15 Mei 2014

Mengenal Yahudi dan Zionisme, Serta Perannya dalam Meruntuhkan Khilafah [Bagian 1]

OlehMuhammad Tohir

Pengantar

Keruntuhan Khilafah Islamiyah pada tahun 1342 H (1924 M) tidak hanya menjadi musibah terbesar bagi umat Islam. peristiwa itu juga menyebabkan perubahan besar pada tata politik internasional.  Sejak saat itu, kaum Muslim praktis tidak lagi memiliki pengaruh pada relasi politik internasional.   Bahkan  pada level tertentu, umat Islam hanya menjadi obyek permainan dan persekongkolan busuk negara-negara imperialis Barat. Harta mereka dijarah. Kehormatan mereka dilecehkan. Darah mereka ditumpahkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim tanpa ada perlawanan berarti.

Diantara sekian banyak problem yang dihadapi kaum muslimin hingga saat ini adalah persoalan Palestina dan Israel. Sebagaimana telah diketahui, Israel adalah Der Judenstaat (Jewish State, Negara Yahudi), yang terbentuk atas “perjuangan” orang-orang Yahudi dalam organisasi Zionisme. Namun pertanyaannya, apa sebenarnya Zionisme itu? Benarkah Zionisme merupakan ajaran dalam agama Yahudi? Bagaimana Islam menyikapi Yahudi dan Zionisme? Semoga makalah ini bias menjawabnya!

Yahudi dan Sejarahnya

Yahudi, -juga kristen dan Islam—  biasa disebut agama-agama Ibrahimi (Abrahamic Religions), karena pokok-pokok ajarannya bernenek moyang kepada ajaran nabi Ibrahim (sekitar abad 18 SM), yaitu agama yang menekankan keselamatan melalui iman, menekankan keterkaitan atau konsekuensi langsung antara iman dan perbuatan nyata manusia. (Wikipedia, diakses 11/05/2014)

Nabi Ibrahim mendapatkan putra Isma’il As dari isteri keduanya Hajar, yang kemudian dibawa oleh Ibrahim ke Mekah. Sementara dari Sarah –isteri pertama—, Ibrahim mendapatkan Ishaq pada usianya yang menginjak 100 tahun setelah 14 tahun kelahiran Ismail. Kemudian Ishaq menikah dengan Rifqo binti Batwail di usia 40 tahun dan Ibrahim pada saat itu masih hidup. Dari Batwail ini, beliau mendapatkan anak kembar yang bernama ‘Aishu dan Ya’qub.

Allah memberikan kepada Ya’qub 12 orang anak, yaitu: Ruwaibil, Syam’un, Luwa, Yahudza, Isakhar, Zailun, Yusuf, Benyamin, Dan, Naftli, Had dan Asyir. (Eramuslim, diakses 12/05/2014). Dari garis keturunan Yahuda (Yahudza) bin Ya`qub inilah Yahudi itu dinisbatkan, dari garis ini pula lahir Dawud as. dan Sulaiman as. yang merupakan simbol kebesaran bangsa Yahudi sepanjang masa. (Asep Sobari, Sejarah Yahudi di Madinah).
·          

  • Yahudi dan Bani Isra’il

Isra’il adalah nama lain dari Nabi Ya’qub bin Ishaq As. Keturunan beliau inilah cikal bakal bangsa yang sering diceritakan dalam Al Qur’an, Bani Isra’il. Antara Bani Isra’il dan Yahudi itu sangat berbeda. Bani Israil itu bangsa keturunan Ya’qub, sedangkan Yahudi adalah agama. Yahudi ada setelah diutusnya Nabi Musa As, sedangkan Bani Ya’qub As ada sejak masa sebelumnya. Bani Israil adalah bangsa yang banyak diutus Nabi dan Rasul kepada mereka. Hadits nabi mengatakan:

“Dahulu Bani Israil diurus oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi telah wafat, maka digantikan oleh Nabi yang lain. Bahwa, tidak akan ada seorang Nabi pun setelahku, dan akan ada para khalifah. Jumlah mereka pun banyak.” (HR Bukhari)

Selain itu, nama Bani Israil digunakan hanya sampai diutusnya Nabi Muhammad. Al-Quran menyebut Yahudi kepada Bani Israil setelah diutusnya Nabi Muhammad dan setelah mereka kufur dan mengingkari kenabian beliau. Nama Yahudi disebutkan dalam ayat-ayat madani (yang turun setelah hijrah ke Madinah), diantaranya di surat Ali Imran ayat 67-68, Surah Al-Baqarah ayat 146,  dan di Surah At Taubah ayat 30, dan semuanya dengan konteks celaan atas mereka dan bukan pujian. (http://www.islampos.com, diakses 12/05/2014)

Beralihnya peristilahan Al-Quran dari Bani Israil kepada Yahudi ini memberikan kesimpulan bahwa kita harus membedakan antara Yahudi dan Bani Israel. Meski mereka mungkin masih ada keturunan Nabi Israil, namun mereka bukan pewarisnya karena mereka tidak mengikuti agama beliau.

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” (QS. Ali Imran: 84)

Menurut Ibn Hajar al-Asqalani (w.852H), diriwayatkan dari Ibn Zhafr, bahwa ayat 84 turun berkaitan dengan yahudi dan nashrani yang mengaku beriman. Berdasar ayat 84 yang termasuk beriman adalah yang benar-benar mengimani Allah dan kitabnya secara keseluruhan, seluruh rasul yang diutus tanpa membedakan satu sama lain. (Al-Asqalani, al-’Ijab Fi Bayan al-Asbab, II h.707). (http://saifuddinasm.com, diakses 12/05/2014)

  • ·         Yahudi di Masa Rasulullah SAW

Hubungan dakwah Rasulullah saw. dengan Yahudi Madinah terjalin sejak dini. Riwayat. Bukhari dan Ibn Ishaq mengisyaratkan kedatangan Abdullah bin Salam, seorang ulama Yahudi Bani Qainuqa`, dan keputusannya memeluk Islam terjadi hanya beberapa saat setelah beliau menetap di Madinah. Peristiwa ini pula yang memicu undangan Rasulullah saw. kepada masyarakat Yahudi untuk mengajak mereka memeluk Islam dan menjadikan Abdullah bin Salam sebagai bukti pembenarannya. (al Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah)
Pasca nabi Hijrah ke Madinah, dan menerima kekuasaan dari dua suka paling dominan –Aus dan Khazraj—, maka Negara harus mengatur hubungan kaum muslimin dan selain mereka. Hal ini dikarenakan latar belakang masyarakat Madinah yang sangat majemuk, terdiri dari beberapa etnik Arab dan Yahudi mendesak adanya peraturan umum yang mengatur kehidupan bersama dengan baik. Disinilah letak pentingnya Piagam Madinah yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan kaedah dan prinsip Islam. Hal ini juga membuktikan, ajaran Islam dapat mengatur kepentingan bersama masyarakat muslim dan non muslim, tanpa harus menghilangkan karakter khas masingmasing,terutama agama.

Al Mubarakhfuri merangkum beberapa bagian pasal Piagam Madinah yang mengatur hubungan masyarakat Muslim dengan Yahudi seperti berikut:

  1. Yahudi Bani `Auf merupakan satu komunitas bersama masyarakat Mu’min.  Orang-orang Yahudi berhak menjalankan agama mereka dan orangorang muslim berhak menjalankan agama mereka…begitu juga klanklan Yahudi lainnya diluar Bani `Auf. 
  2. Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya hidupnya sendiri dan orangorang muslim juga harus menanggung biaya hidupnya sendiri. 
  3. Masyarakat Yahudi dan Muslim harus saling bahu membahu melawan musuh yang menyerang pihak yang menandatangani Piagam ini. 
  4. Mereka juga harus saling memberi saran dan nasihat dalam kebaikan, tapi tidak demikian dalam kejahatan. 
  5. Siapa pun yang dizalami maka wajib ditolong. 
  6. Masyarakat Yahudi dan Mu’min harus bersatu padu ketika diserang musuh. 
  7. Jika terjadi perselisihan atau pertikaian antara pihakpihak yang menyepakati Piagam ini, sehingga khawatir akan merusak hubungan, maka keputusannya harus dikembalikan kepada hukum Allah `azza wa jalla dan Muhammad, utusan Allah saw. 
  8. Siapa pun tidak boleh memberi suaka (perlindungan) kepada Quraisy dan Pendukungnya. (Al Mubarakhfuri)

Sayangnya, Orang-orang Yahudi di Madinah malah berkhianat, bahkan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW. Pengkhianatan pertama Yahudi dilakukan oleh Klan Qainuqa’. Pada mulanya mereka hanya melakukan perlawan verbal, maka nabi hanya melihatnya sebagai indicator pengkhiatan, namun setelah terjadi kasus pelecehan wanita muslim di pasar Bani Qainuqa` yang disusul dengan pembunuhan lelaki muslim yang membelanya, Rasulullah saw. mengepung Bani Qainuqa` lalu mengusir mereka dari Madinah.

Kemudian pengkhianatan dilakukan oleh Bani Nadhir, klan yang paling kuat saat itu. Diawali dengan memberi perlindungan kepada Abu Sufyan saat melakukan oprasi militer (Perang Sawiq) ke Madinah.  Pelanggaran terhadap salah satu pasal Piagam Madinah tersebut disusul dengan pelanggaran lain. Bani Nadhir tidak bersedia menanggung biaya diyat (denda pembunuhan) yang seharusnya dipikul bersama. Bahkan lebih jauh lagi, mereka menyusun rencana pembunuhan Nabi saw. Rencana busuk itupun terbongkar, sehingga Rasulullah saw. segera mengumumkanultimatum pengusiran Bani Nadhir dari Madinah. Akhirnya mereka meninggalkan Madinah setelah dikepung selama 15 hari.

Bani Quraizhah dalam perang Ahzab. Mereka menjadi pendukung logistic bagi kafir Quraisy, dan menggerogoti Madinah dari dalam. Akhirnya setelah berhasil keluar sebagai pemenang dalam perang Ahzab, Rasulullah saw. menghukum Bani Quraizhah sebagai pengkhianat perang, semua laki-laki yang terlibat perang dipancung, anak-anak dan wanita ditawan, dan harta benda mereka dirampas

Tersisa satu kekuatan Yahudi, yakni Kampung Khaibar. Maka, setelah nabi melakukan gencatan senjata dengan kafir Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah, maka Rasulullah saw. langsung melancarkan serangan  besar-besaran ke Khaibar dan menang. Masyarakat Yahudi Khaibar yang kebanyakannya petani tidak diusir dari daerah tersebut, melainkan diizinkan tinggal untuk mengelola kebun-kebun Khaibar dan berbagi hasil dengan para pemilik barunya, kaum muslimin. (Asep Sobari, Jejak Yahudi di Madinah).

  • ·         Yahudi di Barat pada Masa Pertengahan

Sejak lama di berbagai negara Eropa, bangsa Yahudi mengalami diskriminasi. Penolakan mereka untuk beralih menjadi Kristen menyebabkan mereka dipencilkan dan tidak diterima sebagai warganegara. Mereka dipandang sebagai bangsa ingkar yang sudah dibuang Tuhan, dan dicerca sebagai pembunuh Yesus. Penolakan mereka untuk memuliakan raja menyebabkan patriotisme mereka diragukan. Sedangkan Eropa, hampir separuhnya menganut sistem monarki. Tidak heran kalau mereka dilarang memiliki tanah dan banyak pekerjaan tertutup bagi mereka.

Di abad pertengahan, orang Yahudi hanya boleh tinggal di bagian-bagian khusus kota yang disebut ghetto, perkampungan yang dikelilingi tembok dan gerbangnya dikunci pada malam hari. Penghuni ghetto dilarang keluar pada hari-hari tertentu, misalnya pada hari wafat Isa Almasih.

Kebencian yang tertanam ini sewaktu-waktu meledak menjadi kerusuhan luas berupa penjarahan dan pembantaian. Pada masa Perang Salib pertama tahun 1096, bangsa Yahudi mengalami pembantaian besar-besaran di Lembah Rhein. Pada akhir abad ke-13 orang Yahudi diusir secara besar-besaran dari Inggris,dan pada akhir abad ke-14 dari Prancis. Tahun 1492 pengusiran terbesar terjadi di Spanyol. Kepada orang Yahudi diberi dua pilihan, beralih memeluk agama Kristen atau angkat kaki. Hampir 150 ribu orang meninggalkan Spanyol, pindah ke negara-negara Islam di sekitar Laut Tengah. Yang tinggal mengalami penindasan karena ternyata hanya berpura-pura memeluk agama Kristen. Banyak diantara mereka yang dihukum bakar.

Rentetan sejarah penindasan bahkan genosida terhadap Yahudi eropa ini konon menyebabkan jutaan orang Yahudi meregang nyawa, terutama saat Hitler dan Nazi berkuasa di beberapa wilayah pendudukan. Pembunuhan massal, secara sistemik dilakukan kepada orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi dan kerja paksa. Sejarah ini dikenal dengan istilah Holacoust (Genocide; pemusnahan suatu kelompok bangsa secara teratur). Bahkan Stephane Downing memperkirakan jumlah kematian orang Yahudi dalam rentetan peristiwa Holacoust mencapai 6 juta orang. (Stephane Downing, Holacoust: Fakta atau Fiksi?). Tentu saja, bukan berarti data-data pembunuhan seputar Holacoust yang diungkap ini tanpa perdebatan. [baca bagian kedua di sini]

Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 00.46
Kategori:

0 komentar :

Posting Komentar

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus