30 Desember 2010

Dua Langkah Perubahan


Oleh Muhammad Tohir

Ketika mata memandang keluar rumah, maka akan tampak segala macam bentuk “ketidakwajaran”. Negeri ini kaya akan sumber daya alam, potensi tambang melimpah ruah, baik minyak, gas, batu bara, emas, timah, dan lainnya. Belum lagi ditambah kekayaan alam berupa hutan dan laut. Dalam logika sederhana kita akan membayangkan bahwa manusia yang tinggal di negeri ini, juga negeri-negeri disekitarnya, seharusnya hidup dalam kesejahteraan menikmati semua kekayaan itu.
Anehnya, rakyat negeri ini tak ubahnya manusia yang ada di padang pasir yang tandus dengan air yang terbatas dan cuaca yang labil serta membahayakan keselamatan jiwa. Inilah kenapa penulis menyebut negeri ini penuh dengan “ketidakwajaran”: paradoks.
Lebih dari itu, para pemimpin negeri ini melalaikan tanggung jawab (baca: kewajiban) mereka sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Seolah-olah akan hidup selamanya, mereka berani mengabaikan hukum-hukum Allah SWT. Inilah kesalahan mendasar yang melahirkan kesalahan dan masalah lain yang kemudian menimpa ummat ini. Akibat perilaku penguasa lah, maka Allah menimpakan adzab kepada negeri ini.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)
Inilah kondisi ummat ini. Inilah kerusakan yang bercokol di tangah-tengah ummat. Kerusakan yang disebabkan ulah tangan manusia itu sendiri.
“Telah Nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Tentu saja sebagai manusia yang berakal, kita tak menginginkan keadaan ini bertahan. Apalagi sebagai seorang yang beriman, mu'min, sudah menjadi kewajiban kita untuk merubah kerusakan dan kemaksiatan ini dengan segenap kemampuan yang kita bisa. Kitalah yang bisa melakukan perubahan, karena Allah telah menyatakan bahwa Dia tidak akan merubah keadaan kita, kecuali kita sendiri yang merubahnya.
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Lebih-lebih lagi Rasulullah telah mewanti-wanti dan memerintahkan agar semua orang, siapa saja, untuk merubah kemungkaran yang ada didepannya, kemaksiatan yang terlihat olehnya, dengan semaksimal kemampuan yang dimilikinya. 
"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak bisa melakukannya dengan tangannya, hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Jika tidak bisa melakukannya dengan lisannya, hendaklah ia melakukan dengan hatinya. Itulah iman yang paling lemah." (HR. Muslim).
Untuk melakukan suatu perubahan, setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan. Sebagaimana perkataan syaikh Ahmad Athiyyat dalam Ath-Thariq: Dirasatun Fikriyyatun Fii Kayfiyyah Al-Amal Litaghyiri Waqi’ Al-Ummah Wa Inhadhiha:
sesungguhnya manusia tidak (akan) berfikir tentang perubahan kecuali jika dia memahami bahwa disana (di dalam kehidupannya) terdapat realitas yang fasid, atau buruk atau paling tidak tidak sesuai dengan yang seharusnya. Untuk didapatkan pemahaman tersebut (disini) maka adalah suatu keharusan adanya ihsas atas realitas yang fasid tersebut.”
Selanjutnya beliau menambahkan,
"Hanya saja, sekedar sadar terhadap kerusakan atau realitas rusak tidaklah mencukupi untuk melakukan perubahan; akan tetapi –disamping hal itu (kesadaran terhadap realitas rusak)— harus ada kesadaran terhadap realitas pengganti untuk (menggantikan) realitas yang rusak".
Dari perkataan syaikh Ahmad Athiyyat diatas, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah penyadaran terhadap ummat bahwa kondisi saat ini adalah kondisi yang “tidak wajar”. Ini adalah keadaan yang tidak semestinya terjadi. Agar ummat sadar akan hal itu maka haruslah dijelaskan bahwa realita yang terjadi saat ini, berupa kemiskinan, kebodohan, keterbalakangan, dan berjibun problematika ummat yang ada disebabkan oleh system yang ada.
Demokrasi-Kapitalis-Sekuler yang memberikan wewenang kepada manusia untuk membuat aturannya sendiri, merupakan sumber kesengsaraan ummat ini. Dengan keterbatasan akal yang dimiliki, manusia berusaha menata kehidupan mereka sendiri, yang tentu saja manfaat bagi kepentingan pribadi dan kelompok menjadi prioritas. Inilah realitas yang harus terus menerus disampaikan kepada ummat hingga mereka menyadarinya.
Ternyata kesadaran ummat terhadap kerusakan realitas yang ada tidak akan pernah menghasilkan perubahan kecuali ada solusi yang ditawarkan. Maka, langkah kedua yang juga menjadi point penting perubahan adalah memberikan satu gambaran terhadap realitas ideal yang akan menjadi arah perubahan, realitas yang akan menjadi pengganti realitas yang rusak tadi.
Allah SWT telah mewajibkan kepada sebagian ummat ini agar melakukan seruan kepada islam. Karena islamlah jawaban terhadap segala problematika yang ada, sebagaimana firman-Nya:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (islam), menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Seruan yang dimaksud adalah seruan yang memberikan jawaban terhadap segala masalah ummat. Seruan yang menggambarkan kesempurnaan islam dalam mengatasi semua aspek kehidupan, mulai dari aqidah, ibadah, politik, ekonomi, pendidikan, dan semua hal yang berkaitan dengan manusia. Dengan islam lah kesejahteraan akan benar-benar terwujud, karena aturannya adalah aturan yang dibuat oleh Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Dialah Allah SWT.
Dua langkah ini harus diserukan dengan lantang, jelas, dan tegas, tanpa melihat lagi apapun hasilnya. Tidak boleh diantara kita kemudian menyembunyikan seruan yang mulia ini dengan seruan-seruan yang semu yang akan semakin menjauhkan ummat dari Islam. Aktivitas inilah yang dicontohkan Rasulullah ketika melakukan dakwah tengah-tengah manusia. Ketegasan ini pula yang membuat rasulullah kemudian dimusuhi, padahal beliau adalah orang yang dihormati dan dijadikan rujukan oleh ummatnya pada saat itu. Hal ini bisa kita lihat dari pernyataan para pembesar Quraisy yang merasa keburukannya di bongkar oleh Rasulullah saw, mereka melobi Abu Thalib yang merupakan paman Rasul untuk membujuk Rasulullah agar menghentikan dakwahnya:
“Wahai Abu Thalib sesungguhnya engkau memiliki kemuliaan dan kedudukan ditengah kami, dan kami telah minta engkau agar mencegah keponakanmu maka engkau tidak mencegahnya, dan kami, demi Allah, tidak dapat bersabar atas hal ini, dari caciannya atas bapak-bapak kami, dan membodohkan akal kami dan mengejek tuhan-tuhan kami…” (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyyah).
Demikianlah langkah-langkah yang harus kita lakukan. Dengan mencontoh Rasulullah maka janji Allah akan kembalinya tatanan kehidupan islami akan segera terwujud. Insya Allah. Wallahu a'lam. []

Catatan: Tulisan ini dikembangkan dari postingan Al Ustadz M. Taufik, NT, M.Si, berjudul "Bagaimana Agar Terjadi Perubahan?"

29 Desember 2010

Selamatkan Indonesia Dengan Syariah Menuju Indonesia Lebih Baik (Refleksi Akhir Tahun 2010 Hizbut Tahrir Indonesia)

[Al Islam 537] TAHUN 2010 segera berakhir. Fajar tahun baru 2011 segera hadir. Sepanjang tahun 2010 banyak peristiwa ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya yang telah terjadi. Terkait sejumlah peristiwa tersebut, Hizbut Tahrir Indonesia memberikan catatan sebagai berikut:
1. Demokrasi: Sistem Cacat, Menindas Rakyat.
Demokrasi di Indonesia-sekalipun mendapatkan pujian dalam Bali Democracy Forum (10/12/2010)-tidaklah memiliki wujud nyata di tengah masyarakat. Sepanjang tahun 2010, banyak tragedi yang menunjukkan dengan jelas kecacatan sistem ini. Yang paling menonjol, Indonesia dengan demokrasinya telah menempatkan diri sebagai subordinat kepentingan negara kapitalis Amerika Serikat dan sekutunya.

22 Desember 2010

WikiLeaks: AS=Penjajah, Para Penguasa Muslim Pelayannya

[Al Islam 536] Wikileaks kembali menghebohkan saat membocorkan ribuan dokumen berisi kawat diplomatik dari kedutaan-kedutaan besar dan konsulat AS di seluruh dunia. Wikileaks mengklaim memiliki lebih dari 251.000 dokumen meski sampai saat ini (21/12) baru sekitar 1824 dokumen yang dimuat di lamannya. Sebagian dokumen itu juga kemudian dimuat oleh media lain seperti The Guardian Inggris, New York Times di AS, El Pais Spanyol, Der Spiegel Jerman, dan lain-lain.

20 Desember 2010

RUU Intelijen 2010 : Tirani Baru?

Harits Abu Ulya (Pengamat Kontra-terorisme dan Analis Divisi Politik DPP HTI)

***
Secara aklamasi, anggota dewan yang hadir dalam rapat paripurna DPR (kamis, 16/12/2010), menyetujui usulan RUU Intelijen Negara sebagai RUU Inisiatif dewan yang akan di bahas dalam program legislasi nasional tahun 2011.
Sebelumnya RUU Intelijen versi BIN (Badan intelijen Negara) beredar di kalangan anggota DPR, namun mengalami banyak penolakan. Kali ini RUU yang naskah akademiknya cukup lengkap dan draft RUU yang sudah siap akhirnya disepakati, sekalipun substansinya tidak jauh beda dengan draft tahun 2006.

19 Desember 2010

DEMOKRASI: BID’AH TERBESAR SAAT INI



Kata bid’ah mungkin sudah sering kita dengar , baik di buku, majalah, tabloid, tv, radio, dan berbagai madia-media lainnya. Para ulama’ ikhtilaf dalam melihat fakta bid’ah sehingga ada ulama’ yang mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat (dhalal) tapi ada pula yang mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu dhalal, melainkan ada pula bid’ah hasanah (baik).
Meskipun demikian, para ulama’ sepakat bahwa semua bid’ah yang menyalahi dan melanggar syari’at wajib untuk dihilangkan dan dijauhkan dari ummat. Haram melaksanakaan, menyiarkan dan mengakui bid’ah jenis ini. Inilah bid’ah yang penulis maksud dalam tulisan ini.

Berikut definisi mengenai bid’ah yang penulis kutip dari tulisan Ustadz M. Taufik, NT, M.Si:
Definisi dari Asy Syatibi:
Sebuah jalan (tariqah) dalam agama yang baru atau tidak ada sebelumnya (mukhtara’ah) yang bersifat (disamakan) dengan syari’ah, dan ketika melakukannya diniatkan sebagaimana apa yang dimaksud oleh jalan (thoriqah) syar’iyyah.
Ibnu Rajab dalam kitab Jâmi’ul Ulum Wal Hikam menyatakan:
Yang dimaksud dengan bid’ah adalah apa apa yang diadakan yang tidak ada pokok (asal/dasar) nya dalam syari’ah yang menunjukkan atasnya, adapun jika ada asal/pokok/dasar dari syari’ah maka itu bukan termasuk bid’ah secara syar’i, walaupun itu bid’ah secara bahasa.
Tulisan ini tidak akan memperdebatkan mengenai ikhtilaf itu, melainkan berusaha menyadarkan bahwa ada bid’ah yang dhalal yang begitu besar namun jarang disinggung oleh para da’i. Bid’ah itu adalah diterapkannya system pemerintahan demokrasi di negeri-negeri kaum muslimin.
Sebelumnya mari kita mengenal sedikit mengenai demokrasi.  Di Wikipedia dituliskan bahwa pemahaman paling sederhana dari demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Jika kita lihat sejarah dan penjelasan mengenai demokrasi, maka akan disimpulkan bahwa:
1.      Demokrasi adalah buatan akal manusia, bukan berasal dari Allah SWT.
2.      Demokrasi lahir dari aqidah pemisahan agama dari kehidupan, yang selanjutnya melahirkan pemisahan agama dari Negara (sekulerisme).
3.      Demokrasi berlandaskan dua ide :
a.       Kedaulatan di tangan rakyat.
b.      Rakyat sebagai sumber kekuasaan.
4.      Demokrasi adalah sistem pemerintahan mayoritas. Pemilihan penguasa dan anggota dewan perwakilan, serta pengambilan keputusan dalam lembaga-lembaga tersebut diambil berdasarkan pendapat mayoritas.
5.      Demokrasi menyatakan adanya empat macam kebebasan, yaitu :
a.       Kebebasan beragama (freedom of religion)
b.      Kebebasan berpendapat (fredom of speech)
c.       Kebebasan kepemilikan (freedom of ownership)
d.      Kebebasan bertingkah laku (personal freedom)
Lalu enapa demokrasi merupakan bid’ah dhalalah?
Berikut alasannya:
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka kedaulatan berada di tangan rakyat. Demokrasi adalah suatu sistem yang menjadikan sumber hokum dan perundang-undangan, penghalalan dan pengharaman sesuatu adalah suara rakyat, bukan Allah. Hal ini tentu saja bertentangan denga Islam, karena didalam islam yang berhak membuat hokum adalah Allah SWT, bukan manusia. Firman Allah SWT:
"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah." (QS. Al An'aam: 57)
Di dalam demokrasi syari’at yang mulia hanya diperkenankan pada aspek individu-ritual saja, sedangkan pada aspek social, baik politik, ekonomi, pemerintahan, pendidikan, sanksi dan lain sebagainya, syari’at tak ubahnya bola yang bisa dipermainkan. Nastaghfirullah.
Sebagai contoh, didalam demokrasi, seseorang diperkenankan berzina asalkan dilakukan dengan dasar suka sama suka, orang yang yang murtad dibiarkan begitu saja, aliran sesat dipertahankan dengan alasan kebebasan beragama, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah yang disebut dengan sekulerisme, yang merupakan pondasi dari demokrasi itu sendiri. Padahal di dalam islam, Allah telah mewajibkan ketaatan orang beriman secara total.
“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (Qs al-Baqarah: 208)
Sehingga didalam islam, kita tidak diwajibkan untuk senantiasa menjadikan syari’at sebagai rambu-rambu kehidupan, bukan malah bebas tanpa batas. Hal ini sebagai bukti bahwa kita benar-benar beriman kepada Allah dan Rasulullah.
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan." (QS. An Nisaa': 65)
Demikianlah bagaimana begitu jelasnya kesesatan demokrasi. Demokrasi bukan ajaran islam, ia adalah ajaran yang hadist (baru) yang tidak ada didalam islam. Lebih dari itu, demokrasi adalah ajaran orang-orang kafir yang bertentangan dengan syari’at islam. Demokrasi merupakan bid’ah dhalalah yang begitu besar. Rasulullah telah bersabda bahwa segala sesuatu yang tidak bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan bid’ah yang sesat, dan setiap bid’ah yang sesat tempatnya adalah Neraka.
“Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka’…” (HR. An-Nasa’i)
Masih mempertahankan demokrasi?[]

17 Desember 2010

Penangkapan Aktifis di Solo (BN): Kedurjanaan Densus 88?

Oleh Harits Abu Ulya (Pengamat Kontra-terorisme dan Analis Divisi Politik DPP HTI)
***

Seperti halnya pemberitaan Majalah Islam–Sabili-No. 8, 9 Desember 2010/3 Muharam 1432. Di halaman 30 dengan judul "Terorisme Cerita Yang Belum Berakhir" diceritakan penangkapan seorang aktifis yang bernama Bahrunna’im (selanjutnya di singkat “BN”).
Dari peristiwa penangkapana itu terungkap kesaksian menarik dari sebagian masyarakat melihat aparat Densus 88 yang menggrebek rumah kontrakan BN, “Kami melihat kelompok Densus 88 adalah warga asing, ada sekitar 7-10 orang mereka berbadan tinggi dan berkulit putih,

16 Desember 2010

HAM: Alat Propaganda dan Penjajahan Barat

[Al Islam 535] SEPULUH Desember 2010 lalu, sebagaimana diketahui, untuk kesekian kalinya diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM) se-Dunia. Di Tanah Air, Peringatan Hari HAM se-Dunia ditandai dengan sejumlah aksi oleh para pegiat HAM di beberapa daerah.
Yang menarik, terkait dengan HAM ini, seminggu sebelumnya, Human Rights Watch (HRW) dalam laporan yang berjudul, “Menegakkan Moralitas: Pelanggaran dan Penerapan Syariah di Aceh Indonesia,” menyebutkan bahwa dua aturan Perda Syariah mengenai larangan khalwat serta aturan mengenai busana Muslim pada pelaksanaanya telah melanggar HAM dan konstitusi Indonesia.

10 Desember 2010

Dalam Pertarungan Anatara Amerika dan Cina di Korea, Dimanakah Indonesia?

[Al Islam 534] Ketegangan makin meningkat antara Korea Utara dan Korea Selatan setelah Korea Utara menembakkan artilerinya ke beberapa daerah di Korea Selatan pada hari Selasa, 23/11/2010 lalu. Cina menuduh bahwa Amerika Serikat dan Korea Selatanlah yang memicu ketegangan tersebut setelah keduanya memutuskan untuk melakukan latihan militer gabungan di Laut Kuning. Sementara itu, Cina diam saja terhadap apa yang dilakukan oleh Korea Utara.

08 Desember 2010

Lamaranmu Kutolak !

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.
Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang perempuan muda, dari sisinya. “Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya. “Iya, Pak,” jawab sang muda.

01 Desember 2010

Hijrah dari Sistem Jahiliah ke Sistem Islam

[Al Islam 533] Tak terasa, kita kembali bertemu dengan awal tahun baru hijrah. Kali ini kita mengakhiri tahun 1431 H dan memasuki tahun 1432 Hijrah.
Hijrah, yakni peristiwa hijrah Baginda Nabi saw. dari Makkah ke Madinah, adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan kaum Muslim. Hijrah adalah peristiwa paling menentukan bagi tegaknya Islam sebagai sebuah ideologi dan sistem dalam intitusi negara ketika itu, yakni Daulah Islamiyah.

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 082256352680.
Jazakumullah khairan katsir.