11 November 2012

Domba yang Tersesat

sumber: google
Jika anda pernah menonton Discovery Channel, Animal Planet, atau program TV yang menggambarkan kehidupan binatang, terutama pemangsa berkaki empat seperti Harimau, Singa, Serigala, Hyna, Macan Tutul, dan yang lain, kita bisa mengetahui bahwa ketika sedang berburu mangsa, mereka menggunakan trik yang sangat cerdas -dalam ukuran mereka sebagai binatang tak berakal.
Hewan-hewan yang dalam rantai makanan berada di bawah pemangsa itu antara lain adalah Bison, Rusa, Domba, dsb. Kesemuanya adalah binatang yang hidup berkoloni. Di sinilah kecerdasan para pemangsa itu. Mereka kadang berburu dengan "berjemaah", kadang juga sendiri. Namun yang jelas, saat mereka melakukan pemburuan, mereka tidak langsung menerkam mangsa yang berada di dalam gerombolan.
Diantara sebab mereka tidak berani "to the point" adalah perlawanan yang akan dilakukan oleh gerombolan mangsa itu, terutama oleh pemimpin kelompok, dan akhirnya juga diikuti anggota kelompok yang lain. Meski secara fisik mereka kalah dari pemangsanya, namun jika main keroyokan, itu membuat pemangsa harus mikir ulang. Selain perlawan, pergerakan target dalam jumlah banyak dalam satu kelompok akan membingungkan pemangsa, sehingga resiko gagal mendapatkan mangsa jauh lebih besar dibandingkan peluang berhasilnya.
Namun, seperti yag telah saya utarakan, para pemangsa ini adalah binatang cerdas. Mereka tahu masalahnya, dan mereka juga tahu solusinya. Yakni, mengeluarkan salah satu dari anggota kelompok mangsa dari koloninya. Akhirnya, pemangsa melakukan aksi "menakut-nakuti", tidak menyerang koloni, tapi membayangi. Ini terus dilakukan dengan gerakan intimidasi yang agresif. Tujuan utamanya adalah membuat gerombolan mangsa menjadi panik. Di saat panik itulah ada satu atau lebih anggota koloni yang tidak sadar keluar dari koloninya.
Keberhasilan pemangsa mengeluarkan salah satu anggota koloni adalah 50% dari suksesnya perburuan. Karena yang terpisah tadi tak memiliki pelindung lagi, dan kalaupun melakukan perlawanan tak akan mampu mengalahkan serangan dari para pemangsa yang diciptakan Allah dengan kelengkapan senjata mematikan.
Begitu juga kita. Sebagai manusia, Allah telah ceritakan kepada kita, bahwa kita memiliki musuh yang abadi. Musuh yang sangat nyata meski tak kasat mata. Dialah syaithan yang terkutuk. Penghuni pasti neraka jahannam. Dan telah menjadi janjinya kepada Allah untuk melakukan penyesatan kepada manusia, dari berbagai arah, tanpa kenal lelah. Ia ingin, manusia menemaninya dalam "menikmati" siksa neraka yang pedih.
Allah mengutus para Nabi dan Rasul, sejak Adam AS hingga Rasulullah SAW untuk memperingatkan manusia akan ancaman syaitan terhadap manusia. Siapa yang mengambil dan mengamalkan risalah yang dibawa para nabi dan Rasul maka keselamatan baginya, dan berbahagia karena ada surga yang menantinya. Sebaliknya, siapa saja yang tak mempedulikan perintah dan larangan Allah maka akan berakhir tragis dalam kehinaan dunia, dan mendapat siksa di nereka. (lihat QS. Faathir: 24)
Permusuhan antara manusia dan syaitan terus berlangsung hingga kini. Hingga kelak Sangkala ditiup. Di zaman ini, dengan kondisi hukum jahiliyyah mengangkangi manusia, syaitan seolah-olah menjadi lebih powerfull. Mereka dengan mudah menggelincirkan manusia dalam kubangan kemaksiyatan. Mereka membuat manusia lupa bahwa hidup pada hakikatnya adalah menanti giliran mati. Keadaan seperti ini membuat manusia merasa bebas menuruti hawa nafsunya. Hanya keimanan yang kokohlah yang mampu membuat manusia tetap berdiri tegak, memegang teguh tali ketaatan.
Memahami realitas ini, akhirnya dari satu atau beberapa orang yang pemikirannya tercerahkan membentuk kelompok dakwah. Lahirlah banyak gerakan dakwah. Gerakan dakwah tersebut kemudian melakukan rekrutmen, menarik manusia untuk masuk ke dalamnya. Di dalam gerakan dakwah tersebut manusia yang masuk dibina, diarahkan, dijaga dan digerakan untuk ikut bersama memperjuangkan tegaknya KalimatuLlah di muka bumi.
Kebersamaan dalam kelompok dakwah membuat manusia laksana domba yang berada dalam koloninya. Anggotanya saling menasihati, mengingatkan, dan saling menegur saat salah satu diantara mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ketetapan Allah SWT. Mereka juga saling menjaga dan menguatkan agar tetap istiqomah dan sabar dalam perjuangan.
Jika kita menjadi domba, maka syaitan ibarat Srigala yang selalu mengintai kita. Dia tahu, jika kita berada dalam jemaah dakwah, apalagi yang sangat tegas dalam menjaga anggotanya dari pelanggaran syara', akan menyulitkannya menyesatkan manusia. Maka ia akan berusaha mengeluarkan manusia dari kelompok dakwah itu.
Berbagai cara dilakukan syaitan. Mulai dari "nasihat" bahwa dakwah membuat kita sulit menyelesaikan masalah pribadi, dakwah menyulitkan mendapat rizki, sulit mendapat jodoh, jangan mau terikat dengan jemaah, dan segudang keraguan yang ditanamkan ke dalam dada. Termasuk juga diantara strategi syaitan adalah meninggikan baqa' anggota jemaah dakwah. Dalam urusan yang mubah, dia akan bersikeras dengan pendapatnya. Hingga saat jemaah menetapkan keputusan, dan itu bukan pendapatnya, lahirlah kebencian terhadap jemaah.
Ending dari usaha-usaha tersebut adalah keluarnya anggota dari jemaah dakwah. Dia kini menyendiri dalam pergerakannya. Dia tak terikat dengan idari apapun. Tak ada yang punya wewenang menegurnya. Dia tak lagi mendapatkan amanah dari jemaah, merasa bebas.
Pada tahap awal, beberapa waktu sejak keluar, ia masih bertahan dalam idealisme. Memegang ideologi perlawanan dan pembebasan. Dengan caranya sendiri, yang juga dilakukan secara mandiri, dia melakukan pergerakan. Lantang bersuara dalam kesendirian, melakukan propaganda dan aksi dengan berbagai cara yang dianggap sakti.
Hal ini terus berlangsung hingga titik dimana ia mulai menemui tembok besar bernama bosan. Ada batu besar dihadapannya yang terpahat kata "lelah". Akhirnya, dia lunglai dan layu. Dia ingin bersuara, dia ingin bercerita, tapi dia sendiri. Sepi. Tidak ada pilihan kecuali diam, meski ideologi masih tertanam.
Keadaan ini terus belanjut, sampai dia berhadapan dengan aliran sungai kehidupan. Dia melihatnya sebagai sesuatu yang menyegarkan. Dia memilih terjun ke dalam air itu, dan karena tak ingin lelah melawan arus, maka diputuskanlah untuk mengikuti kemana air mengalir. Ideologi mulai luntur. Idealisme tak lagi kokoh. Di tahap inilah, dia memberanikan diri melanggar ideologinya, syariah dilupakan, kajian-kajian dalam pembinaan tak lagi berbekas, kecuali sedikit sekali.
Satu per satu pelanggaran syara' dilakukan. Mulai dari terbiasa melihat aurat, bergerombol bersama dalam komunitas ikhtilat, hingga melakukan aktivitas pacaran yang merupakan perbuatan hitam dalam kamus kehidupannya saat berjemaah dulu. Kasian, orang semacam inilah domba yang tersesat. Makanan empuk srigala penyesat bermana syaitan.
Meski tak semua berakhir tragis seperti dalam tulisan ini, namun peluang kejadian seperti ini lebih besar. Maka, untuk saudaraku yang sedang berjuang, tetaplah berbaris dalam komando gerakan dakwah, dimanapun, tetaplah bertahan. Memohonlah kepada Allah agar tetap diteguhkan keimanan, mintalah keistiqamahan, dan jangan lupa berdoalah untuk diri dan orang lain agar tetap sabar menghadapi ujian kehidupan. Semoga Allah menjadikan kita mati syahid dalam perjuangan.Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin!

code: #2note@11.24-12112012

Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 19.59
Kategori:

0 komentar :

Posting Komentar

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus