25 Juli 2012

Hukum Khilafah dan Berbilangnya Jumlah Imam (Ta’addudul A’immah) Menurut Syamsuddiin Adz Dzahabi

Al Imam Syamsud Din Adz Dzahabi[1] menulis dalam kutaibnya, Al-Muqoddimatuz Zahro fii Idhohil Imamatil Kubro (المقدمة الزهرا في إيضاح الإمامة الكبرى) :

اتفق أهل السنة والمعتزلة والمرجئة والخوارج والشيعة على وجوب الإمامة وأن الأمة فرض عليها الانقياد إلى إمام عدل، حاشا النجدية من الخوارج فقالوا لا تلزم الإمامة وإنما على الناس أن يتعاطوا الحق فيما بينهم، وهذا قول ساقط.

Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Khowarij dan Syi’ah telah menyepakati kewajiban Imamah serta (menyepakati) bahwa wajib bagi umat untuk tunduk kepada seorang imam yang adil, kecuali kelompok Najdiyah dari golongan Khowarij, mereka berkata: imamah tidaklah wajib, manusia hanyalah wajib menjalankan kebenaran (al haq) di tengah-tengah kehidupan mereka, dan ini merupakan pendapat yang rendah.

واتفق كل من ذكرنا على أنه لا يكون في وقت إلا إمام واحد، إلا محمد بن كَرّام وأبا الصباح السَّمَرقَندي وأصحابهما فإنهم أجازوا كون إمامين وأكثر في وقت واحد واحتجوا بقول الأنصار: “منا أمير ومنكم أمير” واحتجوا بأمر علي وابنه مع معاوية.

Semua kelompok yang kami sebutkan sebelumya sepakat bahwa hanya boleh ada satu imam dalam satu waktu, kecuali Muhammad bin Karrom dan Abu Shobbah As Samarqondi beserta pengikut mereka berdua, mereka membolehkan keberadaan dua imam atau lebih dalam satu waktu. Mereka berargumentasi dengan usul kaum Anshor: “Dari kalangan kami seorang amir dan dari kalangan kalian seorang amir (pula)”. Mereka juga berdalih dengan kepemimpinan Ali dan putranya yang bersamaan dengan kepemimpinan Mu’awiyah.

قلنا: قال عليه الصلاة والسلام: «إذا بويع أحد الخليفتين فاقتلوا الآخِر منهما»

Kami menyatakan: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila dibai’at dua orang kholifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya”

قال تعالى: {ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا}. فحرّم التفرق. ولو جوزنا إمامين لجاز الثالث، والرابع، بل في كل مدينة ٍإمامٌ أو قريةٍ، وفي ذلك فساد عريض وهلاك.

Allah Ta’ala berfirman (artinya): “janganlah kalian berlaku seperti orang-orang yang berpecahbelah dan saling berselisih”. Dengan demikian (Allah) mengharamkan tafarruq (ketidaksatuan). Seandainya keberadaan dua imam itu boleh niscaya tiga dan empat pun juga boleh, bahkan (akan dibolehkan juga) adanya imam bagi setiap kota atau negeri, padahal dalam hal yang demikian itu terdapat kerusakan yang terbuka lebar serta kehancuran.

ثم الأنصار رجعوا عن قولهم وأطاعوا. وأما علي رضي الله عنه والحسن فإن النبي صلى الله عليه وسلم أنذر بخارجة تخرج بين طائفتين تقتلها أولى الطائفتين بالحق، وكان قاتل تلك الطائفة أمير المؤمنين علي رضي الله عنه. فهو صاحب الحق بلا شك. ولذلك أخبر عليه الصلاة والسلام بأن عماراتقتله الفئة الباغية. وكان علي السابق إلى الإمامة، فمن نازعه فمخطئ مأجور مجتهد.

Kemudian kaum Anshor meralat perkataan mereka dan mereka pun taat (kepada Abu Bakar -pent). Adapun mengenai kepemimpinan Ali ra dan Hasan (yang memimpin bersamaan dengan kepemimpinan Mu’awiyah –pent) maka dalam hal ini Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi sinyal terkait (adanya golongan yang benar) yang keluar dari dua golongan (yang sedang berperang -pent) “Golongan yang lebih utama dari kedua golongan tersebut akan memeranginya (golongan lain) dengan al-haq“, dan orang yang memerangi golongan itu adalah Amirul Mu’minin Ali ra, tak diragukan lagi bahwa beliau adalah yang berpihak kepada al-haq. Maka dari itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ‘Amar (bin Yasir –pent) akan dibunuh oleh kelompok pembangkang. Dan Ali lebih dahulu menduduki jabatan dalam imamah, maka pihak yang menentangnya adalah orang yang berbuat salah, mendapat balasan sebagai mujtahid (yang keliru).

ثم قول الأنصار: “منا أمير” فمرادهم منا والٍ فإذا مات فمنكم وال، وهكذا أبدا؛ لا على أن يكون إمامان في وقت.

Kemudian mengenai perkataan Anshor, “dari kami seorang amir” maka yang mereka maksud adalah dari kami seorang wali, jika dia mati, maka dari kalian seorang wali, itu berlaku selamanya, bukan dengan adanya dua imam dalam satu waktu.

وأما معاوية وعلي فما سلّم أحدهما للآخر قط، وكذلك أمير المؤمنين الحسن رضي الله عنه، إلى أن سلمها إلى معاوية.

Adapun terkait kepemimpinan Mu’awiyah dan Ali (yang bersamaan –pent) maka masing-masing dari mereka tidak pernah tidak ridho terhadap (kepemimpinan) yang lain, begitu pula dengan Amirul Mu’minin, Hasan ra, hingga beliau menyerahkan imamah kepada Mu’awiyah.

Download kitab (klik kanan lalu save link as): Syamilah  atau PDF

[1] Abu Abdullah, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qoimaz At Turkmani Ad Dimasyqi (673 – 478 H). Salah satu murid Ibnu Taimiyah. Seorang Muqri’, Imam, hafidz (penghafal hadits), ahli hadits di zamannya, penutup para huffadz dan ahli sejarah Islam. Di antara karya beliau yang dibaca samoai sekarang adalah: Tarikhul Islam, Siyar A’lamin Nubala’, Thobaqotul Huffadz, Thobaqotul Qurro’, Mukhtashor Tahdzibil Kamal, At Tajrid fi Asma’ish Shohabah, Mizanul I’tidal, Talkhishul Mustadrok, dll.

Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 08.35
Kategori:

0 komentar :

Posting Komentar

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus