19 Juli 2009

Isra' Mi'raj meminta kita Bersatu

Siapa sih yang tidak tahu dengan istilah Isra’ Mi’raj? (Kalo dia orang islam). Peristiwa bersejarah yang menjadi salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW itu telah Allah ceritakan kepada kita di dalam kitab-Nya yang mulia, Al-Qur’an. Firman-Nya:
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Isra':1)
Dalam perjalanan ini, salah satu tempat yang menjadi tempat persinggahan Nabi adalah Masjidil Aqsha. Sebuah masjid yang berada di Palestina. Masjid ini merupakan masjid yang dimuliakan oleh ummat islam, dari dulu hingga sekarang.


Tapi sayang, kemuliaannya sering dinodai oleh kebiadaban Zionis-Israel, bangsa kera Yahudi laknatullah ‘alaihim.Masih segar dalam ingatan kita, betapa keji dan biadabnya pasukan Israel membantai lebih dari 1300 jiwa kaum muslimin, yang diantaranya adalah anak-anak dan wanita. Kejadian itu hanyalah satu dari sekian banyak rangkaian “ritual setan” yang telah dan akan mereka lakukan kepada ummat islam Palestina sejak berdiri tahun 1948.
 Palestina merupakan tanah kaum muslimin yang dikuasai pada masa Umar bin Khattab. Menurut Ibnu 'Asâkir di dalam al-Mustaqshâ fi Fadhâil al-Masjid al-Aqshâ, setelah menaklukkan Damsyiq beliau kemudian mengarahkan pasukannya yang dipimpin oleh Abu Ubaidah ke daerah Iliyâ (Palestina) dan mengepung daerah tersebut selama beberapa hari hingga penduduk negeri tersebut meminta damai kepada kaum Muslimin dengan syarat Umar bin Khattab menjumpai mereka. Setelah meminta saran para sahabat, Umar pun datang dan membuat perjanjian dengan mereka yang dikenal dengan perjanjian 'Umariyah atau 'Iliyâ.
Bunyi teks perjanjian itu:

Bismillahirrahmanirrahim
Hamba Allah, Umar Amirul Mukminin dengan ini memberikan keamanan bagi warga Eliya. Aku telah memberikan mereka keamanan bagi diri-diri mereka, harta-harta mereka, gereja-gereja mereka serta keturunan mereka. Orang-orang sakit ataupun yang sehatnya berikut ajaran keyakinanya mendapatkan perlindungan. Gereja mereka jangan diambil atau dihancurkan. Mereka tidak boleh diusir tidak juga terhadap keturunanya mereka atau sedikitpun harta-harat mereka. Mereka jangan dipaksa keluar dari agamanya. Tidak boleh dianiaya. Tetapi tidak ada seorang yahudi pun yang boleh tinggal di kota Eliya ini. Warga Eliya diwajibkan membayar jizyah, sebagaimana diperlakukan kepada warga Madain. Mereka harus memisahkan diri dari Romawi dan dari para pencuri. Barang siapa yang keluar diantara mereka, maka ia akan aman, dirinya dan hartanya hingga sampai tempat perlindungan dirinya. Barang siapa yang tinggal (di Eliya) maka dia juga akan aman. Bagi dirinya sebagaimana bagi warga Eliya terkait kewajiban Jizyah. Siapa saja dari warga Eliya yang mau pergi bersama Romawi dan keluar dari perjanjian ini bersama keturunanya, maka ia aman atas dirinya, keturunanya hingga ia sampai ke tempat perlindunganya. Barang siapa yang sudah ada di sana sebelum peristiwa (pembunuhan ini), maka ia bebas. Jika mau tinggal maka baginya sebagaimana warga Eliya dari Jizyah atau ia mau pergi bersama Romawi (terserah dia) barang siapa yang kembali ke keluarganya maka tidak boleh diambil darinya sedikitpun, hingga ia memanen tanamanya.
Tulisan ini adalah perjanjian dengan Allah, RasulNya, Para Khalifah Kaum Muslimin. Jika mereka memberikan apa yang diwajibkan bagi mereka berupa Jizyah. Hal ini disaksikan oleh Kholid bin Walid, Amer bin Ash, Abdurrahman bin Auf dan Muawiyah bin Sufyan. Di tulis dan disaksikan pada tahun 15 H.

Perhatikan kalimat yang berhuruf tebal. “tidak ada seorang yahudi pun yang boleh tinggal di kota Eliya ini!”

Belum lagi kisah Panglima Salahudin Al-Ayyubi yang dengan gigih tanpa mengenal kata menyerah, berjihad demi bebasnya Palestina dari dudukan kaum Salib. Pun ketika khalifah terakhir, Sultan Abdul Hamid II dibujuk oleh utusan Yahudi untuk membiarkan bangsa kera itu bermukim di tanah Palestina, beliau tetap menolak.
Semua cerita ini tertulis dengan jelas dalam lembaran-lembaran sejarah kaum muslimin. Semua itu menunjukan betapa mulianya tanah Palestina yang wajib kita bebaskan.

Bersatulah, Bebaskan Palestina!

Sejarah-sejarah indah di atas bukanlah (hanya) untuk dikenang. Bernostalgia dengan masa lalu. Mengagumi para pendahulu kita. Tapi hendaklah sejarah itu kita jadikan sebagai pelecut semangat kita untuk mengambil bagian dalam perjuangan pembebasan ini.
Tidak ada cara lain selain dengan mengirimkan tentara kaum muslimin untuk menghancurkan Israel dan mengusirnya dari “tanah yang dijanjikan” itu. Akan tetapi, hal ini tidaklah mungkin bias dilakukan jika disaat yang sama kita masih terkungkung dalam penjara Nasionalisme.
Simaklah pernyataan SBY dulu ketika Israel menggempur Palestina, “hal ini (penyerangan itu. pen) sebetulnya tidak terkait langsung konflik antaragama. Ini adalah konflik kedaulatan. Sebuah permusuhan yang relatif permanen. Jadi, sebetulnya, lebih bagus jangan dikaitkan dengan isu agama.” (http://www.inilah.com)
SBY seolah berkata, “udahlah! Masalah palestina bukan masalah ummat Islam. Itu adalah masalah politik, urusan Negara Palestina. Bukan urusan Indonesia.”
Putarlah rekaman memori kita saat Mesir, yang merupakan “kota santri”nya dunia dan tetangga dekat Palestina tapi enggan untuk membukakan jalur perbatasan. Walau hanya untuk menyalurkan makanan dan obat-obatan.
Itulah Nasionalisme. Penjara yang membiarkan saudara seaqidah dibantai oleh musuh. Kubangan Lumpur yang mengotori otak ummat.
Wahai kaum penguasa…
Lepaskan tali-tali Nasionalisme yang menjerat hati, pikiran, dan tindakan kata. Berpeganglah kepada tali Allah, Aqidah Islam.
Wahai para ulama…
Serukanlah kepada kaum muslimin untuk bersatu. Jangan biarkan pembantaian dan penghinaan terhadap kau muslimin terus terjadi. Hentikan kaum kuffar, hentikan Zionis, hentikan musuh-musuh kita. Jangan biarkan darah-darah kaum muslimin menetes ke tanah karena ulah mereka. Bukankah Nabi tela menyatakan, “Darah kaum muslimin itu lebih berharga dari ka’bah dan sekitarnya!”
Wahai para pemuda…
Bersatulah! Sesungguhnya kalian adalah generasi yang diharapkan oleh kaum muslimin dunia. Kalianlah yang diharapkan dapat membebaskan mereka dari musuh-musuh kita. Mereka saat ini sedang menunggu kalian di depan pintu-pintu rumah mereka sambil berkata, “wahai pemuda kaum muslimin, datanglah kepada kami. Bebaskan kami, kalianlah harapan kami!”. Apakah kalian tidak ingin memenuhi panggilan mereka?
Wahai kaum muslimin…
Sungguh Isra’ Mi’raj’ telah berseru: “Sudah saatnya kita bersatu dibawah kalimat “LA ILAHA ILLALLAH”. Di bawah naungan daulah yang dijanjikan, yang berada di atas manhaj kenabian, Daulah Khilafah Rasyidah!”
Jawablah seruan itu wahai kaum muslimin. Bersatulah…!
ALLAHU AKBAR!!!


Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 00.21
Kategori:

0 komentar :

Posting Komentar

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus