14 September 2016

Download MP3 Kajian Hadits Masjid Unpad Bandung (On Going)

Bismillah...
Langsung saja, yang ingin donwload rekaman kajian Hadits di Masjid Unpad Bandung. Kajian ini dilaksanakan setiap malam Rabu, dari ba'da maghrib hingga setengah sepuluh malam. Dibagi menjadi dua sesi, kajian ini dihadirkan oleh panitia untuk pemula, seperti saya. Sesi pertama adalah Syarah Al Manzhumah Al Baiquniyah oleh Al Ustadz Yuana Ryan Tresna -hafidzahullah-, mahasiswa Doktoral bidang Penelitian Balaghah pada Hadits-Hadits Qudsi. Beliay juga merupakan murid dari Al Ustadz DR. Ahmad Luthfi Fathullah, MA -hafidzahullah-, seorang pakar Hadits asli Indonesia. 
Sesi kedua adalah pembacaan Hadits Jami' Al Kabir (Sunan Tirmidzi) oleh Al Ustadz Fadhil Al Makkiy, Lc -hafidzahullah-, beliau adalah alumni Madrasah Shaulatiyah Makkah. Perlu diketahui Al Ustadz Fadhil Al Makkiy -hafidzahullah- adalah pemegang sanad beberapa kitab, termasuk sunan Tirmidzi. Oleh karena itu, pembacaan hadits ini juga sekaligus pemberian ijazah sanad kepada para thullab yang mengikuti kajian hingga selesai dibaca seluruh hadits dalam Sunan Tirmidzi. 
Kajian hadits ini baru berjalan 2 pertemua, dan insya Allah akan terus diupdate.
Saya mohon maaf jika kualitas suara kurang baik. Saya juga mohon maaf, jika ada bagian-bagian yang tidak sempat direkam.
Untuk mendownload semua file sekaligus, silahkan klik kanan atas box list file.
Untuk mendownload file satu-persatu, silahkan klik tombol panah kecil disamping kan setiap file yang ingin didownload.
Semoga bermanfaat!


08 Desember 2015

“PEPESAN KOSONG" UTBAH BIN RABIAH

Bismillahirrahmanirrahim. Beberapa hari terakhir ramai orang bicara tentang “pepesan kosong”. Pemicunya adalah sebuah situs yang menanggapi terbitnya buletin Al-Islam yang berjudul “Pepesan Kosong Peilkada Serentak”. Sayangnya, tulisan Al-Islam yang dipenuhi data dan fakta itu dibantah dengan curhatan ala ABG labil. Lucunya lagi, banyak juga yang mendukung tulisan “ABG” ini. Kebanyakan yang mendukung dan membenarkan adalah mereka yang tersinggung dengan isi Al-Islam, karena mereka adalah orang yang (katanya) berjuang di dalam kubangan demokrasi.

Nah, ditengah serunya masalah itu, berikut saya copaskan tuisan Al Akh Padli Marji yang menurut saya bagus untuk dibaca dan direnungkan. Khususnya bagi yang berdalih dengan “Memberi Manfaat”.

***awal kutipan***

"PEPESAN KOSONG" UTBAH BIN RABIAH YANG MENAWARKAN NABI SAW KEKUSAAN ASALKAN NABI SAW MENINGGALKAN DAKWAH...

Oleh Padli Marji

Utbah bin Rabi’ah adalah seorang pemuka dikaumnya. Pada suatu hari ia pernah duduk – duduk di majelis Quraisy. Sementara Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pada saat itu sedang duduk di majelis sendirian.

Kemudian Utbah berkata : “Wahai kaum Quraisy, tidakkah kalian izinkan aku untuk menemui Muhammad dan mengajaknya berbicara, lalu aku tawarkan kepadanya beberapa hal, barangkali saja ia mau menerima sebagian nya, lalu kita berikan apa yang di inginkan dan maka dengan demikian kita pun dapat tenang dari ulahnya?”

Mereka berkata : “ Ya tentu saja, Wahai Abu Walid, temuilah ia dan ajaklah ia berbicara.”

Kemudian Utbah pergi menemuinya, lalu berkata : “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau adalah bagian dari kami yang engkau telah ketahui sendiri kedudukan mu didalam nasab dan sesungguhnya engkau telah mendatangi kaum mu dengan membawa sebuah berita yang besar maka engkau memecah belah kesatuan mereka dan menganggap bodoh impian mereka, engkau cela dengan nya agama dan tuhan – tuhan mereka, engkau kafirkan dengan nya orang – orang terdahulu dan ayah – ayah mereka, maka dengarkanlah aku karena aku akan menawarkan kepadamu beberapa hal, yang barangkali nantinya bisa menjadi bahan pertimbangan mu, dan semoga saja engkau akan menerima beberapa darinya, lantas Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Katakanlah wahai Abu Walid, aku akan mendengarnya.”

Utbah berkata : “ Wahai anak saudaraku, jika yang engkau inginkan dari ini semua adalah harta maka kami akan mengumpulkan nya untuk mu dari harta – harta kami hingga engkau menjadi orang yang paling kaya diantara kami, dan jika engkau menginginkan dengan nya kemuliaan, maka kami akan memuliakanmu hingga kami tidak memulaikan siapapun selain engkau, dan jika engkau inginkan adalah kekuasaan, maka kami akan membuat mu menjadi berkuasa atas kami, atau jika hal yang engkau bawa ini adalah hanya pendapatmu saja dan engkau tidak mampu menghalaunya dari dirimu, maka kami akan memanggilkanmu seorang dokter yang kami akan kerahkan harta kami untuknya hingga engkau sembuh darinya karena terkadang seseorang itu terkalahkan dengan bawaan tabiat nya hingga ia berobat darinya…”

Tatkala Utbah selesai dari perkataan nya, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengarkan nya dengan baik, lantas beliau berkata : “Apakah engkau telah selesai wahai Abul Walid?”

Ia menjawab : “Ya” Lalu beliau berkata : “Maka sekarang dengarkanlah aku.” Ia berkata “Ya, aku mendengarkan.” Lantas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

( 1 ) حم

( 2 ) تَنزِيلٌ مِّنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

( 3 ) كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

( 4 ) بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

( 5 ) وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِن بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ

( 1 ) Haa Miim.

( 2 ) Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

( 3 ) Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,

( 4 ) yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.

( 5 ) Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)". [Al-Qur’an Surat Fushilat ayat 1- 5]

Kemudian beliau meneruskan bacaan nya dan ketika Utbah mendengarnya ia terdiam hingga Rauslullah sampai pada ayat sajadah lalu beliaupun sujud, kemudian berkata : “Sungguh engkau telah mendengarnya wahai Abu Walid apa yang seharusnya engkau dengar.”

Lalu Utbah pergi menuju kepada sahabat – sahabatnya maka merekapun saling berkata kata : “Kami bersumpah, dami Allah telah datang kepada kalian Abul Walid dengan wajah yang tidak sama sebagaimana ia pergi tadi.”

Maka tatkala ia duduk dihadapan mereka, mereka langsung bertanya : “Apa yang terjadi tadi, wahai abul Walid?” maka ia menjawab : “Tadi aku mendengar sebuah perkataan dan demi Allah, aku belum pernah mendengar yang semisalnya sama sekali dan aku berumpah dengan nama Allah bahwa perkataan itu bukanlah syair, juga bukan perkataan tukang sihir atau perkataan dukun. Wahai kaum Quraisy patuhilah aku dan biarkanlah ia bersama dengan apa yang diserukan nya dan tinggalkanlah ia karena demi Allah sesungguhnya didalam perkataan yang aku dengar tadi terdapat berita besar yang jika bangsa Arab menerimanya, maka akan cukuplah hal itu dari selain nya, dan apabila hal itu muncul dikalangan orang Arab, maka akan membesarkan kekuasaan kalian serta akan menambahkan kejayaan kalian dan kalian pada saat itu menjadi manusia yang paling berbahagia dengan nya.

Maka mereka berkata : “Demi Allah sesungguhnya engkau wahai Abul Walid telah terkena sihirnya.” Lantas ia berkata : “Inilah pendapatku terhadapnya, maka terserah kalian mau berbuat apa.”

[Dikeluarkan oleh ‘Abd bin Hamid didalam Musnadnya, dan dinukil oleh Ibnu Katsir didalam Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/63 dab disebutkan juga oleh Al-Baihaqi didalam Dalailun Nubuwah 2/202-206. Lihat Dengan Al-Qur’an Masuk Islamlah Mereka hal 68-71. Abdul Aziz Sayyid Hasyim Al-Ghazzauli. Cet Darus Sunnah]

Pertanyaan :

1. Kenapa Rasulullah SAW tak menerima saja tawaran tersebut,, bukankah dgn menjadi "Raja/Penguasa" dikota Makkah NABI SAW bisa melindungi sahabat yg diam2 memeluk islam dan disiksa oleh kaum dan majikan mereka.. ?

2. Kenapa Rasulullah SAW tak menerima saja tawaran tersebut,,bukankah dgn menjadi "Raja/penguasa" di kota Makkah Rasulullah SAW akan lebih mudah utk mendakwahkan islam secara perlahan kpd rakyat kota Makkah mengingat status beliau sebgai seorg "Raja".. ?

3. Kenapa Rasulullah SAW tak menerima saja tawaran tersebut,, bukankah dgn menjadi "Raja/Penguasa" dikota Makkah , Rasulullah SAW mampu mencegah Pembesar2 Kafir Quraish jahiliyah berkuasa dan berbuat semena-mena kpd para sahabat Rasulullah SAW di kota Makkah.., Bukankah dgn menjadi Raja di kota Makkah Rasulullah akan mengurangi "sedikit" mudharat bagi ummat islam yg baru berkembang pada saat itu,,. ??

***Akhir Kutipan***

Sebagai tambahan, berikut link bahasan seputar dalil pembenaran untuk menjalankan demokrasi sebagai jalan perjuangan.

1. Tulisan lama: Kaidah Berpolitik

2. Hukum Berpartisipasi dalam Pemerintahan Kufur

3. Ka’idah Raf’u Al Haraj: Mengahalalkan Yang Haram?

4. Ahwan Asy Syarrain

5. Bolehkah berdalil dengan Nabi Yusuf?

6. Nabi Yusuf terlibat dalam Pemerintahan Kufur? baca juga Apakah Nabis Yusuf berpartisipasi dalam Pemerintahan Kufur?

7. Lantas, Bolehkan Berjuang Lewat Parlemen?

8. Berkoalisi dengan Kelompok Sekuler berdasarkan Perjanjian Hudaibiyah. Ini bahasannya: Perjanjian Hudaibiyah

[http:at-tohir.blogspot.com]

11 Oktober 2015

Hubungan Ahli Fiqih dan Ahli Hadits Zaman Dulu

Entah siapa yang memulai, dikotomi antara muhaddits dan faqih hari-hari ini anginnya terasa cukup kencang saja. Meskipun sebenarnya hal itu bukanlah hal baru. Memang, dari namanya saja sudah beda, muhaddits adalah ulama yang intens dalam membahas hadits, sedangkan faqih adalah ulama yang intens membahas fiqih.

Perbedaan itu akan menjadi harmoni jika keduanya bekerja sama dengan apik, dan itulah yang terjadi pada ulama’-ulama’ Islam terdahulu. Sebut saja Imam Abu Hanifah (w. 150 H); seorang faqih dan al-A’masy (w. 148 H); seorang ahli hadits.

Hal itu sebagaimana diceritakan oleh al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) dalam kitabnya Nashihatu Ahli al-Hadits [1].

Suatu ketika al-A’masy (w. 148 H) duduk bersama Imam Abu Hanifah (w. 150 H). datanglah seorang laki-laki bertanya sesuatu hukum kepada al-A’masy. Al-‘Amasy berkata; wahai nu’man! (Imam Abu Hanifah), jawablah pertanyaan itu! Akhirnya Imam Abu Hanifah menjawab pertanyaan itu dengan baik. Al-A’masy kaget dan bertanya, dari mana kamu dapat jawaban itu wahai Abu Hanifah? Imam Abu Hanifah menjawab, dari hadits yang engkau bacakan kepada kami.

Al-A’masy (w. 148 h) menimpali:

نعم نحن صيادلة وأنتم أطباء

Iya benar, kami ini apoteker dan kalian adalah dokternya

Selain itu, tak bisa dipungkiri juga, ada ulama yang selain faqih juga muhaddits. Tapi itu sangat sedikit jumlahnya. Sebut saja Imam Syafi’i (w. 204 H).

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) berkata tentang Imam Syafi’i (w. 204 H), sebagaimana dinukil oleh al-Hafidz Ibnu Asakir (w. 571 H) [2]

كان الفقهاء أطباء والمحدثون صيادلة فجاء محمد بن إدريس الشافعي طبيبا صيدلانيا

Dahulu Ahli Fiqih itu dokter, sedangkan muhaddits adalah apotekernya. Sehingga datanglah Imam as-Syafi’i, beliau adalah dokter sekaligus apoteker

Pemisahan tugas muhaddits dan faqih bukanlah sesuatu yang negatif. Karena dari situlah para ulama sadar diri atas keilmuan yang dikuasainya. Sehingga antara muhadits dan faqih itu bisa saling bersinergi dalam kebaikan.

Terjadi masalah jika seorang apoteker merasa tidak butuh dokter, bahkan malah buka prakter kedokteran sendiri di apoteknya. Dikotomi muhaddits dan faqih menjadi negatif jika salah satu dari keduanya merasa tidak butuh dengan yang lain.

Kita dapati saat ini ada yang berkata, “Seorang faqih itu haruslah seorang muhaddits, tetapi muhaddits tidak harus seorang faqih. Karena seorang muhaddits itu otomatis pasti seorang faqih”. Muhaddits-muhaddits saat ini [atau yang digelari muhaddits oleh murid-muridnya] beranggapan sinis terhadap fiqih islam, ulama’-ulama’ fiqih dan madzhab-madzhab fiqih.

Merasa sudah mengikuti hadits maka berlepas diri dari pemahaman ulama fiqih dan madzhab ulama terdahulu, dengan membuat madzhab ahli hadits.

Dari sinilah pentingnya kita belajar kembali sejarah ulum al-hadits dan tokoh-tokohnya dari ulama terdahulu. Hal itu untuk menegaskan kembali bahwa justru berkembangnya ulum al-hadits itu berada di tangan ulama, yang mana kebanyakan  ulama itu juga mengikuti salah satu madzhab dalam fiqihnya.

Al-Imam ad-Dzahabi (w. 748 H) meninyindir Ahli Hadits di zamannya, beliau berkata [3]:

وكم من رجل مشهور بالفقه والرأي في الزمن القديم أفضل في الحديث من المتأخرين، وكم من رجل من متكلمي القدماء أعرف بالأثر من سنية زماننا

Banyak dari ulama yang terkenal dalam bidang fiqih dan ra’yu di zaman terdahulu, mereka lebih utama dalam hadits daripada ulama saat ini. Banyak dari ulama yang terkenal ahli ilmu kalam zaman terdahulu, mereka lebih banyak pengetahuannya tentang hadits daripada orang yang mengaku mengikuti sunnah zaman kita ini.

Itu ahli hadits abad ke-8 Hijriyyah pada masa Imam ad-Dzahabi (w. 748 H). Bagaimana dengan ahli hadits era maktabah syamilah? []

Sumber dan Judul Asli: Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 1) oleh Hanif Luthfi, Lc


[1] Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), Nashihatu Ahli al-Hadits, (Maktabah al-Manar, 1408), hal. 44

[2] Ibnu Asakir Ali bin Hasan Hibatullah (w. 571 H), Tarikh Dimasyqi, (Bairut: Daar al-Fikr, 1415 H), hal. 51/ 334

[3] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ad-Dzahabi al-Hafidz (w. 748 H), Zaghlul Ilmi, (Maktabah al-Shahwah al-Islamiyyah), hal. 32

10 Oktober 2015

Pengantar Ulumul Hadits: Sejarah dan Lingkup Kajiannya

Ummat islam memahami bahwa Allah SWT mengutus Rasulullah SAW sebagai pembawa kabar gembira sekaligus pemberi peringatan. Beliaulah yang mengajarkan dan mencontohkan pertama kali pokok-pokok ajaran dalam islam. Tentang keimanan, ibadah, mu’amalah, pakaian, minuman, peragaulan, peperangan, hingga masalah daulah (negara). Kam muslimin wajib menerima segala apa yang beliau perintah, dan meninggalkan apa yang beliau larang, sebagaimana firman Allah SWT.

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang kalian di larang untuk mengerjakannya, maka berhentilah (tinggalkanlah)!” (QS. Al-Hasyr: 7)

Karena begitu pentingnya ilmu ini, maka saya menuliskan pengantar tentangnya, yaitu sejarah, pengertian, dan lingkup kajian ulumul hadits. Ini bukan tulisan ilmiah, dan ditulis bukan oleh ahlinya. Tulisan ini hanya catatan seorang hamba yang faqir ilmu, ditulis dengan ringkas dan sederhana, untuk memudahkan penulis dalam mengingat pembahasannya. Besar harapan pembaca budiman bisa mengambil faidah dari tulisan ini. Bagi para Asatidz, kyai, dan masyaikh, mohon berkenan memberikan masukan dan kritik jika ditemukan kesalahan di dalam tulisan ini. Semoga Allah mengapuni dosa penulis dan memberikan kita semua ilmu yang bermanfaat. Aamiin!

1. Sejarah Ulumul Hadits

Menurut Thahan, pokok-pokok dalam masalah penyampaian riwayat dan berita dapat ditemukan dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW[i]. Dalam Surah Al Hujurat ayat ke-6, Allah SWT berfirman:

يَا أيُهَا الذِيْنَ ءَامَنُوْا إنْ جَاءَكمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَنُوْا

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat ayat 6)

Ayat ini menegaskan kepada orang-orang beriman untuk mengklarifikasi setiap pengambilan berita/riwayat, menjaga kebenarannya dan teliti dalam menyampaikannya kepada orang lain.

Rasulullah SAW juga bersabda:

نضر الله امرءً سمع منا شيئًا فبلغه كما سمع، فربّ مبلغٍ أوعى من سامع

Mudah-mudahan Allah memberi cahaya kepada seseorang yang mendengar sesuatu dari kami dan dia menyampaikannya sebagaimana yang ia dengarkan. Berapa banyak orang yang disampaikan lebih memahami daripada yang mendengarkan (secara langsung).” (HR. at-Tirmidzi)

Dikarenakan berita tidak mungkin diterima kecuali dengan mengenal sanad (jalan periwayatan)nya, maka muncullah ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil, perbincangan tentang keadaan para perawi, mengenal riwayat yang muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus) dari sanad-sanad, mengenal ‘illah yang tersembunyi dan lain-lain. Akan tetapi, semua ini masih dalam lingkup yang sangat kecil disebabkan oleh sedikitnya perawi yang bermasalah di permulaan munculnya ilmu ini.[ii]

Kemudian, para ulama mulai melebarkan pembahasan ini hingga muncullah perhatian yang besar terhadap berbagai cabang ilmu yang berkait dengan hadits; dari sisi dhabt (akurasi) hadits, metode pengambilan dan penyampaian hadits, pengetahuan tentang nasikh dan mansukh, hadits gharib dan lain-lain. Hanya saja, saat itu, semua ini dilakukan oleh para ulama secara lisan.

Walaupun hadits kebanyakan disampaikan secara lisan, bukan berarti penulisan hadits sama sekali tidak ada. Bahkan sejak masa awal-awal islam sekalipun, para shahabat sudah menulis hadits Nabi Muhammad SAW, meski hanya untuk kepentingan pribadi saja. Karena waktu itu Rasul melawang para shahabatnya menulis hadits karena khawatir tercampur dengan Al Qur’an. Seperti dalam sabdanya:

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ قَالَ هَمَّامٌ أَحْسِبُهُ قَالَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Jangan kalian tulis sesuatu yang telah kalian terima dariku selain Al Qur’an. Barangsiapa menuliskan yang ia terima dariku selain al Qur’an, hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kalian terima dariku, tidak mengapa. Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dari neraka.” (HR Muslim)

Barulah kemudian, di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz lah penulisan hadits secara massal dilakukan. Hal itu diperintahkan oleh sang Khalifah karena setelah masa wafatnya Rasul hingga zaman beliau telah beredar banyak sekali hadits palsu yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu demi berbagai tujuan. [iii]

Demi meneliti kualitas hadits yang dihimpun, para ulama menciptakan beberapa kaidah dan ilmu pengetahuan seputar hadits, yang dengannya mereka dapat membagi-bagi hadits sesuai dengan kualitasnya. Kaidah-kaidah ini sangat berguna dalam menyeleksi periwayatan sebuah hadits. Disinilah mulai lahir ilmu hadits dirayah, meski masih dalam bentuk yang sangat sederhana, dan kemudian disempurnakan oleh para ulama yang muncul pada abad ke 2 dan 3 Hijriyah.[iv]

Menurut Luthfi, Imam Syafi’i (w. 204 H) bisa dikatakan merupakan ulama yang pertama menulis ilmu mushtalah hadits dalam pengertian saat ini, yaitu ketika menulis kitab ar-Risalah. Meski kitab itu berbicara mengenai ushul fiqih, tetapi di dalamnya terdapat kaedah-kaedah ilmu hadits; seperti syarat-syarat hadits bisa dijadikan hujjah, kehujjahan hadits ahad, syarat-syarat ketsiqahan seorang rawi, hukum meriwayatkan hadits dengan maknanya saja, hukum riwayat hadits rawi mudallis, hukum hadits mursal dan lain sebagainya.[v]

Hingga akhirnya, ketika ilmu ini telah matang, istilah sudah mulai baku di kalangan ulama dan setiap disiplin ilmu mulai berdiri sendiri, pada abad IV Hijri, para ulama mulai menuliskan ilmu musthalah dalam buku-buku yang tersendiri. Dan yang pertama kali dikenal menulis ilmu ini dalam sebuah buku tersendiri adalah al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan bin Abdirrahman bin Khallad al-Ramahurmuzi rahimahullahu (w. 360 H) dalam kitabnya “al-Muhaddits al-Fâshil baina ar-Râwi wa al-Wâ’iy”.[vi]

Ulama selanjutnya yang menulis ilmu mushtalah hadits adalah Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrahman al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H), beliau menulis kitab yang berjudul Ma’rifat Ulum al-Hadits. Imam al-Hakim mengumpulkan paling tidak 52 bab ulum al-hadits. Adapun ulama yang cukup komplit menulis ilmu musthalah hadits adalah Imam al-Khatib al-Baghdadi Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit as-Syafi’i (w. 463 H), beliau menulis beberapa kitab tentang ilmu musthalah hadits. Diantara kitab itu adalah al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah, al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits, Taqyid al-Ilmi, al-Mazid fi Muttashil al-Asanid.

Maka tak heran banyak ulama setelahnya mengambil banyak faedah dari kitab-kitab al-Khatib al-Baghdadi as-Syafi’i (w. 463 H) tersebut. Imam Abu Bakr Muhammad bin Nuqthah (w. 629 H) mengatakan:

ولا شبهة عند كل لبيب أن المتأخرين من أصحاب الحديث عيال علي أبي بكر الخطيب

“Tidak bisa dipungkiri, Ulama ahli hadits saat ini semuanya merujuk kepada Ali Abu Bakar al-Khatib”[vii]

2. Hadits dan Ilmu Hadits

Hadits secara bahasa berarti al-Jadid (baru). Sedangkan menurut istilah, hadits adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir (diamnya) maupun sifatnya.[viii] Pengertian ini adalah apa yang dikemukakan oleh Ahli Hadits. Adapun menurut Ahli Ushul, hadits adalah semua perkataan Nabi SAW, perbuatan dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum-hukum syara’ dan ketetapannya.”[ix]

Perbedaan antara keduanya adalah, jika ahli hadits menganggap setiap hal yang melekat pada Nabi SAW (sekalipun kebiasaan yang bersifat kemanusiaan) sebagai hadits, sedangkan menurut ahli ushul, hadits hanyalah yang berkaitan dengan posisi Muhammad SAW sebagai pembuat undang-undang di samping Allah SWT, dan tidak termasuk didalamnya kebiasaan dan sifat beliau kemanusiaan Nabi SAW.

Istilah-istilah lain yang sering digunakan untuk menyebut hadits adalah As Sunnah. Menurut An Nabhani, secara bahasa makna As Sunnah adalah jalan, sedangkan secara syar’i As Sunnah digunakan untuk hal-hal yang masuk kategori ibadah yang bersifat nafilah yang dinukil dari Nabi Alaihis-salam. Kadang digunakan untuk apa saja yang bersumber dari Rasul, baik perkataan, perbuatan atau takrir, semua itulah yang disebut As Sunnah.[x]

Selain itu, kata yang juga memiliki makna yang sama dengan hadits adalah Khabar dan Atsar. Istilah ini kadang digunakan sebagai kata lain hadits, namun kadang juga bisa berbeda arti dari hadits. Menurut Thahan, kata khabar digunakan untuk menyebut berita selain dari Nabi SAW dan sedangkan atsar untuk sesuatu yang disandarkan kepada Shahabat dan tabi’in baik berupa perkataan dan perbuatan.[xi]

Adapu ilmu hadits menurut As-Suyuthi adalah: “Ilmu yang membahas tata cara persambungan hadits sampai kepada Rasulullah SAW dari sisi seluk beluk perawinya; kedhabitan, keadilan, dan bersambung tidaknya nata rantai sanad.”[xii] Jadi, ilmu hadits adalah ilmu yang berkaitan dengan hadist.

3. Lingkup Kajian Ulumul Hadits

Kata ulum merupakan bentuk plural dari kata ilmu. Sederhananya, ulumul hadits adalah ilmu-ilmu yang berkaitan langsung degan hadits Nabi SAW. Secara garis besar, ilmu hadits diklasifikasikan dalam dua ilmu besar, yaitu ilmu Riwayah dan ilmu Dirayah. Ilmu riwayah adalah ilmu yang ilmu yang mempelajari perkataan, perbuatan taqrir (sikap diam) dan sifat-sifat Nabi. Dengan kata lain ilmu hadist riwayah adalah ilmu yang membahas segala sesuatu yang datang dari Nabi baik perkataan, perbuatan, ataupun takrir. Sedang Ilmu Hadist Dirayah adalah ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadist dan sifat-sifat perawinya. Oleh karena itu yang menjadi objek pembahasan dari ilmu hadist dirayah adalah keadaan matan, sanad dan rawi hadist.

Secara umum, kajian dalam ulumul hadits mencakup banyak cabang ilmu, berikut penulis ringkas dari Zein, di antaranya:

1) Ilmu Rijalul Hadits, berbicara tentang seluk beluk perawi hadits sebagai kapasitasnya sebagai perawi hadits, hingga sejarah kehidupannya.

2) Ilmu Tarikhur Ruwah, bicara tentang sejarah hidup para rawi, dimana dilahirkan, dari siapa mereka menerima hadits, siapa saja yang mengambil hadits dari mereka, hingga kapan dan dimana mereka meninggal dunia.

3) Ilmu Jarh wat Ta’dil, yaitu alat untuk mengungkap sisi negatif (jarh) dan positif (ta’dil) yang melekat pada diri para rawi. Sudut pandang yang digunakan ada dua, yakni ‘Adalah (integritas keagamaan) dan Dhabit (Kapasitas intelektual)

4) Ilmu Asbabul Wurud, yaiut ilmu yang berkaitan dengan sebab-sebab suatu hadits dikeluarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

5) Ilmu an Nasikh wal Mansukh, berbicara tentang saling menghapusnya hadits terhadap hadits lain karena adanya pertentangan secara lahiriyah dan tidak memungkinkan untuk dilakukan kompromi.

6) Ilmu ‘Ilal Hadits, membahas tentang hal-hal tersembunyi yang bisa membuat hadits shahih menjadi tercemar.

7) Ilmu Gharibul Hadits, ilmu yang berbicara tentang kosakata – kosakata yang sulit dipahami karena kata tersebut tidak dikenal atau memang asing.

8) Ilmu Mukhtaliful Hadits, ilmu tentang pertentangan antar hadits secara lahiriyah, namun kemudian dihilangkan pertentangannya atau keduanya dikompromikan, baik dengan cara men-ta’yid kemutlakannya, men-takhshish ke-umumannya, atau dengan cara membawanya kepada beberapa kejadian yang relevan dengan hadits tersebut, dan lain-lain.

9) Ilmu At Tash-hif wat Tahrif, ilmu yang bicara tentang perubahan yang terjadi pada hadits baik berupa titik atau syakal, dan juga bentuknya karena disebabkan kesalahan dalam membaca ataupun saat mendengarkannya.

Selain cabang-cabang ilmu di atas, dalam ulumul hadits juga dibicarakan tentang hadits dari sisi banyaknya periwayatan (mutawattir, ahad, ‘aziz, gharib, dan masyhur), kualitas hadits (shahih, hasan, shahih li ghairihi, hasan li ghairihi, dhaif, dan maudhu’), diterima atau ditolak (maqbul dan mardud), hadits ditinjau dari ketersambungan sanad (muttashil, marfu’, munqathi’, dll), serta bahasan-bahasan lain yang masih sangat banyak. Allahu a’lam bish shawab.[Muhammad Tohir]


[i] DR. Mahmud Thahan. Ilmu Hadits Praktis (Terjemah Taysir Musthalah Hadits. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, hal. 6

[ii] Ibid, hal. 8

[iii] KH. Ma’shum Zein, MA. Ilmu Memahami Hadits Nabi. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, hal. 84

[iv] Ibid, hal. 85

[v] Hanif Luthfi, Lc. Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits. http://rumahfiqih.com, diakses pada Sabtu, 10 Oktober 2015

[vi] DR. Mahmud Thahan. Op. cit

[vii] Hanif Luthfi, Lc. Op.cit

[viii] DR. Mahmud Thahan. Op. cit, hal. 13

[ix] KH. Ma’shum Zein, MA. Op. cit, hal. 3

[x] Taqiyuddin An Nabhani. Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah. , hal. 54

[xi] DR. Mahmud Thahan. Op. cit, hal. 14

[xii] KH. Ma’shum Zein, MA. Op. cit, hal. 81

09 Oktober 2015

Cara Mudah Menyimpan Teks Halawan Web/Blog Sebagai PDF di Firefox

Bismillah. Pembaca budiman, malam ini saya mau berbagi cara mudah untuk menyimpan teks pada halaman web/blog dalam bentuk PDF di Firefox. Bagi sebagian kita, mahasiswa biasanya, mencari data atau referensi di internet sudah tidak asing lagi, dan menjadi hal yang lumrah. Jika data atau referensi yang kita inginkan dalam bentuk file PDF, DOC (Ms. Word), PPT (Power Point), dll mungkin tidak ada masalah, karena kita bisa mendownloadnya dan jika ingin membaca ulang cukup buka saja file tadi di komputer kita tanpa harus terkoneksi dengan internet.

Lalu, bagaimana jika dalam pencarian kita di dunia maya ternyata terdampar di web atau blog yang tersaji dalam bentuk postingan teks? Saya yakin, kebanyakan akan men-copy dan mem-paste teks tersebut ke Ms. Word. Tentu saja, itu cukup ribet. Belum lagi jika ada gambar di antara teks itu, maka proses copy-paste terasa sedikit memberatkan komputer.

Alternatif lain yang bisa dilakukan jika tidak menemukan dalam file yang bisa di unduh, adalah dengan menyimpan halaman web tadi secara langusng. Cukup dengan menekan Ctrl+S maka kita akan diberikan box dialog save as. Hanya saja, pengalaman saya, menyimpan halaman web tidak praktis, karena saat mau membaca ulang kita harus membukanya di browser. Belum lagi, data yang kita simpan biasanya berjumlah banyak. Sehingga jika kita melakukan scan antivirus, proses pemindaian akan terasa lebih lama karena jumlah berkas yang lebih besar jumlahnya.

Karena masalah itu, secara tidak sengaja saya menemukan cara yang sangat sederhana agar kita bisa menyimpan halaman web/blog ke dalam bentuk PDF. Tapi ingat, saat kita ingin menyimpan halaman web/blog, kita harus memiliki koneksi internet dan browser Mozilla Firefox (Silahkan cari di google jika belum punya).

Cara sederhana yang saya maksud adalah memasang add-on di firefox. Aplikasinya bernama Print Friendly & PDF. Jika anda adalah pengunjung setia blog saya ini, saya yakin ada sudah pernah baca postingan saya dengan memanfaatkan penyedia layanan yang sama. Bagi yang belum silahkan baca postingan saya berjudul Memasang Tombol Simpan Artikel dalam PDF di Bawah Postingan.

Apa bedanya? Bedanya, tombol yang kita pasang di bawah artikel kita bertujuan untuk memudahkan pengunjung blog dapat menyimpan postingan kita dalam bentuk PDF tanpa harus ribet copy-paste. Sedangan tips kali ini, bisa digunakan untuk menyimpan artikel di web manapun. Asyik kan?!

Jika tertarik, berikut caranya:

1. Buka Mozilla Firefox Anda

2. Klik “Tools” – “Add-on”. Atau Anda bisa langsung menekan Ctrl+Shift+A (Baca: 100 short-cut di Windows Yang Harus Anda Tahu)

3. Pada kolom search di kanan-atas, ketikan “Print Friendly & PDF”. Sebenarnya cukup “Print Friendly” juga bisa. Maka akan muncul tampilan seperti beriku:

Add on print friendly

Klik tombol Install. Tunggu beberapa saat. Setelah selesai maka akan ada gambar printer di firefox anda. Sekarang anda bisa menyimpan halaman web apapun dalam bentuk PDF.

Setelah install add-on

Sebagai contoh kita akan menyimpan postingan saya malam tadi, Hal-hal yang baru saya temukan setelah Ngaji di Hizbut Tahrir. Setelah halaman terbuka, klik tombol “printer” di firefox, nanti akan ada tampilan “calon” PDF kita.

Tampilan Save PDF 1

Pilih PDF dan Download Your PDF.

Tampilan Save PDF download

Selesai! Semoga bermanfaat! [Muhammad Tohir]

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus