12 Juni 2009

ISLAM FUNDAMENTALIS, emang ada?

Dalam sebuah tabloid lokal kampus, saudara saya yang berinisial MF menuliskan, “Memang, kita bukanlah kaum fundamentalis yang terpaku pada teks keagamaan semata. Perguruan tinggi ini tidak bertujuan untuk mencetak ulama-ulama konservatif. Kita tentunya tidak lagi berada di zaman kebekuan berpikir yang terwujud dalam kondisi ummat yang statis.”

Dengan niatan lillahi ta’ala, dan tak bermaksud sok tahu, apalagi menggurui, saya merasa berkewajiban untuk meluruskan pemahaman bersama terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam kalimat-kalimat di atas, dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya.

ISTILAH FUNDAMENTALIS

Fundamentalis berasal dari bahasa latin fundamentum, yang berarti fundamen, dasar, atau dasar. Istilah ini pertama kali digunakan oleh kalangan barat untuk menyebut gerakan katolik protestan yang menyerukan untuk kembali dan berpegang teguh kepada Bibel, serta menolak setiap hal yang baru, terutama temuan-temuan sains modern, yang bertentangan dengan Bibel.
Dengan berakhirnya Perang Dingin, yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet dan dicampakannya komunisme, telah membuat Barat (baca: Amerika) sebagai “pemenang” dalam perang tersebut merasa perlu mencari-cari “musuh baru” untuk mengisi kekosongan ancaman. Dan di saat yang bersamaan, dunia Islam (yang sebelumnya tidak terlalu diperhitungkan setelah runtuhnya kekhilafan Islam) semakin melejitkan geliat kebangkitannya. Melihat fenomena ini, Barat mencoba untuk menanamkan pengaruhnya di dunia Islam agar tak menggangu kepentingannya. Usaha-usaha yang mereka lakukan antara lain adalah semakin digencarkannya proses penyebaran paham-paham yang bertentangan dengan Islam, seperti Demokrasi, Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme, dan Nasionalisme di dunia Islam.
Ternyata semakin gencar usaha yang dilakukan barat, semakin membuat ummat Islam (yang diwakili oleh jemaah-jemaah pergerakan) untuk bangkit dari keterpurukannya selama ini. Mereka semakin lantang menyuarakan persatuan di antara ummat Islam, menyerukan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mengajak ummat untuk menerapkan Syar’at Islam secara sempurna, dan melawan hegemoni Barat terhadap dunia Islam.
Dengan bermodal media massa yang mereka miliki, kaum Salibis-Barat dan Zionis-Yahudi (sebagai sekutu barat yang anti Islam), mulai “memindah-tangankan” label Fundamentalis dari Kristen kepada gerakan-gerakan Islam anti Amerika. Sehingga setiap gerakan yang menyerukan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, yang tidak mau menerima paham-paham kufur dari barat, yang anti Barat, yang menyerukan formalisasi syari’ah Islam secara kaffah dalam sebuah Negara, maka mereka itulah yang dimaksud barat sebagai kalangan Fundamentalis Islam. Sebagaimana pernyataan John L. Esposito, “kebanyakan dari penegasan kembali kepada Agama (Islam) dalam politik dan masyarakat tercakup dalam istilah Fundamentalisme Islam.”
Dahsyat dan gencarnya propaganda yang dilakukan barat dalam pemberian label ini, --yang kemudian dikait-kaitkan dengan istilah-istilah yang dipandang ngeri, seperti terorisme, ekstrimisme, radikalisme, militanismen, dan sebagainya-- telah membuat opini public (public opinion) dan image yang buruk tentang agama dan ummat Islam di mata dunia. Citra buruk ini kemudian diikuti dengan timbulnya gejala Islamphobia. Tak hanya di dunia barat, namun juga di dunia Islam sendiri.
Padahal, jika kita mau jujur, stigma (labelisasi) Fundamentalis Islam terhadap “gerakan kebangkitan Islam” merupakan “pemerkosaan besar-besaran” terhadap sejarah. Jika Fundamentalis Kristen timbul karena mereka memegang teguh ajaran Bibel yang memang lemah dan tidak tahan terhadap arus penemuan dan pengembangan sains modern, maka “gerakan kebangkitan Islam” muncul sebagai bentuk keprihatinan terhadap keadaan ummat Islam yang semakin jauh meninggalkan ajaran Islam, terutama dalam tataran politik dan bernegara.
Selain itu, di dalam ajaran “fundamental”-nya, Islam tidaklah anti sains modern, akan tetapi justru endorong ummatnya agar menguasainya. Hal ini dapat dilihat ketika adanya Khilafah Islamiyah yang telah melahirkan banyak Ulama’ dan Ilmuan. Bahkan perkembangan sains modern seiiring sejalan dengan ajaran Al-Qur’an, sebagaimana telah di buktikan oleh seorang ilmuan Prancis yang bernama Dr. Maurice Bucaille, dalam karyanya “Bibel. Al-Qur’an, dan Sains Modern”.

ISTILAH KONSERVATIF

Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa latin conservāre, yang berarti “melestarikan, "menjaga, memelihara, mengamalkan". Dalam kamus bahasa inggris, conservative berarti “kolot”, “tidak mau maju”, “tidak mau berkembang”, dan anonim lainnya. Kemudian, (sebagaimana istilah Fundamentalis) dengan bermodal media massa, barat (AS) me-nisbat-kan istilah ini kepada seseorang, atau gerakan yang tidak mau tunduk kepada mereka, dan kelompok yang memegang teguh ajaran islam, yang menolak mentah-mentah nilai-nilai dari barat, seperti paham Sekuler, Pluralisme, Liberalisme, Nasilonalisme dan paham-paham lainnya yang bertentangan dengan syari’at Islam.

KHATIMAH

Melihat sejarah di atas, mungkin (ingat, mungkin) salah satu dari sekian banyak orang yang termakan propaganda barat adalah saudara MF ini. Indikasi dapat kita lihat dalam prosa yang digunakannya, yakni “Kaum Fundamentalis” yang diidentikannya dengan “orang yang terpaku pada teks keagamaan semata”, dan ketakutannya terhadap lahirnya “Ulama-Ulama Konservativ” dari Perguruan Tinggi Islam.
Sebagai seorang Intelektual Muslim, apalagi yang mahasiswa IAIN (yang dalam tulisannya saudara penulis mengingatkan bahwa IAIN dalam kepanjangan terdapat kata Agama Islam), sangatlah tidak etis (kalau tidak mau dikatakan “memalukan”) menggunakan sebuah istilah hanya karena latah, ikut-ikutan. Seharusnya kita yang melawan setiap propaganda-propaganda yang terus-menerus dilakukan pihak Barat dan budak-budaknya, dengan meluruskan penggunaan istilah-istilah-istilah tersebut. Tentu, hal ini hanya jika kita bukanlah budak barat yang mengadopsi aqidah Sekuler-Liberal.
Namun, jika ada di antara kita yang anti Islam kaffah, yang dengan sengaja menggunakan istilah-istilah itu (fundamentalis, konservatif, dan lainnya) untuk memberi label terhadap setiap kelompok atau gerakan yang lantang berteriak menyuarakan penerapan syari’ah (bahkan Khilafah), yang selalu mencaci busuknya aqidah sekuler, maka saya akan berteriak ditelinga mereka, “SAYA ADALAH SALAH SATU FUNDAMENTALIS ISLAM YANG KONSERVATIF!”.
Zionis Yahudi dan Salibis Barat (melalui media massa) setiap hari mengendalikan pikiran kita dengan penggunaan kata-kata dan pemberian makna tertentu yang menyudutkan islam dan ummat islam. Tentu, check dan recheck, tabayun, dan tidak menerima informasi apa adanya, merupakan sebuah langkah bijak yang dituntunkan Allah kepada kita.
Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamua orang fasik membawa berita, maka check dan recheck-lah berita itu dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu malapetaka kepada suatu kaum tsanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmua itu.” (QS. Al-Hujuraat: 6)

Allahumma, inni qad balaghtu. Fasyhad!
Ya Allah, sungguh hamba telah menyampaikan. Maka saksikanlah!


Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 00.18
Kategori:

0 komentar :

Posting Komentar

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus