15 Mei 2014

Mengenal Yahudi dan Zionisme, Serta Perannya dalam Meruntuhkan Khilafah [Bagian 2]

[Silahkan baca bagian 1 di sini]

Gerakan Zionisme

Zionisme berasal dari kata Ibrani “zion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds (Jerusalem). Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri. (ZA Maulani, Zionisme: Sebuah Gerakan Menaklukan Dunia).

Orang-orang Yahudi di Eropa ditindas, mereka mendapatkan perlakuan yang diskriminatif, maraknya Anti-Semitism (baca: Anti-Jews) yang dikampanyekan pertama kali oleh Wilhelm Marr. Melihat kondisi ini,  kalangan Yahudi waktu itu terbelah menjadi dua. Satu pihak berpikiran  bahwa Asimilasi dengan masyarakat Kristen Eropa-Amerika adalah cara yang tepat untuk mengatasi problem itu. Pihak lain mengatakan, masalah Yahudi hanya terselesaikan dengan mendirikan sebuah Negara khusus untuk kaum Yahudi. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat)

Harun Yahya menyatakan bahwa Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka. (http://id.harunyahya.com, diakses 12/05/2014)

Gagasan tentang gerakan Zionisme, yaitu suatu gerakan politik untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina, mulai memperlihatkan konsepnya yang jelas dalam buku ‘Der Judenstaat’ (1896) yang ditulis oleh seorang tokoh Yahudi, yang kemudian dipandang sebagai Bapak Zionisme, Theodore Herzl (1860-1904). Ia salah seorang tokoh besar Yahudi dan Bapak Pendiri Zionisme modern, barangkali eksponen (yang menerangkan/menguraikan-red.) filosof tentang eksistensi bangsa Yahudi yang memiliki pandangan paling jauh ke depan yang dimiliki generasi Yahudi di sepanjang sejarah mereka. Ia tidak pernah ragu akan adanya “bangsa Yahudi”. Ia menyatakan tentang eksistensi itu pada setiap kesempatan yang ada. Katanya’ “Kami adalah suatu bangsa – Satu Bangsa”. (ZA Maulani, Zionisme: Sebuah Gerakan Menaklukan Dunia).

Hubungan Yahudi dan Zionisme

Meski Zionisme adalah gerakan politik yang digagas oleh orang-orang Yahudi untuk memberikan solusi terhadap problem mereka, namun ini tidak berarti disimpulkan bahwa semua Yahudi akan mendukung Zionisme, walaupun beberapa ide Zionisme diambil diambil dari kitab suci Yahudi.

Adian Husaini menyebutkan beberapa respon keagamaan di kalangan Yahudi terhadap Zionisme dan ide Negara Israel. Pertama, kelompok penentang keras Zionisme. Kelompok Haradem misalnya, mereka memandang bahwa tahah Israel memang dijanjikan oleh tuhan untuk mereka. Namun, tanah ini dicabut dari mereka disebabkan ketidakpercayaan yahudi sendiri terhadap perjanjian dengan Tuhan. Mereka berasumsi, jika Yahudi menaati Taurat, maka Tuhan akan mengembalikan tanah itu kepada Yahudi. Usaha apapun yang mempercepat penempatan Yahudi di “tanah yang dijanjikan” mereka anggapa sebagai bentuk ketidaksabaran atas janji Tuhan.

Kelompok Naturei Kartei (Inggris: Guardian of the City pun kelompok yang anti-Zionisme, ultra-Ortodoks, yang tidak mengakui Negara Israel dan konsisten menentang Negara Yahudi ini. Mereka menganggap Israel sebagai “Zionisme tak bertuhan” (Goodless Zionism). Mereka juga mendukung perjuangan palestinan dan menyerukan Internasionalisasi Jerussalem.

Kedua, kutub agama yang yang mensupport penuh Zionisme. Diantaranya kelompok Gush Emunim (Block of the Faithfull). Kelompok ini memberikan biaya kepada para pemukim Yahudi di Tepi Barat, setelah kemenangan Israel dalam perang 1967. Mereka menyatakan mereka kembali ke area tertentu untuk mempromosikan kehidupan Yahudi, yang menurut mereka akan akan mempercepat kedatangan Sang Messiah.

Selain dua kelompok diatas, ada kelompok Ketiga, yaitu kelompok-kelompok Yahudi yang memberikan dukungan kepada negara Israel, tetapi tidak melihatnya dari sudut pandang keagamaan. Negara Israel menurut mereka bukanlah tanda akan datangnya Sang Messiah. Namun demikian, mereka sangat keras dalam mendukung Negara Israel. Salah satu tokoh dari “Mainstream religious Zionists”, Rabbi Meimon (1875-1962) menyatakan, “Negara Ibrani harus didirikan dan dijalankan sesuai prinsip Agama Ibrani, yakni Torah Israel. Keyakinan kita sudah jelas: sejauh yang kita, penduduk, memahaminya, agama dan Negara saling membutuhkan satu sama lain.” (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat).

Peran Zionisme dalam Keruntuhan Khilafah

Daulah Ustmaniy sudah lemah pada akhir adab 19. Menurut Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani (1953), pendiri Hizbut Tahrir, dalam kitabnya Ad Daulah Al Islamiyah, kelemahan ini nampak dalam dua hal, yaitu: Pertama, kelemahan umat dalam pemahaman (al fahm) terhadap Islam, dan kedua, kelemahan dalam penerapan (at tathbiq) Islam.

Meski demikian, Zionisme yang bercita-cita membangun Negara Yahudi di atas tanah yang dijanjikan, Jerussalem, tentu tidak mungkin bisa mewujudkan mimpinya kecuali atas ijin atau merampasnya dari Khalifah Ustmaniy waktu itu. Karena tanah yang mereka maksud adalah tanah Palestina yang notabene merupakan tahan dalam kekuasaan Islam. Padahal sebelum Zionisme ada, perlindungan yang telah diberikan oleh Khilafah Ustmaniy kepada orang-orang Yahudi yang diusir dan dibantai oleh kaum Kristen Eropa.

Maka pasca menerbitkan bukunya, Der Judenstaat, Herzl mengunjungi Istambul dan mempresentasikan rencananya untuk membentuk dengan Negara Yahudi di atas tanah Palestina. Bahkan dia menawarkan bantuan finansial untuk melunasi hutang-hutang khilafah Ustmaniy. Tidak hanya itu, Herzl juga meminta bantuan kepada Kaisar Austria Wilhelm II yang dikenal dekat dengan Khalifah, agar merekomendasikan rencana itu untuk disetujui Sultan Abdul Hamid II.

Melalui Newslinsky yang merupakan wartawan dan teman dekat Herzl, Sultan menyampaikan penolakannya secara tegas. Beliau mengatakan, “Saya tidak bias menjual bahkan selangkah dari tanah itu, karena ia bukan milikku tapi milik rakyatku. Rakyatku telah mendirikan kesultanan ini lewat perjuangan dengan darah mereka dan menyuburkan tanah ini dengan darah mereka. Kami juga akan menyelimutinya dengan darah kami sebelum kami membiarkannya dirampas… Kesultanan Turki bukan milikku tapi milik rakyat. Saya tak bias membiarkan bagian manapun daripadanya hilang begitu saja. Orang-orang Yahudi bisa memiliki miliaran uang. Di saat kesultananku terpecah belah, taka da lagi gunanya mereka mendapatkan Palestina.” (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat).

Dalam versi lain, Sultan Abdul Hamid II mengatakan kepada Herzl:

“Sesungguhnya andai kata tubuhku disayat-sayat dengan pisau atau salah satu anggota badanku dipotong maka itu lebih aku sukai dari pada aku perkenankan kalian tinggal di bumi Palestina yang merupakan negara kaum muslimin. Sesungguhnya bumi Palestina telah direbut dengan pengorbanan darah. Dan sekali-kali bumi itu tidak akan dirampas dari mereka melainkan dengan pertumpahan darah. Dan sungguh Allah telah memuliakanku sehingga dapat berkhidmat kepada agama Islam selama tiga puluh tahun. Dan aku tidak akan mencoreng sejarah para leluhurku dengan aib ini”. (Abdullah Azzam, Runtuhnya Khilafah dan Jalan Menegakannya)

Setelah penolakan itu, maka zionisme berusaha menumbangkan sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon ”Liberation”, “Freedom”, dan sebagainya. Ghazwu Al Tsaqafiy (perang budaya) yang sebenarnya sudah jauh hari sebelumnya sudah digulirkan dari dalam Negara oleh musuh-musuh islam semakin meningkat tekanannya. Akhirnya gerakan Zionis di Turki Ustmaniy mencapai sukses yang sangat signifikan, menyusul pencopotan Sultan pada April 1909. Di antara empat perwakilan yang menyerahkan surat pencopotan itu adalah Emmanuel Carasso (Yahudi) dan Aram (Armenia).

Bahkan sejak 1908 praktis penguasa Turki sebenarnya adalah CUP (Committee and Union Progress) –organisasi bentukan Young Turk Movement(Gerakan Turki Muda), gerakan yang berjuang mengakhiri apa yang mereka sebut Abdul Hamid’s Despotism dan mendirikan rezim konstitusional dengan tujuan menyelamatkan Imperium Ustmaniy dari keruntuhan. Mereka lah pendiri Turki Modern, bahkan tida presiden pertama Turki adalah anggota CUP. Jajaran petinggi CUP sendiri di antaranya ditempati oleh Emmanuel Carasso dan Moise Cohen Tekinalp, yang merupakan tokoh Yahudi. Orang Yahudi pun banyak yang menjadi anggota parlemen Turki melalui CUP antara tahun 1908 – 1918. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat)

Penutup: Islam, Yahudi, dan Zionisme

Sungguh, sejarah panjang Yahudi dan Zionisme telah memperlihatkan bagaimana kita seharusnya memperlakukan mereka kelak ketika Khilafah yang kedua tegak kembali, Insya Allah. Bahwa, sebagai Negara berideologi Islam, yang hanya menjadikan Islam dan Syariahnya sebagai aturan, maka zionisme tidak boleh dibiarkan ada dalam wilayah Khilafah. Negara Yahudi, ide Zionisme dan para pengusungnya harus ditiadakan, sebagaimana juga perlakuan Islam kepada ideology Kapitalisme dan Sosialisme, serta ide-ide kufur lainnya.

Adapun untuk Yahudi sebagai agama, maka kita memperlakukan mereka sebagaimana rasul memperlakukan orang Yahudi di Madinah. Harta dan Nyawa mereka harus dijaga selama mereka mau tunduk sebagai Ahlu Dzimmah kepada Daulah Islam. Namun jika melakukan pengkhianatan, maka dengan tanpa rasa segan, mereka harus diusir dari wilayah Khilafah. Bahkan pada kondisi tertentu, mereka harus dibunuh, kecuali wanita dan anak-anak. Sudah menjadi tabiat Yahudi untuk menyesatkan ummat islam, baik langsung ataupun tidak.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah: 120)
Shadaqa Allah al ‘Adziim, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Allahu ta'ala a'lam.[selesai]

Kritik dan Saran: 0856-5113-0608
Email: tohir1924@yahoo.co.id
WA: 0896-1198-8349
Pin BBM: 5168A4AB

Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 00.52
Kategori:

0 komentar :

Posting Komentar

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus