13 Agustus 2014

3 Faktor Pembeda antara Kita dan Generasi Terbaik



Islam telah melahirkan generasi manusia yang menjelma menjadi generasi yang sangat istimewa dalam sekarah Islam khususnya, dan sejarah manusia pada umumnya. Mereka adalah generasi shahabat -ridwaanullah ‘alaihim-. Namun, setelah generasi mereka, tidak pernah ada generasi seunik mereka yang lahir dimasa setelahnya hingga kini. Padahal dihadapan kita ada Al Qur’an, kitab yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Nabi kepada para shahabat. Berikut adalah tiga faktor yang membuat kita berbeda dengan generasi shahabat yang penulis sarikan dari bab Generasi Qur’ani: Generasi yang Unik dalam buku Ma’alim Fi Ath Thariq karya Asy-Syahid Sayyid Quthb -rahimahullah-.

1. Faktor referensi

Generasi Shahabat (GS): Hanya Al Qur’an saja satu-satunya referensi yang mereka adopsi. Mereka beradaptasi dengannya dan mengambil pelajaran darinya. Padahal waktu itu telah ada peradaban dan kebudayaan Romawi, juga buku dan undang-undang mereka. Di sisi lain terdapat sisa-sisa peradaban, rasionalitas, filsafat, dan kesenian Yunani. Di tempat lain terdapat pula peradaban Persia, berikut kesenian, kesusasteraan, mitologi, kepercayaan dan sistem pemerintahannya. Selain itu terdapat peradaban lain yang jauh dan dekat, misalnya; peradaban India, Cina, dan lain sebagainya. 

Generasi kita (GK) : Generasi kita menyisipkan Filsafat, mitos dan pandangan Persia, israiliyyat Yahudi, dan teologi Nasrani, dan peradaban dan kebudayaan yang rendah ke dalam referensi kita. Semua berakulturasi dengan penafsiran Al Qur’an dan ilmu kalam, sebagaimana terjadi dengan kajian Fiqih dan Usul Fiqih. Kemudian referensi yang telah terkontaminasi tersebut di kaji dan di pelajari oleh generasi selanjutnya. Maka dari itu jelaslah tidak ada yang menyamai generasi pelopor (GS). 

2. Faktor "Metode Pembelajaran" 

GS: Orientasi mereka dalam mempelajari Al Qur’an adalah untuk di amalkan. Generasi ini tidak mengkaji Alquran dengan berorientasi tradisi dan publikasi, serta tidak pula untuk tujuan hobi dan mencari keuntungan. Tak seorang pun dari mereka yang mempelajari Al Qur’an untuk memperkaya perbendaharaan tradisi semata, tidak pula hanya bertujuan menggabungkan dalil-dalil ilmiah dan fiqhiyah pada konklusi Alquran yang disimpulkan berdasarkan pendapat pribadinya. Mereka mengkaji firman-Nya untuk dipraktekkan seketika mendengarnya, sebagaimana pasukan di medan perang menerima "instruksi harian" untuk di kerjakan seketika itu. 

GK: Orientasi kita dalam mempelajari Alquran untuk penelitian, akademik dan publikasi. Dan kemudian menganggap sepele pengamalan nya, menganggap enteng aturan-aturan agama, mencampuradukkan Al Qur’an dengan ambisi pribadi, membelokkan makna Al Qur’an sejalan dengan aturan yang berlaku agar sesuai dengan hawa nafsu dan kehidupan kita. 

3. Faktor Komitmen
GU: Setelah menerima seruan Al Qur’an maka mereka bersegera membebaskan diri dari pengaruh lingkungan, tradisi, konsepsi, adat-istiadat dan ikatan-ikatan jahiliah. Sebagai konsekuensi dari transformasi akidah, dari syirik (politeisme) menuju tauhid, transformator ideologi dari tren jahiliah menuju mainstream Islam. 

GK: Kita belum bisa melepaskan diri dari kejahiliahan saat ini, yang sekurun dengan islam, atau malah mengenaskan. Semua yang ada di sekeliling kita adalah jahiliah. Konsepsi dan akidah manusia, adat-istiadat dan tradisi mereka, sumber kebudayaan, kesenian dan kesusasteraan, hukum dan undang-undang mereka, bahkan banyak hal yang kita anggap sebagai budaya islam, referensi islam, filsafat dan pemikiran islam, semuanya juga merupakan produk jahiliah tersebut. 

15 Mei 2014

Mengenal Yahudi dan Zionisme, Serta Perannya dalam Meruntuhkan Khilafah [Bagian 2]


[Silahkan baca bagian 1 di sini]

Gerakan Zionisme

Zionisme berasal dari kata Ibrani “zion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds (Jerusalem). Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri. (ZA Maulani, Zionisme: Sebuah Gerakan Menaklukan Dunia).

Orang-orang Yahudi di Eropa ditindas, mereka mendapatkan perlakuan yang diskriminatif, maraknya Anti-Semitism (baca: Anti-Jews) yang dikampanyekan pertama kali oleh Wilhelm Marr. Melihat kondisi ini,  kalangan Yahudi waktu itu terbelah menjadi dua. Satu pihak berpikiran  bahwa Asimilasi dengan masyarakat Kristen Eropa-Amerika adalah cara yang tepat untuk mengatasi problem itu. Pihak lain mengatakan, masalah Yahudi hanya terselesaikan dengan mendirikan sebuah Negara khusus untuk kaum Yahudi. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat)

Harun Yahya menyatakan bahwa Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka. (http://id.harunyahya.com, diakses 12/05/2014)

Gagasan tentang gerakan Zionisme, yaitu suatu gerakan politik untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina, mulai memperlihatkan konsepnya yang jelas dalam buku ‘Der Judenstaat’ (1896) yang ditulis oleh seorang tokoh Yahudi, yang kemudian dipandang sebagai Bapak Zionisme, Theodore Herzl (1860-1904). Ia salah seorang tokoh besar Yahudi dan Bapak Pendiri Zionisme modern, barangkali eksponen (yang menerangkan/menguraikan-red.) filosof tentang eksistensi bangsa Yahudi yang memiliki pandangan paling jauh ke depan yang dimiliki generasi Yahudi di sepanjang sejarah mereka. Ia tidak pernah ragu akan adanya “bangsa Yahudi”. Ia menyatakan tentang eksistensi itu pada setiap kesempatan yang ada. Katanya’ “Kami adalah suatu bangsa – Satu Bangsa”. (ZA Maulani, Zionisme: Sebuah Gerakan Menaklukan Dunia).

Hubungan Yahudi dan Zionisme

Meski Zionisme adalah gerakan politik yang digagas oleh orang-orang Yahudi untuk memberikan solusi terhadap problem mereka, namun ini tidak berarti disimpulkan bahwa semua Yahudi akan mendukung Zionisme, walaupun beberapa ide Zionisme diambil diambil dari kitab suci Yahudi.

Adian Husaini menyebutkan beberapa respon keagamaan di kalangan Yahudi terhadap Zionisme dan ide Negara Israel. Pertama, kelompok penentang keras Zionisme. Kelompok Haradem misalnya, mereka memandang bahwa tahah Israel memang dijanjikan oleh tuhan untuk mereka. Namun, tanah ini dicabut dari mereka disebabkan ketidakpercayaan yahudi sendiri terhadap perjanjian dengan Tuhan. Mereka berasumsi, jika Yahudi menaati Taurat, maka Tuhan akan mengembalikan tanah itu kepada Yahudi. Usaha apapun yang mempercepat penempatan Yahudi di “tanah yang dijanjikan” mereka anggapa sebagai bentuk ketidaksabaran atas janji Tuhan.

Kelompok Naturei Kartei (Inggris: Guardian of the City pun kelompok yang anti-Zionisme, ultra-Ortodoks, yang tidak mengakui Negara Israel dan konsisten menentang Negara Yahudi ini. Mereka menganggap Israel sebagai “Zionisme tak bertuhan” (Goodless Zionism). Mereka juga mendukung perjuangan palestinan dan menyerukan Internasionalisasi Jerussalem.

Kedua, kutub agama yang yang mensupport penuh Zionisme. Diantaranya kelompok Gush Emunim (Block of the Faithfull). Kelompok ini memberikan biaya kepada para pemukim Yahudi di Tepi Barat, setelah kemenangan Israel dalam perang 1967. Mereka menyatakan mereka kembali ke area tertentu untuk mempromosikan kehidupan Yahudi, yang menurut mereka akan akan mempercepat kedatangan Sang Messiah.

Selain dua kelompok diatas, ada kelompok Ketiga, yaitu kelompok-kelompok Yahudi yang memberikan dukungan kepada negara Israel, tetapi tidak melihatnya dari sudut pandang keagamaan. Negara Israel menurut mereka bukanlah tanda akan datangnya Sang Messiah. Namun demikian, mereka sangat keras dalam mendukung Negara Israel. Salah satu tokoh dari “Mainstream religious Zionists”, Rabbi Meimon (1875-1962) menyatakan, “Negara Ibrani harus didirikan dan dijalankan sesuai prinsip Agama Ibrani, yakni Torah Israel. Keyakinan kita sudah jelas: sejauh yang kita, penduduk, memahaminya, agama dan Negara saling membutuhkan satu sama lain.” (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat).

Peran Zionisme dalam Keruntuhan Khilafah

Daulah Ustmaniy sudah lemah pada akhir adab 19. Menurut Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani (1953), pendiri Hizbut Tahrir, dalam kitabnya Ad Daulah Al Islamiyah, kelemahan ini nampak dalam dua hal, yaitu: Pertama, kelemahan umat dalam pemahaman (al fahm) terhadap Islam, dan kedua, kelemahan dalam penerapan (at tathbiq) Islam.

Meski demikian, Zionisme yang bercita-cita membangun Negara Yahudi di atas tanah yang dijanjikan, Jerussalem, tentu tidak mungkin bisa mewujudkan mimpinya kecuali atas ijin atau merampasnya dari Khalifah Ustmaniy waktu itu. Karena tanah yang mereka maksud adalah tanah Palestina yang notabene merupakan tahan dalam kekuasaan Islam. Padahal sebelum Zionisme ada, perlindungan yang telah diberikan oleh Khilafah Ustmaniy kepada orang-orang Yahudi yang diusir dan dibantai oleh kaum Kristen Eropa.

Maka pasca menerbitkan bukunya, Der Judenstaat, Herzl mengunjungi Istambul dan mempresentasikan rencananya untuk membentuk dengan Negara Yahudi di atas tanah Palestina. Bahkan dia menawarkan bantuan finansial untuk melunasi hutang-hutang khilafah Ustmaniy. Tidak hanya itu, Herzl juga meminta bantuan kepada Kaisar Austria Wilhelm II yang dikenal dekat dengan Khalifah, agar merekomendasikan rencana itu untuk disetujui Sultan Abdul Hamid II.

Melalui Newslinsky yang merupakan wartawan dan teman dekat Herzl, Sultan menyampaikan penolakannya secara tegas. Beliau mengatakan, “Saya tidak bias menjual bahkan selangkah dari tanah itu, karena ia bukan milikku tapi milik rakyatku. Rakyatku telah mendirikan kesultanan ini lewat perjuangan dengan darah mereka dan menyuburkan tanah ini dengan darah mereka. Kami juga akan menyelimutinya dengan darah kami sebelum kami membiarkannya dirampas… Kesultanan Turki bukan milikku tapi milik rakyat. Saya tak bias membiarkan bagian manapun daripadanya hilang begitu saja. Orang-orang Yahudi bisa memiliki miliaran uang. Di saat kesultananku terpecah belah, taka da lagi gunanya mereka mendapatkan Palestina.” (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat).

Dalam versi lain, Sultan Abdul Hamid II mengatakan kepada Herzl:

“Sesungguhnya andai kata tubuhku disayat-sayat dengan pisau atau salah satu anggota badanku dipotong maka itu lebih aku sukai dari pada aku perkenankan kalian tinggal di bumi Palestina yang merupakan negara kaum muslimin. Sesungguhnya bumi Palestina telah direbut dengan pengorbanan darah. Dan sekali-kali bumi itu tidak akan dirampas dari mereka melainkan dengan pertumpahan darah. Dan sungguh Allah telah memuliakanku sehingga dapat berkhidmat kepada agama Islam selama tiga puluh tahun. Dan aku tidak akan mencoreng sejarah para leluhurku dengan aib ini”. (Abdullah Azzam, Runtuhnya Khilafah dan Jalan Menegakannya)

Setelah penolakan itu, maka zionisme berusaha menumbangkan sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon ”Liberation”, “Freedom”, dan sebagainya. Ghazwu Al Tsaqafiy (perang budaya) yang sebenarnya sudah jauh hari sebelumnya sudah digulirkan dari dalam Negara oleh musuh-musuh islam semakin meningkat tekanannya. Akhirnya gerakan Zionis di Turki Ustmaniy mencapai sukses yang sangat signifikan, menyusul pencopotan Sultan pada April 1909. Di antara empat perwakilan yang menyerahkan surat pencopotan itu adalah Emmanuel Carasso (Yahudi) dan Aram (Armenia).

Bahkan sejak 1908 praktis penguasa Turki sebenarnya adalah CUP (Committee and Union Progress) –organisasi bentukan Young Turk Movement (Gerakan Turki Muda), gerakan yang berjuang mengakhiri apa yang mereka sebut Abdul Hamid’s Despotism dan mendirikan rezim konstitusional dengan tujuan menyelamatkan Imperium Ustmaniy dari keruntuhan. Mereka lah hingga pendiri Turki Modern, bahkan tida presiden pertama Turki adalah anggota CUP. Jajaran petinggi CUP sendiri di antaranya ditempati oleh Emmanuel Carasso dan Moise Cohen Tekinalp, yang merupakan tokoh Yahudi. Orang Yahudi pun banyak yang menjadi anggota parlemen Turki melalui CUP antara tahun 1908 – 1918. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat)

Penutup: Islam, Yahudi, dan Zionisme

Sungguh, sejarah panjang Yahudi dan Zionisme telah memperlihatkan kepada kita bagaimana kita harus memperlakukan mereka kelak ketika Khilafah yang kedu tegak kembali, Insya Allah. Bahwa, sebagai Negara berideologi Islam, yang hanya menjadikan Islam dan Syariahnya sebagai aturan, maka zionisme tidak boleh dibiarkan ada dalam wilayah Khilafah. Negara Yahudi, ide Zionisme dan para pengusungnya harus ditiadakan, sebagaimana juga perlakuan Islam kepada ideology Kapitalisme dan Sosialisme, serta ide-ide kufur lainnya.

Adapun untuk Yahudi sebagai agama, maka kita memperlakukan mereka sebagaimana rasul memperlakukan orang Yahudi di Madinah. Harta dan Nyawa mereka harus dijaga selama mereka mau tunduk sebagai Ahlu Dzimmah kepada Daulah Islam. Namun jika melakukan pengkhianatan, maka dengan tanpa rasa segan, mereka harus diusir dari wilayah Khilafah. Bahkan pada kondisi tertentu, mereka harus dibunuh, kecuali wanita dan anak-anak. Sudah menjadi tabiat Yahudi untuk menyesatkan ummat islam, baik langsung ataupun tidak.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah: 120)
Shadaqa Allah al ‘Adziim, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Allahu ta'ala a'lam.[selesai]

Kritik dan Saran: 0856-5113-0608
Email: tohir1924@yahoo.co.id
WA: 0896-1198-8349
Pin BBM: 73D860E4

Mengenal Yahudi dan Zionisme, Serta Perannya dalam Meruntuhkan Khilafah [Bagian 1]


Oleh Muhammad Tohir

Pengantar

Keruntuhan Khilafah Islamiyah pada tahun 1342 H (1924 M) tidak hanya menjadi musibah terbesar bagi umat Islam. peristiwa itu juga menyebabkan perubahan besar pada tata politik internasional.  Sejak saat itu, kaum Muslim praktis tidak lagi memiliki pengaruh pada relasi politik internasional.   Bahkan  pada level tertentu, umat Islam hanya menjadi obyek permainan dan persekongkolan busuk negara-negara imperialis Barat. Harta mereka dijarah. Kehormatan mereka dilecehkan. Darah mereka ditumpahkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim tanpa ada perlawanan berarti. 

Diantara sekian banyak problem yang dihadapi kaum muslimin hingga saat ini adalah persoalan Palestina dan Israel. Sebagaimana telah diketahui, Israel adalah Der Judenstaat (Jewish State, Negara Yahudi), yang terbentuk atas “perjuangan” orang-orang Yahudi dalam organisasi Zionisme. Namun pertanyaannya, apa sebenarnya Zionisme itu? Benarkah Zionisme merupakan ajaran dalam agama Yahudi? Bagaimana Islam menyikapi Yahudi dan Zionisme? Semoga makalah ini bias menjawabnya!

Yahudi dan Sejarahnya

Yahudi, -juga kristen dan Islam—  biasa disebut agama-agama Ibrahimi (Abrahamic Religions), karena pokok-pokok ajarannya bernenek moyang kepada ajaran nabi Ibrahim (sekitar abad 18 SM), yaitu agama yang menekankan keselamatan melalui iman, menekankan keterkaitan atau konsekuensi langsung antara iman dan perbuatan nyata manusia. (Wikipedia, diakses 11/05/2014)

Nabi Ibrahim mendapatkan putra Isma’il As dari isteri keduanya Hajar, yang kemudian dibawa oleh Ibrahim ke Mekah. Sementara dari Sarah –isteri pertama—, Ibrahim mendapatkan Ishaq pada usianya yang menginjak 100 tahun setelah 14 tahun kelahiran Ismail. Kemudian Ishaq menikah dengan Rifqo binti Batwail di usia 40 tahun dan Ibrahim pada saat itu masih hidup. Dari Batwail ini, beliau mendapatkan anak kembar yang bernama ‘Aishu dan Ya’qub.

Allah memberikan kepada Ya’qub 12 orang anak, yaitu: Ruwaibil, Syam’un, Luwa, Yahudza, Isakhar, Zailun, Yusuf, Benyamin, Dan, Naftli, Had dan Asyir. (Eramuslim, diakses 12/05/2014). Dari garis keturunan Yahuda (Yahudza) bin Ya`qub inilah Yahudi itu dinisbatkan, dari garis ini pula lahir Dawud as. dan Sulaiman as. yang merupakan simbol kebesaran bangsa Yahudi sepanjang masa. (Asep Sobari, Sejarah Yahudi di Madinah).
·          

  • Yahudi dan Bani Isra’il

Isra’il adalah nama lain dari Nabi Ya’qub bin Ishaq As. Keturunan beliau inilah cikal bakal bangsa yang sering diceritakan dalam Al Qur’an, Bani Isra’il. Antara Bani Isra’il dan Yahudi itu sangat berbeda. Bani Israil itu bangsa keturunan Ya’qub, sedangkan Yahudi adalah agama. Yahudi ada setelah diutusnya Nabi Musa As, sedangkan Bani Ya’qub As ada sejak masa sebelumnya. Bani Israil adalah bangsa yang banyak diutus Nabi dan Rasul kepada mereka. Hadits nabi mengatakan:

“Dahulu Bani Israil diurus oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi telah wafat, maka digantikan oleh Nabi yang lain. Bahwa, tidak akan ada seorang Nabi pun setelahku, dan akan ada para khalifah. Jumlah mereka pun banyak.” (HR Bukhari)

Selain itu, nama Bani Israil digunakan hanya sampai diutusnya Nabi Muhammad. Al-Quran menyebut Yahudi kepada Bani Israil setelah diutusnya Nabi Muhammad dan setelah mereka kufur dan mengingkari kenabian beliau. Nama Yahudi disebutkan dalam ayat-ayat madani (yang turun setelah hijrah ke Madinah), diantaranya di surat Ali Imran ayat 67-68, Surah Al-Baqarah ayat 146,  dan di Surah At Taubah ayat 30, dan semuanya dengan konteks celaan atas mereka dan bukan pujian. (http://www.islampos.com, diakses 12/05/2014)

Beralihnya peristilahan Al-Quran dari Bani Israil kepada Yahudi ini memberikan kesimpulan bahwa kita harus membedakan antara Yahudi dan Bani Israel. Meski mereka mungkin masih ada keturunan Nabi Israil, namun mereka bukan pewarisnya karena mereka tidak mengikuti agama beliau.

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” (QS. Ali Imran: 84)

Menurut Ibn Hajar al-Asqalani (w.852H), diriwayatkan dari Ibn Zhafr, bahwa ayat 84 turun berkaitan dengan yahudi dan nashrani yang mengaku beriman. Berdasar ayat 84 yang termasuk beriman adalah yang benar-benar mengimani Allah dan kitabnya secara keseluruhan, seluruh rasul yang diutus tanpa membedakan satu sama lain. (Al-Asqalani, al-’Ijab Fi Bayan al-Asbab, II h.707). (http://saifuddinasm.com, diakses 12/05/2014)

  • ·         Yahudi di Masa Rasulullah SAW

Hubungan dakwah Rasulullah saw. dengan Yahudi Madinah terjalin sejak dini. Riwayat. Bukhari dan Ibn Ishaq mengisyaratkan kedatangan Abdullah bin Salam, seorang ulama Yahudi Bani Qainuqa`, dan keputusannya memeluk Islam terjadi hanya beberapa saat setelah beliau menetap di Madinah. Peristiwa ini pula yang memicu undangan Rasulullah saw. kepada masyarakat Yahudi untuk mengajak mereka memeluk Islam dan menjadikan Abdullah bin Salam sebagai bukti pembenarannya. (al Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah)
Pasca nabi Hijrah ke Madinah, dan menerima kekuasaan dari dua suka paling dominan –Aus dan Khazraj—, maka Negara harus mengatur hubungan kaum muslimin dan selain mereka. Hal ini dikarenakan latar belakang masyarakat Madinah yang sangat majemuk, terdiri dari beberapa etnik Arab dan Yahudi mendesak adanya peraturan umum yang mengatur kehidupan bersama dengan baik. Disinilah letak pentingnya Piagam Madinah yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan kaedah dan prinsip Islam. Hal ini juga membuktikan, ajaran Islam dapat mengatur kepentingan bersama masyarakat muslim dan non muslim, tanpa harus menghilangkan karakter khas masingmasing,terutama agama.

Al Mubarakhfuri merangkum beberapa bagian pasal Piagam Madinah yang mengatur hubungan masyarakat Muslim dengan Yahudi seperti berikut:

  1. Yahudi Bani `Auf merupakan satu komunitas bersama masyarakat Mu’min.  Orang-orang Yahudi berhak menjalankan agama mereka dan orangorang muslim berhak menjalankan agama mereka…begitu juga klanklan Yahudi lainnya diluar Bani `Auf. 
  2. Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya hidupnya sendiri dan orangorang muslim juga harus menanggung biaya hidupnya sendiri. 
  3. Masyarakat Yahudi dan Muslim harus saling bahu membahu melawan musuh yang menyerang pihak yang menandatangani Piagam ini. 
  4. Mereka juga harus saling memberi saran dan nasihat dalam kebaikan, tapi tidak demikian dalam kejahatan. 
  5. Siapa pun yang dizalami maka wajib ditolong. 
  6. Masyarakat Yahudi dan Mu’min harus bersatu padu ketika diserang musuh. 
  7. Jika terjadi perselisihan atau pertikaian antara pihakpihak yang menyepakati Piagam ini, sehingga khawatir akan merusak hubungan, maka keputusannya harus dikembalikan kepada hukum Allah `azza wa jalla dan Muhammad, utusan Allah saw. 
  8. Siapa pun tidak boleh memberi suaka (perlindungan) kepada Quraisy dan Pendukungnya. (Al Mubarakhfuri)

Sayangnya, Orang-orang Yahudi di Madinah malah berkhianat, bahkan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW. Pengkhianatan pertama Yahudi dilakukan oleh Klan Qainuqa’. Pada mulanya mereka hanya melakukan perlawan verbal, maka nabi hanya melihatnya sebagai indicator pengkhiatan, namun setelah terjadi kasus pelecehan wanita muslim di pasar Bani Qainuqa` yang disusul dengan pembunuhan lelaki muslim yang membelanya, Rasulullah saw. mengepung Bani Qainuqa` lalu mengusir mereka dari Madinah.

Kemudian pengkhianatan dilakukan oleh Bani Nadhir, klan yang paling kuat saat itu. Diawali dengan memberi perlindungan kepada Abu Sufyan saat melakukan oprasi militer (Perang Sawiq) ke Madinah.  Pelanggaran terhadap salah satu pasal Piagam Madinah tersebut disusul dengan pelanggaran lain. Bani Nadhir tidak bersedia menanggung biaya diyat (denda pembunuhan) yang seharusnya dipikul bersama. Bahkan lebih jauh lagi, mereka menyusun rencana pembunuhan Nabi saw. Rencana busuk itupun terbongkar, sehingga Rasulullah saw. segera mengumumkan ultimatum pengusiran Bani Nadhir dari Madinah. Akhirnya mereka meninggalkan Madinah setelah dikepung selama 15 hari.

Bani Quraizhah dalam perang Ahzab. Mereka menjadi pendukung logistic bagi kafir Quraisy, dan menggerogoti Madinah dari dalam. Akhirnya setelah berhasil keluar sebagai pemenang dalam perang Ahzab, Rasulullah saw. menghukum Bani Quraizhah sebagai pengkhianat perang, semua laki-laki yang terlibat perang dipancung, anak-anak dan wanita ditawan, dan harta benda mereka dirampas

Tersisa satu kekuatan Yahudi, yakni Kampung Khaibar. Maka, setelah nabi melakukan gencatan senjata dengan kafir Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah, maka Rasulullah saw. langsung melancarkan serangan  besar-besaran ke Khaibar dan menang. Masyarakat Yahudi Khaibar yang kebanyakannya petani tidak diusir dari daerah tersebut, melainkan diizinkan tinggal untuk mengelola kebun-kebun Khaibar dan berbagi hasil dengan para pemilik barunya, kaum muslimin. (Asep Sobari, Jejak Yahudi di Madinah).

  • ·         Yahudi di Barat pada Masa Pertengahan

Sejak lama di berbagai negara Eropa, bangsa Yahudi mengalami diskriminasi. Penolakan mereka untuk beralih menjadi Kristen menyebabkan mereka dipencilkan dan tidak diterima sebagai warganegara. Mereka dipandang sebagai bangsa ingkar yang sudah dibuang Tuhan, dan dicerca sebagai pembunuh Yesus. Penolakan mereka untuk memuliakan raja menyebabkan patriotisme mereka diragukan. Sedangkan Eropa, hampir separuhnya menganut sistem monarki. Tidak heran kalau mereka dilarang memiliki tanah dan banyak pekerjaan tertutup bagi mereka.

Di abad pertengahan, orang Yahudi hanya boleh tinggal di bagian-bagian khusus kota yang disebut ghetto, perkampungan yang dikelilingi tembok dan gerbangnya dikunci pada malam hari. Penghuni ghetto dilarang keluar pada hari-hari tertentu, misalnya pada hari wafat Isa Almasih.

Kebencian yang tertanam ini sewaktu-waktu meledak menjadi kerusuhan luas berupa penjarahan dan pembantaian. Pada masa Perang Salib pertama tahun 1096, bangsa Yahudi mengalami pembantaian besar-besaran di Lembah Rhein. Pada akhir abad ke-13 orang Yahudi diusir secara besar-besaran dari Inggris,dan pada akhir abad ke-14 dari Prancis. Tahun 1492 pengusiran terbesar terjadi di Spanyol. Kepada orang Yahudi diberi dua pilihan, beralih memeluk agama Kristen atau angkat kaki. Hampir 150 ribu orang meninggalkan Spanyol, pindah ke negara-negara Islam di sekitar Laut Tengah. Yang tinggal mengalami penindasan karena ternyata hanya berpura-pura memeluk agama Kristen. Banyak diantara mereka yang dihukum bakar.

Rentetan sejarah penindasan bahkan genosida terhadap Yahudi eropa ini konon menyebabkan jutaan orang Yahudi meregang nyawa, terutama saat Hitler dan Nazi berkuasa di beberapa wilayah pendudukan. Pembunuhan massal, secara sistemik dilakukan kepada orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi dan kerja paksa. Sejarah ini dikenal dengan istilah Holacoust (Genocide; pemusnahan suatu kelompok bangsa secara teratur). Bahkan Stephane Downing memperkirakan jumlah kematian orang Yahudi dalam rentetan peristiwa Holacoust mencapai 6 juta orang. (Stephane Downing, Holacoust: Fakta atau Fiksi?). Tentu saja, bukan berarti data-data pembunuhan seputar Holacoust yang diungkap ini tanpa perdebatan. [baca bagian kedua di sini]

10 Mei 2014

Pisau itu Mubah, Demokrasi itu Kufur

Pisau Itu Mubah, Demokrasi itu Kufur
Oleh Muhammad Tohir
Semua orang pasti bisa memahami kalimat Judul di atas bahwa yang namanya pisau memiliki potensi (khasiat) untuk memotong, menusuk, dan mencincang apapun dan oleh siapapun. Dia bersifat netral, tidak buruk, tidak baik, tidak benar, dan tidak juga salah. Sifat buruk, baik, benar dan salah bisa diketahui setelah ada perbuatan yang dilakukan oleh penggunanya, dan itu pun bukan pisau itu sendiri, melainkan perbuatan tersebut. Bahkan ada beberapa perbuatan yang tidak bisa dihukumi secara langsung, kecuali setelah melihat konteks dan motivnya.
Pun dengan benda-benda lain, semua bebas nilai, -kecuali yang sudah diharamkan oleh Allah, tentu saja-. Begitu pula dengan potensi kehidupan manusia, baik berupa gharaa-iz (naluri-naluri) maupun hajatu al Uduwiyah (kebutuhan jasmani), tidaklah buruk, tidak juga baik, semuanya bersifat netral, hingga manusia melakukan perbuatan sebagai usaha memenuhi semuanya. Di sinilah dosa-pahala diberikan. Silahkan rujuk buku Nidzam Al Islam, khususnya Bab Hadharah - Madaniyah, serta Bab Qadha' dan Qadar, serta buku Islam Politik dan Spritual untuk mendapatkan penjelasan lebih luas.
Lalu, bagaimana jika ada orang yang menganalogikan Pisau dan Demokrasi untuk membantah pihak yang mengkufurkan demokrasi? Bagi saya orang itu masih kebingungan membedakan antara keduanya, atau sengaja pura-pura bingung agar bisa "menikmati" demokrasi?! Allahu ta'ala a'lam.
1. Kita semua mafhum, pisau itu benda, sedangkan Demokrasi itu Ide. Yang namanya benda itu terindra dan bersifat fisik. Hukumnya cuma ada dua saja, Haram dan Halal (Mubah). Sedang Ide itu ada dalam kepala, menjadi landasan berfikir (pemikiran cabang), bersikap, bertindak, termasuk dalam menggunakan benda-benda. Ide bagi seorang muslim juga cuma ada dua status, kalo tidak Islami (syar'i) berarti kufur (tidak sesuai dengan ajaran Islam).
Semua benda yang mubah, maka mubah pula untuk dimanfaatkan, kecuali untuk perbuatan yang haram. Sedangkan semua ide yang bertentangan aqidah islam, maka tidak boleh sedikitpun diadopsi, haram!
2. Pendapat ini bukan lah asumsi dari sisi negatif, melainkan inilah realitas keduanya. Kalo soal pisau, jelas kita gak perlu dalil, karena memang tidak ada dalil yang mengharamkannya. Kecuali, misal, pisaunya terbuat dari benda najis, maka ini sudah beda cerita.
Sedangkan demokrasi, bisa dilihat dari aktivitas intinya, menetapkan hukum, memusyawarahkan semua hal, memberikan kebebasan dan yang pasti bukan hukum Islam yang diterapkan, paling banter hasilnya adalah hukum yang "mirip" (?) hukum islam, itupun wajib atas persetujuan (wakil) rakyat. Karena itulah, demokrasi punya slogan syirik, "suara rakyat, suara tuhan". Meski Tuhan bilang sesuatu haram, tapi kalo rakyat bilang sesuatu itu boleh, akhirnya tuhanpun harus mengalah. Tidak salah kalau Ust. Bachtiar Nasir mengatakan Demokrasi sebagai Sistem Syirik. Na'udzubillah!
3. Haramnya pengadopsian, penerapan, dan penyebaran Demokrasi bukan didasarkan kepada fakta yang menimpa kepada beberapa gerakan dan partai, melainkan berdasarkan dalil-dalil yang rinci. Dalil rinci ini bisa dirujuk secara lengkap dalam kutaib Demokrasi Sistem Kufur karya Syaikh Abddul Qadim Zallum -rahimahullah-. Jadi, gagal paham namanya kalau mengira alasan pengharaman pelaksanaan demokrasi adalah kudeta Mursi di Mesir, Pembubaran FIS di Aljazair, dsb.
Penyebutan peristiwa di Mesir, dan beberapa negara itu, hanya untuk menunjukan bahwa, selain demokrasi itu kufur, demokrasi juga bukan jalan dalam memperjuangkan sistem Islam. Demokrasi hanya jebakan saja agar orang islam tunduk kepada sistem kufur itu, karena kalau tidak fakta yang kita sebut itulah yang akan terjadi. Meminjam perkataan Ust. Budi Anshari, Lc, tidak mungkin mewujudkan sistem Islam memalui jalan sistem yahudi (demokrasi).
4. Ini sebagai tambahan saja. Gerakan yang berhasil itu bukan semata-mata dilihat dari "menghadirkan masalah dan/atau menjauhkan mudharat dari ummat". Keberhasilan hakiki adalah ketika gerakan itu berdiri diatas aqidah, mempertimbangkan segala sesuatu diatas syari'ah (nash) bukan akal-akalan syariah berbalut "manfaat", lantang menyuarakan penetangan kepada setiap sistem jahiliyah, serta tegas menjadi furqan, yang membedakan antara haq dan bathil. Tapi kalo ngomong syariah aja gak berani, bahkan banyak melanggar syariah dengan alasan maslahat, gak jelas sikapnya terhadap sistem kufur, malah ber-musyarakah (politik) dengan orang kafir, meski telah (merasa) "memberi manfaat" maka bagi saya gerakan itu telah gagal dari awal.
11/05/2014

14 April 2014

[Video] Ust. Bachtiar Nasir: Syirik Dalam Hukum Bisa Membuat Orang Kafir

Di tengah hiruk pikuk kampanye Pemilu, beberapa waktu yang lalu saya menemukan teman-teman di facebook membagikan sebuah tautan video yang kontennya sebagaimana judul posting kali ini. Ya, video tersebut adalah kajian dari Ust. Bachtiar Nasir di salah satu telivisi swastaa dengan tema Fenomena Kesyirikan. Yang membuat kajian ini lebih menarik di bandingkan dengan kajian-kajian sejenis adalah beliau berani bicara dengan lantang dan tegas berkaitan dengan sistem bernegara yang saat ini diadopsi banyak negara, apalagi kalau bukan sistem demokrasi. 

Dalam video tersebut, Ust. Bachtiar Nasir memulai pembicaraan dengan mengungkapkan definisi, yang dilanjutkan dengan pembagiannya, yakni syirik besar dan kecil. Hingga sampai pada pembahasan syirik dalam masalah hukum. Yang intinya, beliau mengatakan bahwa berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah bisa mengakibatkan manusia menjadi Kaafir, keluar dari Agama Islam. Sebagai hujjah beliau membacakan ayat ke 45 dari surah Al Maidah yang artinya, "Barang siapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Allah SWT, maka mereka itulah orang-orang kafir". 

Hanya saja memang beliau memberi rincian bahwa tidak semua yang berhukum kepada selain hukum Allah kafir secara mutlak. Yang dikategorikan sebagai kafir adalah mereka yang berhukum dengan hukum selalin hukum Allah dan disertai keyakinan bahwa hukum selain hukum Allah itu lebih baik dari hukum Allah, atau beranggapan hukum Allah tidak relevan untuk diterapkan. Adapun jika berhukum dengan hukum selain hukum Allah hanya sebatas terpaksa saja, dan di dalam hati tetap mengimani  bahwa hukum Allah lah yang terbaik, maka bagi orang yang demikian tidak lah keluar dari Islam melainkan hanya dianggap bermaksiat kepada Allah, dan dibebani dosa sesuai kadar maksiatnya.

Selanjutnya sang Ustadz dengan berani menyinggung soal demokrasi. Belia bercerita, ketika ada orang yang bertanya seputar cara mengubah sistem yang yang tidak islami ini menjadi sistem Islam, dari hukum jahiliyah menjadi hukum islam, dan mengatakan bahwa tidak mungkin merubah sistem sekarang jika tidak masuk ke dalamnya, maka Ustadz Bachtiar Nasir menganggap ungkapan itu sebagai Mantra. Ya, Mantra. Lebih lengkapnya beliau mengatakan itu sebagai Mantra Syirik. 

Sebagai argumen beliau menjelaskan bahwa nabi dapat merubah keimanan, akhlak, dan sistem kehidupan orang-orang jahiliyah waktu itu tidak dengan masuk ke dalam sistem, melainkan berada di luar sistem. Dengan dakwah lah orang-orang kafir Quraisy itu menerima Islam hingga bisa mendominasi dan mengeliminasi sistem jahiliyyah yang merupakan sistem warisan leluhur bangsa arab. 

***
Saya (penulis) merasa sangat bahagia ketika mendengar penjelasan ini, karena ditengah banyaknya Ulama yang diam terhadap kemungkaran dan kebathilan demokrasi ternyata masih ada yang ikhlas memberikan bayan kepada masyarakat hakikat dan bahaya dari sistem demokrasi. Lebih-lebih lagi beliau menjabarkannya di saluran TV yang notabene menginginkan Islam sebatas ibadah mahdhoh dan moral saja. Sekjen MIUMI ini tidak takut dirinya akan di black list dari daftar pengisi acara, karena dikategorikan dalam Islam garis keras. Subhanallah!

Semoga Allah terus memberikan hidayahnya melalui ulama-ulama yang ikhlas, yang berani mengatakan bahwa yang haq itu adalah haq dan bathil adalah bathil. Sehingga kesadaran ummat terus terbangun, kebencian terhadap sistem kufur demokrasi terus terkristal, dan menyadari solusi dari permasalahan yang mereka hadapi hanyalah Syariah Islam semata. 

***
Berikut video yang dimaksud:

Bagian I





Bagian II





Bagian III

 

Followers

Direkomendasikan Facebooker

Lalu Lintas Netter