13 September 2011

5 Syarat Bolehnya Maksiyat



Seseorang menemui Ibrohim bin Adham lalu berkata, “Wahai Abu Ishaq, sungguh aku orang yang berlebihan pada diriku dalam melakukan ma’shiyat. Maka sampaikanlah padaku sesuatu yang dapat membuatku jera dan menyelamatkanku.” Ibrohim bin Adham... menjawab, “Kalau kamu terima 5 perkara, dan kamu mampu melakukannya, maka tidak mengapa berbuat ma’shiyat dan kepuasanmu tak akan membinasakanmu.”
Lalu orang tadi berkata, “Coba sampaikanlah padaku.”
Ibrohim bin Adham menjawab, “Adapun yang pertama, jika kamu mau berma’shiyat pada ALLAH سبحانه وتعالى, maka janganlah kamu memakan rizqy yang berasal dari-Nya.”

Orang itu berkata, “Darimana saya makan? Bukankah segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah rizqy dari ALLAH سبحانه وتعالى?”
Kata Ibrohim bin Adham, “Yaa Fulan, pantaskah kamu memakan rizqy dari-Nya, lalu kamu berma’shiyat pada-Nya?” * Orang itu berkata lagi, “Sampaikanlah yang kedua.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Jika kamu akan berma’shiyat, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”
Orang itu berkata, “Ini lebih sulit dari yang pertama. Kalau seandainya Timur dan Barat dan antara keduanya merupakan milik ALLAH سبحانه وتعالى, maka dimana aku akan tinggal?”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, pantaskah kamu makan rizqy dari-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, lalu kamu berma’shiyat pada-Nya?”
Orang itu berkata lagi, “Sampaikan yang ketiga.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Jika engkau akan berma’shiyat, sedangkan engkau menikmati rizqy-Nya, tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang Allooh سبحانه وتعالى tidak melihatmu, maka ...lakukanlah ma’shiyat disitu.”
Orang itu berkata, “Yaa Ibrohim, apa ini? ALLAH سبحانه وتعالى itu Maha Mengetahui yang tersembunyi dan apa yang kusembunyikan.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, pantaskah, kamu makan dari rizqy-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, kamu berma’shiyat dan ALLAH سبحانه وتعالى melihatmu dan mengetahui perbuatanmu?”
Orang itu berkata lagi, “Tidak. Berikan padaku yang keempat.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Jika datang padamu malakul maut untuk mencabut nyawamu, maka katakan padanya, 'Tangguhkan aku hingga aku bertaubat nasuuha dan beramal shoolih untuk ALLAH سبحانه وتعالى'.”
Orang itu berkata, “Tidak mungkin ia menerima permintaan itu dariku.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, jika kamu tidak mampu menolak kematian untuk bertaubat dan kamu tahu jika dia datang padamu tidak mungkin menangguhkan ajalmu, maka bagaimana kamu berharap untuk menghindar?”
Orang itu berkata, “Berikan yang kelima.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Jika datang padamu malaikat Zabaaniyah pada hari Kiamat untuk menyeretmu ke neraka, maka jangan engkau ikuti dia.”
Orang itu berkata, “Malaikat itu tidak akan mungk...in membiarkanku dan menerima permintaanku.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Bagaimana kamu berharap selamat kalaulah demikian?”
Maka orang itu berkata, “Wahai Ibrohim, cukup… cukup.. Aku memohon ampunan ALLAH سبحانه وتعالى. Aku bertaubat pada-Nya. Senantiasa beribadah dan berbuat baik pada ALLAH سبحانه وتعالى, sehingga berpisah dari dunia ini.”
(Dinukil dari Kitab “Ma'a Allooh” karya Muhammad Al Ghozaly
sumber: Klik disini

Print Friendly and PDF

Ditulis Oleh : Muhammad Tohir // 08.57
Kategori:

1 komentar :

Ikhwah fillah, mohon dalam memberikan komentar menyertakan nama dan alamat blog (jika ada). Jazakumullah khairan katsir

 
Semua materi di Blog Catatan Seorang Hamba sangat dianjurkan untuk dicopy, dan disebarkan demi kemaslahatan ummat. Dan sangat disarankan untuk mencantumkan link ke Blog Catatan Seorang Hamba ini sebagai sumber. Untuk pembaca yang ingin melakukan kontak bisa menghubungi di HP: 085651103608.
Jazakumullah khairan katsir.

Followers

Komentar Terbaru

Recent Comments

Powered by Disqus