hidup,
dan Qur'an boleh diajarkan di pesantren, dan bukan di universitas,
dan Qur'an boleh untuk menghitung pembagian zakat, namun bukan untuk membagi kekayaan alam dengan adil,
dsb.

Inilah, Islam semakin jauh dari kehidupan, dan Ummat Islam semakin mundur, meskipun kadang mereka merasa "ada kebangkitan", ketika melihat masjid penuh, MTQ semarak, dan para pejabat berlomba naik haji.  Namun mereka bingung, ketika ketidakadilan tetap saja langgeng, dan korupsi, kolusi serta manipulasi malah justru makin menjadi.

Ibarat orang yang sudah sakit parah, Ummat Islam tidak disembuhkan, tidak dioperasi atau dikasih antibiotik, namun hanya dikasih valium.  "Valium Islam".

Dan inilah realita yang sangat pahit.  Adakah obatnya?  Pasti, untuk setiap penyakit, Allah telah menyiapkan obatnya.  Masalahnya hanya apakah kita cukup tekun berikhtiar serta belajar dari ayat-ayat baik kauni maupun qur'ani, sehingga penyelidikan kita akhirnya sampai ke sana. [Sumber]

29 Desember 2012

Keadilan Menurut Ibnu Taimiyah

Bantahan Terhadap Pendapat Yang Membolehkan Musyarakah dengan Kelompok Sekuler dan/atau Menganggap Negara Islam Tidak Penting dengan Dalih Fatwa Ibnu Taimiyah

Oleh KH Musthafa A. Murtadlo

Allah menolong negara yang adil walaupun (negara itu) kafir dan tidak akan menolong negara zalim walaupun negara itu Mukmin (Syaikhul Islam Ibn Taimiyah).

Pernyataan di atas adalah benar pernyataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam salah satu kitabnya, Majmû’ al-Fatâwâ (VI/322). 

Pertanyaannya adalah, apa makna sebenarnya dari pernyataan tersebut? Benarkah bagi Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah—dengan ungkapan tersebut—sistem yang tidak islami atau sistem Islam itu bukanlah suatu hal urgen dan yang urgen adalah keadilan? Bisakah ungkapan di atas dijadikan hujjah bagi kebolehan ber-musyârakah dengan sistem yang tidak islami dan berkoalisi dengan partai sekular?

Mengurai Masalah
Sebagaimana diketahui, taraf pemikiran umat Islam saat ini begitu merosot tajam hingga hampir mencapai titik nadir. Dampaknya, bermunculanlah pemikiran dan gagasan aneh yang tidak pernah dikenal oleh generasi Islam sebelumnya. Misalnya, kebolehan melakukan musyârakah (bergabung) dengan pemerintahan yang tidak islami, koalisi partai Islam dengan partai sekular dan lain sebagainya. Gagasan-gagasan aneh dan menyimpang ini juga lahir akibat diabaikannya mabâdi’ asy-syarî’ah (prinsip-prinsip syariah) demi apa yang mereka sebut dengan ‘kemaslahatan’. Kemaslahatan telah mereka posisikan seolah-olah lebih tinggi di atas hukum syariah. Akibatnya, suatu perkara yang jelas-jelas haram bisa mengalami metamorfosis menjadi halal jika dalam perkara yang haram tersebut terdapat kemaslahatan. Begitu pula sebaliknya.

Ironisnya, para pengusung gagasan-gagasan di atas juga mengetengahkan sejumlah argumentasi untuk membenarkan pendapat mereka. Mengenai musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami misalnya, mereka beralasan dengan kisah Nabi Yusuf as. Menurut mereka, Nabi Yusuf as. telah ber-musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami yang ada di Mesir saat itu. Mereka juga beralasan dengan kisah Raja Najasyi yang memerintah dengan hukum-hukum kufur, padahal pada saat kematiannya terbukti telah memeluk agama Islam. Menurut mereka, dua kisah ini membuktikan bahwa musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami bukanlah perkara terlarang. Dalam prespektif itu pulalah ungkapan yang dikutip oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah di atas dikemukakan. Dengan ungkapan di atas seakan-akan Ibnu Taimiyah melegalkan musyârakah dalam pemerintahan yang tidak islami dan berkoalisi dengan partai-partai sekular.

Makna Sebenarnya
Lengkapnya, pernyataan Ibn Taimiyah di atas adalah sebagai berikut:

فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى: اللهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلاَ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً
Sesungguhnya manusia tidak berselisih pendapat, bahwa dampak kezaliman itu sangatlah buruk, sedangkan dampak keadilan itu adalah baik. Oleh karena itu, dituturkan, “Allah menolong negara yang adil walaupun negara itu kafir dan tidak akan menolong negara zalim, walaupun negara itu Mukmin.”[1]

Untuk memahami maksud ungkapan di atas secara tepat, paling tidak ada 3 hal yang mesti kita perhatikan. 

Pertama: bentuk ungkapan dan konteksnya. Dalam ungkapan di atas, Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah menggunakan kata yurwâ (diriwayatkan). Dalam ilmu ushulul-hadits, kata tersebut disebut dengan sighât at-tamrîdh yang lazim digunakan untuk meriwayatkan khabar dha’îf (lemah), tanpa sanad dari Nabi saw.[2] Ibn Taimiyah adalah ulama hadis. Beliau juga tentu menerapkan kaidah tersebut. Karena itu, bisa dipastikan,kata yurwâ menunjukkan bahwa beliau tidak yakin terhadap maqbûl (diterima)-nya ’sanad’ ungkapan tersebut. Ini saja sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menolak pendapat sebagian orang yang menjadikan ungkapan Ibn Taimiyah di atas sebagi hujjah atas kebolehan ber-musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami, atau berkoalisi dengan partai-partai sekular.

Kedua: makna ungkapan. Seandainya dari sisi ’sanad’ ungkapan tersebut maqbûl (padahal faktanya tidak), kita tetap harus mengkomparasikan ungkapan tersebut dengan pandangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah tentang adil dan keadilan. Dalam kitab As-Siyâsah asy-Syar’iyyah, Ibn Taimiyyah menjelaskan adil dan keadilan sebagai berikut:[3]

Keadilan itu adalah keadilan yang bersifat syar’i, yakni istiqamah. Adil adalah semua hal yang ditunjukkan oleh Islam—Al-Kitab dan as-Sunnah—baik dalam (hukum) muamalah yang berkaitan dengan sanksi ataupun hukum-hukum lain. Sesungguhnya adil pada semua hal tersebut adalah apa yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah. Sesungguhnya secara umum apa yang dilarang oleh al-Kitab dan as-Sunnah adalah kembali pada realisasi adil dan larangan untuk berlaku zalim, baik secara detil maupun secara global, misalnya makan harta yang bathil…

Inilah pendapat Ibn Taimiyah tentang adil dan keadilan. Pendapat ini kurang lebih sama dengan pendapat para fukaha dan para mufassir tentang keadilan.[4] Imam al-Qurthubi, misalnya, menuturkan riwayat dari Ibn Athiyah yang menegaskan, bahwa adil adalah setiap hal yang difardhukan baik akidah maupun syariah.[5]

Perlu dicatat, bahwa makna syar’i keadilan itu tidak berbeda dengan makna keadilan secara bahasa. Al-Hafidz al-Jurjani menegaskan, bahwa keadilan itu secara bahasa adalah istiqamah, dan dalam syariah berarti istiqamah di jalan yang haq serta jauh dari hal-hal yang dilarang.[6] Jadi makna konprehensif dari kata keadilan secara syar’i tidak keluar dari lingkup iltizâm terhadap apa yang ditunjuk oleh al-Kitab dan as-Sunnah; baik dalam akidah maupun ibadah, akhlak dan muamalah serta nizhâm yang lain.[7]

Dengan demikian, kita tidak ragu sama sekali untuk menyatakan bahwa maksud ungkapan Ibn Taimiyah di atas bukan untuk melegalisasi pemerintahan yang tidak islami atau musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami atau berkoalisi dengan partai-partai sekular.

Ketiga: ungkapan di atas bukanlah fatwa Ibnu Taimiyah mengenai kebolehan melakukan musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami atau kebolehan berkoalisi dengan partai-partai sekular sehingga seseorang menyatakan bahwa kita boleh bertaklid pada fatwa seorang ulama. Sebab, pernyataan tersebut hanyalah pernyataan yang dikutip oleh Ibnu Taimiyah dengan shighât at-tamrîdh, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Alhasil dengan “munâqasyah” di atas, bisa kita simpulkan bahwa ungkapan yang dikutip oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmû’ al-Fatâwâ di atas tidak bisa dijadikan argumen atas kebolehan musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami atau kebolehan koalisi dengan partai-partai sekular. Apalagi konteks ungkapan Ibn Taimiyah di atas pada dasarnya hanyalah ungkapan hiperbolik yang menjelaskan keutamaan adil serta dorongan agar seseorang berbuat adil, tidak lebih. Ungkapan ini disitir oleh Imam Ibnu Taimiyah pada bab qâ’idah fi al-hisbah (kaidah dalam masalah hisbah/peradilan). Jadi, ungkapan ini hanya berhubungan dengan topik peradilan dan hal-hal yang berkaitan dengan peradilan, yakni keharusan seorang qâdhi (hakim) menegakkan keadilan dan rasa aman di tengah-tengah masyarakat. Tentu ungkapan di atas sama sekali tidak berhubungan dengan kebolehan seorang Muslim melakukan musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami, atau melakukan koalisi dengan partai-partai sekular (kafir).

Khatimah
Lalu bagaimana kewajiban kita? Kewajiban kita adalah mengubah masyarakat yang tidak islami menjadi masayarakat yang islam. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sulaiman Ibnu Buraidah dituturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:[8]

أُدْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَـابُوكَ فأَقْبِلْ مِنْهُمْ و كُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ أُدْعُهُمْ إِلَى التَّحَوّلِ مِنْ دَارِهِمْ الى دَارِالمُهَاجِرِيْنَ و أَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ ما لِلْمُهَاجِرِيْنَ وَ عَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِريْنَ
Serulah mereka pada Islam. Jika mereka menyambutnya, terimalah mereka dan hentikanlah peperangan terhadap mereka, kemudian ajaklah mereka berpindah dari negerinya (dâr al-kufr) ke Dâr al-Muhâjirîn (Dâr al-Islâm; yang berpusat di Madinah); beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka telah melakukan semua itu maka mereka akan mendapatkan hak yang sama sebagaimana yang dimiliki kaum Muhajirin dan juga kewajiban yang sama seperti halnya kewajiban kaum Muhajirin.

Hadis tersebut menjelaskan dengan shârih (jelas) kewajiban seorang Muslim untuk mengubah sistem yang tidak islami menjadi sistem Islam.

Nabi saw. juga memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi para penguasa yang telah menampakkan kekufuran nyata (kufr[an] bawâh[an]). Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dari Ubadah bin Shamit yang berkata:[9]

دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ اْلأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
Nabi saw. pernah mengundang kami. Lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami: bahwa kami berbaiat kepada beliau untuk selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami; beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah (HR al-Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim wajib mencabut kekuasaan dari seorang penguasa yang telah terjatuh pada kekufuran yang nyata (kufr[an] bawâh[an]).

Pada saat yang sama, Nabi saw. tetap memerintahkan kaum Muslim untuk menaati penguasa zalim dan fasik, sepanjang dia masih menerapkan syariah Islam dalam kehidupan negara dan masyarakat. Nash-nash yang berbicara masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:[10]

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Siapa saja membenci sesuatu yang ada pada pemimpinnya (Imam/Khalifah), hendaklah ia bersabar. Sebab, tak seorang pun boleh memisahkan diri dari jamaah, sekalipun hanya sejengkal, kemudian dia mati, maka matinya adalah seperti mati Jahiliah.

Terkait dengan hadis ini Imam al-Hafidz an-Nawawi[11] menegaskan, “Ahlus Sunnah wal Jamaah bersepakat, bahwa penguasa (Imam/Khalifah) itu tidak diturunkan hanya karena kefasikannya.” Selanjutnya Imam an-Nawawi[12] menegaskan: Sebab mengapa penguasa (Imam/Khalifah) yang fasik tersebut tidak diturunkan serta mengapa haram keluar dari kekuasannya adalah akan berakibat pada terjadinya fitnah, tertumpahnya darah dan kerusakan karena permusuhan…Karena itu, kerusakan yang terjadi akibat penurunan Khalifah/Imam adalah lebih besar daripada kalau mereka dibiarkan (tetap berkuasa). Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

Catatan kaki:

1 Ibnu Taimiyyah, Majmû’ al-Fatâwâ, VI/322.
2 Jamaluddin al-Qashimi, Qawâ’id at-Tahdîts fî Fununi Musthalah al-Hadîts, 1/77.
3 Lihat: Ibn Taimiyyah, As-Siyâsah asy-Syar’iyyah, Dar al-Ma’arif li ath-Thiba’ah wa an-Nasyr, Beirut, tt., hlm. 15 dan 156; Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, hlm. 147.
4 Syaikh Ihsan Abdul Mun’im Samarah, Mafhûm al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyah fî al-Fikri al-Islâmi al-Mu’âshir, hlm. 49.
5 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, X/165-166.
6 Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, hlm. 152.
7 Dr. Muhammad Sidiq Afifi, Al-Mujtama al-Islâmi wa al-‘Alaqah ad-Dauwiyyah, 91.
8 Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahîh Muslim, V/139.
9 Al-Bukhari, Al-Jâmi’ash-Shahîh, VI/2588, hadis nomor 6647.
10 Ibid, VI/2588, hadis nomor 6645.
11 Al-Hafizh an-Nawawi, Shahîh Muslim bi Syarhi an-Nawâwi, juz 6 hal 314
12 Ibid.

 

Followers

Direkomendasikan Facebooker

Lalu Lintas Netter