08 Oktober 2018

Tafsir An Nahl Ayat 18 Menurut Ibnu Katsir

Dalam surat An Nahl ayat 18, Allah SWT berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوها إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

"Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu melakukannya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

 أَيْ يَتَجَاوَزُ عَنْكُمْ، وَلَوْ طَالَبَكُمْ بِشُكْرِ جَمِيعِ نِعَمِهِ لَعَجَزْتُمْ عَنِ الْقِيَامِ بِذَلِكَ، وَلَوْ أَمَرَكُمْ بِهِ لَضَعُفْتُمْ وَتَرَكْتُمْ، وَلَوْ عَذَّبَكُمْ لَعَذَّبَكُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ، يَغْفِرُ الْكَثِيرَ وَيُجَازِي عَلَى الْيَسِيرِ، وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ «1» : يَقُولُ إن الله لغفور لِمَا كَانَ مِنْكُمْ مِنْ تَقْصِيرٍ فِي شُكْرِ بَعْضِ ذَلِكَ إِذَا تُبْتُمْ وَأَنَبْتُمْ إِلَى طَاعَتِهِ واتباع مرضاته، رحيم بكم لا يعذبكم بعد الإنابة والتوبة.

“Allah mengampuni kalian. Kalau lah Allah meminta kalian untuk mensyukuri segala nikmat darinya niscaya kalian akan gagal untuk melakukannya. Kalau Allah memerintahkan untuk mensyukuri segala nikmat-Nya niscaya kalian akan dibuat lelah karenanya dan akhirnya kalian berhenti melakukannya, kalau Allah ingin mengadzab kalian pastilah kalian sudah ditimpa adzab, dan Allah tidak lah berlaku Dzalim kepada kalian, Akan tetapi Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ia mengampuni yang banyak (dosa), dan membalas yang sedikit (kebaikan). Berkata Ibnu Jarir Ath-Thabari, ‘Sesungguhnya Allah pasti mengampuni segala yang ada pada diri kalian, yakni kelalaian kalian dalam bersyukur atas nikmat Allah jika kalian bertaubat dan kembali untuk taat kepadanya dan mencari ridho-Nya. Semoga rahmat Allah untuk kalian, Allah tidak akan mengadzab kalian setelah penyesalan dan taubat kalian’,”. (Maktabah Syamilah v.3)

18 Februari 2017

Jika Pengemban Dakwah Diledek

Saya sebagai salah satu orang yang tergabung dalam Partai Politik Internasional Hizbut Tahrir aka HTI di Indonesia pernah diledek. Gak cuma saya, teman-teman juga mungkin pernah. Bukan hanya syabab Hizbut Tahrir, siapapun mungkin pernah diledek. Tapi diledek disini bukan karena fisik atau harta, tapi karena dakwah. Misalnya saja, beberapa hari yang lalu, di facebook saya baca ada komentar yang menyudutkan seorang pengemban dakwah. Si peledek menulis yang kurang lebih, “Nahwu aja gak ngerti sok ngomongin Khilafah”, di temapat lain “baru tahu islam”, di lain waktu, “ngaji aja belepotan”, dan yang semisal dengan itu. Intinya, yang diledek adalah kita sebagai person, bukan pada ide atau pemikiran yang kita emban. Pengalaman saya sendiri, saya pernah diledek karena tidak bisa bahasa arab. Itu terjadi empat tahu yang lalu. Juga terjadi di facebook. Kenapa marak di medsos? karena di medsos, orang gak bertemu langsung, bahkan gak tahu wajah asli masing-masing, jadi rada berani. Karena kalo tatap muka, mungkin akan sungkan karena bisa melihat bagaimana wajah saat berubah ekspresi.
Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan kalau kita diledek atau direndahkan seperti itu? Bagi saya pribadi, sekaligus saran bagi teman-teman sekalian, berikut yang bisa dilakukan.
1. Pahami, bahwa yang meledek kita itu sudah kalah secara intelektual. Kenapa? karena mereka tidak membantah ide kita, melainkan menyerang kita. Hal semacam ini termasuk dalam “cacat logika” atau logical fallacy. Menyerang person itu disebut argumentum ad hominem. So, kalau teman-teman diledek karena “suatu kelemahan” yang ada pada diri, maka banggalah. Apalagi dalam konteks dakwah. Serangan yang lakukan kepada kita menunjukan mereka tidak bisa membantah argumen atau ide yang kita sampaikan.
2. Apa yang disampaikan oleh peledek itu, tidak lain karena ia malas atau enggan berdiri di posisi kita. Logikanya, jika mereka yang meledek itu bagus bacaan Qur’annya, atau hebat bahasa arabnya, lantas kenapa mereka gak mendakwahkan apa yang kita sampaikan? Aneh kan?! Kanyataannya juga, tidak semua yang bagus bahasa arab atau ngajinya mau dakwah. Bahkan banya juga yang malah menghalangi dakwah.
3. Jika, ingat ya jika, apa yang mereka ucapkan kepada kita itu benar, maka kita terima saja itu sebagai sebuah nasihat sekaligus renungan. Kita jadikan ledekan itu sebagai motivasi untuk kita menjadi lebih baik. Kalo memang kita tidak bisa bahasa arab, maka kita harus belajar bahasa arab. Begitu juga, jika memang kita masih kesulitan membaca al Qur’an atau belum pas hukum dan sifat hurufnya maka segeralah untuk belajar al Qur’an. Jangan malu. Malulah kalau kita malas menuntut ilmu.
3. Belajarnya kita dalam ilmu nahwu, tajwid, fiqih dan lainnya tidak boleh membuat kita berhenti dalam dakwah. Jangan sampai kita malah terlena dalam menuntut ilmu dan melupan dakwah, khususnya dakwah ideologis. Tak perlu nunggu hebat dan pintar untuk dakwah. Sampaikan saja apa yang kita tahu, berikan argumen yang masuk akal. Karena hidayah itu bisa diterima oleh dan dari siapa saja. Kisah Al Ustadz Mahmudi Syukri –hafidzahullah- sebagai contoh bahwa perbedaan dari sisi keilmuan tak harus membuat kita berhenti dakwah. Beliau adalah alumni Tarim – Hadramaut, Yaman. 5 tahun di sana. Nyanti bertahun-tahun sebelum ke negeri habaib itu. Belajar bahasa arab, fiqih dan ushulnya. Bahkan beliau menulis dalam bidang ini. Namun, sebagaimana penuturan beliau, beliau malah menemukan pencerahan dari seorang mahasiswa yang belum selesai kuliahnya dan hanya penjaga maktab. Ini menunjukan, jika yang disampaikan itu haq, maka derajat keilmuan seharusnya tak membuat yang haq itu harus ditolak dan yang membawanya boleh dihinakan.

Teman-teman, sebelum diakhir tulisan ini, saya ingin berwasiat khususnya kepada diri saya pribadi. Belajarlah fiqih, nahwu, sharaf, tafsir, hadits, tajwid, dan sebagainya sebagai pemenuhan kita terhadap perintah nabi untuk menuntut ilmu. Manfaatkan semua sarana dan kesempatan. Jangan mencukupkan diri dengan apa yang sudah ada. Giatlah belajar, dengan catatan tanpa harus meninggalkan dakwah. Karena dakwah juga kewajiban. Allahu ta’ala a’lam. [Muhammad Tohir]

14 September 2016

Download MP3 Kajian Hadits Masjid Unpad Bandung (On Going)

Bismillah...
Langsung saja, yang ingin donwload rekaman kajian Hadits di Masjid Unpad Bandung. Kajian ini dilaksanakan setiap malam Rabu, dari ba'da maghrib hingga setengah sepuluh malam. Dibagi menjadi dua sesi, kajian ini dihadirkan oleh panitia untuk pemula, seperti saya. Sesi pertama adalah Syarah Al Manzhumah Al Baiquniyah oleh Al Ustadz Yuana Ryan Tresna -hafidzahullah-, mahasiswa Doktoral bidang Penelitian Balaghah pada Hadits-Hadits Qudsi. Beliay juga merupakan murid dari Al Ustadz DR. Ahmad Luthfi Fathullah, MA -hafidzahullah-, seorang pakar Hadits asli Indonesia. 
Sesi kedua adalah pembacaan Hadits Jami' Al Kabir (Sunan Tirmidzi) oleh Al Ustadz Fadhil Al Makkiy, Lc -hafidzahullah-, beliau adalah alumni Madrasah Shaulatiyah Makkah. Perlu diketahui Al Ustadz Fadhil Al Makkiy -hafidzahullah- adalah pemegang sanad beberapa kitab, termasuk sunan Tirmidzi. Oleh karena itu, pembacaan hadits ini juga sekaligus pemberian ijazah sanad kepada para thullab yang mengikuti kajian hingga selesai dibaca seluruh hadits dalam Sunan Tirmidzi. 
Kajian hadits ini baru berjalan 2 pertemua, dan insya Allah akan terus diupdate.
Saya mohon maaf jika kualitas suara kurang baik. Saya juga mohon maaf, jika ada bagian-bagian yang tidak sempat direkam.
Untuk mendownload semua file sekaligus, silahkan klik kanan atas box list file.
Untuk mendownload file satu-persatu, silahkan klik tombol panah kecil disamping kan setiap file yang ingin didownload.
Semoga bermanfaat!


08 Desember 2015

“PEPESAN KOSONG" UTBAH BIN RABIAH

Bismillahirrahmanirrahim. Beberapa hari terakhir ramai orang bicara tentang “pepesan kosong”. Pemicunya adalah sebuah situs yang menanggapi terbitnya buletin Al-Islam yang berjudul “Pepesan Kosong Peilkada Serentak”. Sayangnya, tulisan Al-Islam yang dipenuhi data dan fakta itu dibantah dengan curhatan ala ABG labil. Lucunya lagi, banyak juga yang mendukung tulisan “ABG” ini. Kebanyakan yang mendukung dan membenarkan adalah mereka yang tersinggung dengan isi Al-Islam, karena mereka adalah orang yang (katanya) berjuang di dalam kubangan demokrasi.

Nah, ditengah serunya masalah itu, berikut saya copaskan tuisan Al Akh Padli Marji yang menurut saya bagus untuk dibaca dan direnungkan. Khususnya bagi yang berdalih dengan “Memberi Manfaat”.

***awal kutipan***

"PEPESAN KOSONG" UTBAH BIN RABIAH YANG MENAWARKAN NABI SAW KEKUSAAN ASALKAN NABI SAW MENINGGALKAN DAKWAH...

Oleh Padli Marji

Utbah bin Rabi’ah adalah seorang pemuka dikaumnya. Pada suatu hari ia pernah duduk – duduk di majelis Quraisy. Sementara Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pada saat itu sedang duduk di majelis sendirian.

Kemudian Utbah berkata : “Wahai kaum Quraisy, tidakkah kalian izinkan aku untuk menemui Muhammad dan mengajaknya berbicara, lalu aku tawarkan kepadanya beberapa hal, barangkali saja ia mau menerima sebagian nya, lalu kita berikan apa yang di inginkan dan maka dengan demikian kita pun dapat tenang dari ulahnya?”

Mereka berkata : “ Ya tentu saja, Wahai Abu Walid, temuilah ia dan ajaklah ia berbicara.”

Kemudian Utbah pergi menemuinya, lalu berkata : “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau adalah bagian dari kami yang engkau telah ketahui sendiri kedudukan mu didalam nasab dan sesungguhnya engkau telah mendatangi kaum mu dengan membawa sebuah berita yang besar maka engkau memecah belah kesatuan mereka dan menganggap bodoh impian mereka, engkau cela dengan nya agama dan tuhan – tuhan mereka, engkau kafirkan dengan nya orang – orang terdahulu dan ayah – ayah mereka, maka dengarkanlah aku karena aku akan menawarkan kepadamu beberapa hal, yang barangkali nantinya bisa menjadi bahan pertimbangan mu, dan semoga saja engkau akan menerima beberapa darinya, lantas Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Katakanlah wahai Abu Walid, aku akan mendengarnya.”

Utbah berkata : “ Wahai anak saudaraku, jika yang engkau inginkan dari ini semua adalah harta maka kami akan mengumpulkan nya untuk mu dari harta – harta kami hingga engkau menjadi orang yang paling kaya diantara kami, dan jika engkau menginginkan dengan nya kemuliaan, maka kami akan memuliakanmu hingga kami tidak memulaikan siapapun selain engkau, dan jika engkau inginkan adalah kekuasaan, maka kami akan membuat mu menjadi berkuasa atas kami, atau jika hal yang engkau bawa ini adalah hanya pendapatmu saja dan engkau tidak mampu menghalaunya dari dirimu, maka kami akan memanggilkanmu seorang dokter yang kami akan kerahkan harta kami untuknya hingga engkau sembuh darinya karena terkadang seseorang itu terkalahkan dengan bawaan tabiat nya hingga ia berobat darinya…”

Tatkala Utbah selesai dari perkataan nya, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengarkan nya dengan baik, lantas beliau berkata : “Apakah engkau telah selesai wahai Abul Walid?”

Ia menjawab : “Ya” Lalu beliau berkata : “Maka sekarang dengarkanlah aku.” Ia berkata “Ya, aku mendengarkan.” Lantas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

( 1 ) حم

( 2 ) تَنزِيلٌ مِّنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

( 3 ) كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

( 4 ) بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

( 5 ) وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِن بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ

( 1 ) Haa Miim.

( 2 ) Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

( 3 ) Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,

( 4 ) yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.

( 5 ) Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)". [Al-Qur’an Surat Fushilat ayat 1- 5]

Kemudian beliau meneruskan bacaan nya dan ketika Utbah mendengarnya ia terdiam hingga Rauslullah sampai pada ayat sajadah lalu beliaupun sujud, kemudian berkata : “Sungguh engkau telah mendengarnya wahai Abu Walid apa yang seharusnya engkau dengar.”

Lalu Utbah pergi menuju kepada sahabat – sahabatnya maka merekapun saling berkata kata : “Kami bersumpah, dami Allah telah datang kepada kalian Abul Walid dengan wajah yang tidak sama sebagaimana ia pergi tadi.”

Maka tatkala ia duduk dihadapan mereka, mereka langsung bertanya : “Apa yang terjadi tadi, wahai abul Walid?” maka ia menjawab : “Tadi aku mendengar sebuah perkataan dan demi Allah, aku belum pernah mendengar yang semisalnya sama sekali dan aku berumpah dengan nama Allah bahwa perkataan itu bukanlah syair, juga bukan perkataan tukang sihir atau perkataan dukun. Wahai kaum Quraisy patuhilah aku dan biarkanlah ia bersama dengan apa yang diserukan nya dan tinggalkanlah ia karena demi Allah sesungguhnya didalam perkataan yang aku dengar tadi terdapat berita besar yang jika bangsa Arab menerimanya, maka akan cukuplah hal itu dari selain nya, dan apabila hal itu muncul dikalangan orang Arab, maka akan membesarkan kekuasaan kalian serta akan menambahkan kejayaan kalian dan kalian pada saat itu menjadi manusia yang paling berbahagia dengan nya.

Maka mereka berkata : “Demi Allah sesungguhnya engkau wahai Abul Walid telah terkena sihirnya.” Lantas ia berkata : “Inilah pendapatku terhadapnya, maka terserah kalian mau berbuat apa.”

[Dikeluarkan oleh ‘Abd bin Hamid didalam Musnadnya, dan dinukil oleh Ibnu Katsir didalam Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/63 dab disebutkan juga oleh Al-Baihaqi didalam Dalailun Nubuwah 2/202-206. Lihat Dengan Al-Qur’an Masuk Islamlah Mereka hal 68-71. Abdul Aziz Sayyid Hasyim Al-Ghazzauli. Cet Darus Sunnah]

Pertanyaan :

1. Kenapa Rasulullah SAW tak menerima saja tawaran tersebut,, bukankah dgn menjadi "Raja/Penguasa" dikota Makkah NABI SAW bisa melindungi sahabat yg diam2 memeluk islam dan disiksa oleh kaum dan majikan mereka.. ?

2. Kenapa Rasulullah SAW tak menerima saja tawaran tersebut,,bukankah dgn menjadi "Raja/penguasa" di kota Makkah Rasulullah SAW akan lebih mudah utk mendakwahkan islam secara perlahan kpd rakyat kota Makkah mengingat status beliau sebgai seorg "Raja".. ?

3. Kenapa Rasulullah SAW tak menerima saja tawaran tersebut,, bukankah dgn menjadi "Raja/Penguasa" dikota Makkah , Rasulullah SAW mampu mencegah Pembesar2 Kafir Quraish jahiliyah berkuasa dan berbuat semena-mena kpd para sahabat Rasulullah SAW di kota Makkah.., Bukankah dgn menjadi Raja di kota Makkah Rasulullah akan mengurangi "sedikit" mudharat bagi ummat islam yg baru berkembang pada saat itu,,. ??

***Akhir Kutipan***

Sebagai tambahan, berikut link bahasan seputar dalil pembenaran untuk menjalankan demokrasi sebagai jalan perjuangan.

1. Tulisan lama: Kaidah Berpolitik

2. Hukum Berpartisipasi dalam Pemerintahan Kufur

3. Ka’idah Raf’u Al Haraj: Mengahalalkan Yang Haram?

4. Ahwan Asy Syarrain

5. Bolehkah berdalil dengan Nabi Yusuf?

6. Nabi Yusuf terlibat dalam Pemerintahan Kufur? baca juga Apakah Nabis Yusuf berpartisipasi dalam Pemerintahan Kufur?

7. Lantas, Bolehkan Berjuang Lewat Parlemen?

8. Berkoalisi dengan Kelompok Sekuler berdasarkan Perjanjian Hudaibiyah. Ini bahasannya: Perjanjian Hudaibiyah

[http:at-tohir.blogspot.com]

11 Oktober 2015

Hubungan Ahli Fiqih dan Ahli Hadits Zaman Dulu

Entah siapa yang memulai, dikotomi antara muhaddits dan faqih hari-hari ini anginnya terasa cukup kencang saja. Meskipun sebenarnya hal itu bukanlah hal baru. Memang, dari namanya saja sudah beda, muhaddits adalah ulama yang intens dalam membahas hadits, sedangkan faqih adalah ulama yang intens membahas fiqih.

Perbedaan itu akan menjadi harmoni jika keduanya bekerja sama dengan apik, dan itulah yang terjadi pada ulama’-ulama’ Islam terdahulu. Sebut saja Imam Abu Hanifah (w. 150 H); seorang faqih dan al-A’masy (w. 148 H); seorang ahli hadits.

Hal itu sebagaimana diceritakan oleh al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) dalam kitabnya Nashihatu Ahli al-Hadits [1].

Suatu ketika al-A’masy (w. 148 H) duduk bersama Imam Abu Hanifah (w. 150 H). datanglah seorang laki-laki bertanya sesuatu hukum kepada al-A’masy. Al-‘Amasy berkata; wahai nu’man! (Imam Abu Hanifah), jawablah pertanyaan itu! Akhirnya Imam Abu Hanifah menjawab pertanyaan itu dengan baik. Al-A’masy kaget dan bertanya, dari mana kamu dapat jawaban itu wahai Abu Hanifah? Imam Abu Hanifah menjawab, dari hadits yang engkau bacakan kepada kami.

Al-A’masy (w. 148 h) menimpali:

نعم نحن صيادلة وأنتم أطباء

Iya benar, kami ini apoteker dan kalian adalah dokternya

Selain itu, tak bisa dipungkiri juga, ada ulama yang selain faqih juga muhaddits. Tapi itu sangat sedikit jumlahnya. Sebut saja Imam Syafi’i (w. 204 H).

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) berkata tentang Imam Syafi’i (w. 204 H), sebagaimana dinukil oleh al-Hafidz Ibnu Asakir (w. 571 H) [2]

كان الفقهاء أطباء والمحدثون صيادلة فجاء محمد بن إدريس الشافعي طبيبا صيدلانيا

Dahulu Ahli Fiqih itu dokter, sedangkan muhaddits adalah apotekernya. Sehingga datanglah Imam as-Syafi’i, beliau adalah dokter sekaligus apoteker

Pemisahan tugas muhaddits dan faqih bukanlah sesuatu yang negatif. Karena dari situlah para ulama sadar diri atas keilmuan yang dikuasainya. Sehingga antara muhadits dan faqih itu bisa saling bersinergi dalam kebaikan.

Terjadi masalah jika seorang apoteker merasa tidak butuh dokter, bahkan malah buka prakter kedokteran sendiri di apoteknya. Dikotomi muhaddits dan faqih menjadi negatif jika salah satu dari keduanya merasa tidak butuh dengan yang lain.

Kita dapati saat ini ada yang berkata, “Seorang faqih itu haruslah seorang muhaddits, tetapi muhaddits tidak harus seorang faqih. Karena seorang muhaddits itu otomatis pasti seorang faqih”. Muhaddits-muhaddits saat ini [atau yang digelari muhaddits oleh murid-muridnya] beranggapan sinis terhadap fiqih islam, ulama’-ulama’ fiqih dan madzhab-madzhab fiqih.

Merasa sudah mengikuti hadits maka berlepas diri dari pemahaman ulama fiqih dan madzhab ulama terdahulu, dengan membuat madzhab ahli hadits.

Dari sinilah pentingnya kita belajar kembali sejarah ulum al-hadits dan tokoh-tokohnya dari ulama terdahulu. Hal itu untuk menegaskan kembali bahwa justru berkembangnya ulum al-hadits itu berada di tangan ulama, yang mana kebanyakan  ulama itu juga mengikuti salah satu madzhab dalam fiqihnya.

Al-Imam ad-Dzahabi (w. 748 H) meninyindir Ahli Hadits di zamannya, beliau berkata [3]:

وكم من رجل مشهور بالفقه والرأي في الزمن القديم أفضل في الحديث من المتأخرين، وكم من رجل من متكلمي القدماء أعرف بالأثر من سنية زماننا

Banyak dari ulama yang terkenal dalam bidang fiqih dan ra’yu di zaman terdahulu, mereka lebih utama dalam hadits daripada ulama saat ini. Banyak dari ulama yang terkenal ahli ilmu kalam zaman terdahulu, mereka lebih banyak pengetahuannya tentang hadits daripada orang yang mengaku mengikuti sunnah zaman kita ini.

Itu ahli hadits abad ke-8 Hijriyyah pada masa Imam ad-Dzahabi (w. 748 H). Bagaimana dengan ahli hadits era maktabah syamilah? []

Sumber dan Judul Asli: Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 1) oleh Hanif Luthfi, Lc


[1] Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), Nashihatu Ahli al-Hadits, (Maktabah al-Manar, 1408), hal. 44

[2] Ibnu Asakir Ali bin Hasan Hibatullah (w. 571 H), Tarikh Dimasyqi, (Bairut: Daar al-Fikr, 1415 H), hal. 51/ 334

[3] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ad-Dzahabi al-Hafidz (w. 748 H), Zaghlul Ilmi, (Maktabah al-Shahwah al-Islamiyyah), hal. 32

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus